Tips Kunci Tobat Untuk Para Mantan Koruptor
Tips Kunci Tobat Untuk Para Mantan Koruptor

Tips Kunci Tobat Untuk Para Mantan Koruptor

وَكُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

{” Setiap daging yang tumbuh dari (suatu) barang haram, maka neraka lebih berhak terhadapnya “} (HR at-Thabarani).

***

MutiaraPublic.com – Saudaraku, Hadist serta nasehat di atas ini, menunjukkan betapa sangat berat konsekuensi dari makanan haram. Karena, darah, daging, atau tenaga yang berasal dari makanan haram tersebut, secara otomatis akan memiliki kecenderungan yang kuat untuk digunakan dalam melakukan barang haram.

Manusia, secara psikis dan fisik, sangatlah dipengaruhi oleh apa yang mereka makan. Jika makanan tersebut halal, maka niscaya hal itu akan menjadi pendorong yang sangat kuat bagi mereka dalam memegang teguh perilaku halal. Namun, Jika yang mereka makan itu haram, maka niscaya kekuatan imannya pun akan runtuh, serta mereka menganggap perilaku haram sebagai suatu yang wajar serta lumrah. Oleh karena itu, merupakan suatu yang amat rasional jika disebut bahwa daging yang tumbuh kembang dari makanan haram, lebih patut dan layak berada di neraka kelak.

Lantas, apakah pintu syurga tersebut sudah terkunci bagi orang yang pernah memakan barang haram!? Tidak demikian. Saudaraku, Tidak ada dosa apapun yang dapat menyebabkan suatu pintu harapan tertutup rapat. Artinya Sebesar apapun dosa tersebut, yang dilakukan oleh manusia, sejatinya pintu harapan masih terbuka/ terhampar luas, selama mereka (manusia) masih memiliki kesempatan untuk melakukan tobat pada Allah SWT.. Justru, dengan sikap manusia yang hilang dan putus harapan, merupakan suatu hal yang dikutuk oleh Allah SWT.. Manusia wajib memiliki harapan untuk mendapatkan ampunan Allah SWT., karena jika mereka sudah hilang harapan, maka mereka tidak akan berusaha/ bersungguh-sungguh untuk menghilangkan dosanya tersebut dengan cara bertobat.

Sebagaimana telah di sebutkan oleh para Ulama, bahwa pertobatan hampir pasti bisa diterima jika memenuhi seluruh syaratnya, begitu juga sebaliknnya tobat hampir bisa pasti ditolak, jika tidak memenuhi semua syarat-syaratnya.

Para Ulama merumuskan syarat-syarat tobat tersebut ke dalam 3 hal, antara lain sbb:

  1.  Berhenti dari perbuatan dosanya
  2. Menyesal dan
  3. Berkomitmen kuat untuk tidak lagi mengulanginya.

Jika dosanya itu terkait dengan hak sesama manusia, maka ada tambahan dalam syarat tersebut yaitu syarat keempat, adalah istihlâl, istihlâl adalah mendapatkan maaf serta kerelaan dari si pemiliknya, dengan cara meminta maaf serta mengganti jika hal itu berupa harta benda.

Saudaraku, syarat yang keempat ini sebenarnya tidak terlalu sulit jika si pemilik tersebut hanyalah satu orang yang masih hidup dan kadar dari hak milik yang harus diganti itu masih terjangkau. Namun tetapi, akan menjadi suatu hal yang berbeda jika misalnya orang yang pernah ia ambil haknya itu sangatlah banyak, dan tidak jelas siapa saja orangnya, bahkan tidak jelas apakah mereka masih hidup atau sudah mati, serta jumlah harta yang diambil sangatlah banyak, atau pun bisa jadi semua harta yang dimilikinya itu berasal dari korupsi, mencuri, merampok, menipu, dan lain semacamnya.

Terkait dengan hal diatas tersebut, Imam al-Qurthubi dalam al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân dan Imam al-Ghazali dalam Ihyâ’ Ulûmiddîn telah memberikan penjelasan, yang intinya adalah sebagaimana berikut:

  • Pertama, orang yang keseluruhan hartanya itu berasal dari barang yang haram, maka untuk bertobat mereka harus melepaskan diri, dari seluruh hartanya tersebut, terkecuali pakaian/ minimal hanya sekadar menutup aurat disaat shalat serta minimal makanan yang mereka butuhkan pada hari itu. Imam al-Qurthubi mengucapkan, bahwa kadar inilah yang dapat/ boleh diambil dari hak milik orang lain, saat situasi dan kondisinya darurat.
  • Kedua, jika sebagian hartanya berasal dari barang haram, serts sebagiannya lagi merupakan harta yang halal, sementara keduanya itu sudah bercampur baur sampai tidak dapat lagi dibedakan, maka mereka harus melepas kadar dari harta yang haram itu sampai mereka yakin bahwa yang tersisa itu benar-benar halal. Kadar yang mereka ragukan perihal kehalalan juga harus dilepas. Jika suatu misal yang mereka yakini halal hanya bagian dari sepertiga, maka dua pertiga hartanya itu harus mereka lepaskan.
  • Ketiga, dengan cara melepaskan diri dari harta haram tersebut ialah harus mengembalikannya kepada para si pemilik atau para ahli warisnya, jika masih dapat/ bisa diidentifikasi. Jika tidak dapat/ bisa diidentifikasi atau contoh misal, si pemiliknya sangat banyak sehingga tidak mungkin mengembalikannya dengan satu persatu, maka solusinya yaitu dengan menyedekahkannya kepada fakir miskin, dengan niatan sebagai sedekah dari pemilik aslinya. Menurut Imam al-Qurthubi, harta tersebut juga dapat/ bisa ditasarufkan untuk kemaslahatan umat Islam.

 

 

Disadur dari : ponpes sidogiri (sidogiri.net)
Disusun : Didik Sugianto
Redaktur : Babur Rahmah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

وَكُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ {” Setiap daging yang tumbuh dari (suatu) barang haram, maka neraka lebih berhak terhadapnya “} (HR at-Thabarani). *** MutiaraPublic.com – Saudaraku, Hadist serta nasehat di atas ini, menunjukkan betapa sangat berat konsekuensi dari makanan haram. Karena, darah, daging, atau tenaga yang berasal dari makanan haram tersebut, secara …

Review Overview

0

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

IP Blocking Protection is enabled by IP Address Blocker from LionScripts.com.