Cara Mengatasi Rasa Resah, Sepi, Dan Frustasi ala Islam

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي ﴿٣٠﴾

Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku (Q.S. Al Fajr: 27-30).

MutiraPublic – Setiap manusia pasti mempunyai masalah, problem dalam hidupnya. Bahkan tidak hanya satu dua masalah, tapi banyak sekali problema tersebut datang silih berganti sepanjang perjalanan hidup ini. Ia akan memberikan warna serta arti kehidupan, meskipun dalam realitanya yang namanya masalah itu justru merupakan pengalaman hidup yang tidak menyenangkan dan kadang-kadang sangat menyakitkan hati yang bisa merupakan pukulan batin.

Bermacam-macam masalah bisa muncul, dari yang ringan dan rutin sampai yang berat, sebagaimana telah diberitakan di dalam surat Al-Baqarah 115. Dan pada umumnya perasaan dan jiwalah yang pertama-tama merasakan akibat dari masalah-masalah itu, yang kemudian mengakibatkan munculnya gejala-gejala kejiwaan, seperti tumbuhnya perasaan sepi, rasa resah dan frustasi sampai kepada bahaya stress. Karena itulah Rasulullah s.a.w. mengingatkan bahwa jiwa yang tenang “mutmainnah” merupakan kekayaan yang amat tinggi nilainya:

“Bukanlah dinamakan kaya orang yang banyak harta bendanya, tetapi yang dinamakan kaya ialah kaya jiwanya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Kehidupan dunia modern sekarang ini sudah dihadapkan pada satu problema kejiwaan yang di alami hampir sebagian besar masyarakat modern, yaitu dilanda keresahan rohani. Lihat saja kasus bunuh diri, sudah mengalami peningkatan yang luar biasa kejadiannya di negeri-negeri industri yang maju. Munculnya perasaan resah, sepi dan frustasi yang menanggapi kehidupan masyarakat modern sudah merupakan gejala umum dan terjadi sehari-hari. Hal ini membuktikan bahwa di tengah-tengah kesejahteraan materi yang semakin meningkat ternyata keresahan rohaniah dan ketidak tentraman hidup akan semakin menjadi-jadi.

Kini, hidup modern sudah berada pada corak materialistis  dan individulistis, yang hal ini tentu akan memudahkan setiap orang dapat merasakan adanya semacam kekosongan jiwa atau merasa sepi dalam hatinya. Hidup dirasakan sebagai hal yang membosankan mengisi hidup itu sendiri.

Gejala kesepian dan keresahan dapat datang kepada setiap orang tanpa pilih kasih. Apakah dia tua atau muda, laki-laki atu perempuan, kaya atau miskin, pejabat atau rakyat jelata, dan siapa saja. Rasa sepi merupakan gejala yang muncul pada semua manusia dalam segala zaman, sehinggga merupakan persoalan klasik dan alami. Bahkan semakin maju dan modernnya zaman rasa kesepian makin mencekam dan merenggut sebagian besar manusia modern.

Walaupun bebagai kemajuan telah dicapai dan dunia semakin marak dengan teknologi canggih, namun di tengah keramaian dan kelengkapan sarana tersebut, tetap saja manusia di-liliti rasa sepi, bahkan makin banyak yang menderitanya. Di sinilah akan terbukti pentingnya peranan agama bagi setiap orang, serta akan tampak keutamaan dan ketenangan hati orang yang taat beragama dan dekat kepada Tuhan. Allah s.w.t berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar Ra’d: 28).

Setiap orang dapat merasakan kesepian, entah dia sendirian atau di tengah-tengah kerumunan orang banyak. Kebanyakan orang yang kesepian, hati mereka merasa tersiksa dan hidupnya menjadi resah, gelisah yang kadang-kadang menjadi frustasi. Wajah mereka menjadi masam menghadapi kehidupan, tetapi anehnya mereka tidak berusaha mencari dan memahami sebab-sebab kesepiannya, bahkan cenderung menyalahkan orang lain.

Perasaan sepi dan resah bukanlah hal yang menyenangkan, sehingga manusia yang mengalaminya tentu akan berusaha menghilangkannya. Kesepian dapat ditimbulkan oleh macam-macam sebab. Bahkan orang merasa kesepian sebagai akibat mereka tidak mempercayai dirinya sebagai orang yang berarti dalam hidup ini. Ada juga orang merasa kesepian dan gelisah karena tidak mampunya menjalin kehidupan dan pergaulannya dengan pihak lain secara harmonis, selalu ia tidak bisa akrab. Sebagian yang lain merasa kesepian disebabkan karena cara hidup mereka tidak dapat menikmati saat-saat hidupnya yang indah dan menyenangkan sebagai ungkapan rasa syukur, dan tidak suka bergaul untuk membagi kenikmatannya itu.

Rasa resah, sepi dan frustasi merupakan serentetan gejala kejiwaan yang selalu ada dan terus membayangi hidup manusia. Sehingga harus diatasi agar orang yang dianggap tidak pelarian yang negative, lebih-lebih keputus-asaan yang fatal dan tragis dengan melakukan bunuh diri, tetapi harus mencari penyaluran dengan berbagai macam kegiatan dan perbuatan yang tentunya diridha’i oleh Allah s.w.t. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Yusuf, ayat 87:

“…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”

Jangan biarkan kesepian dan keresahan anda berlarut-larut. Yakinlah, setiap orang dapat mengatasi problem kejiwaan asal mau berusaha dan mengatur hidupnya melalui perencanaan yang baik dan wajar.

Kemudian, haruslah disadari bahwa dengan adanya keresahan, rasa sepi dan frustasi pada perputaran hidup ini, manusia mestinya makin insyaf dan menyadari bahwa hidup tidak cukup hanya dengan materi-materi keduniaan saja, tetapi harus diimbangi oleh kebutuhannya kepada nilai-nilai rohani yang tinggi dan luhur, berupa nilai-nilai yang diajarkan oleh Allah s.w.t melalui ajaran Agama-Nya.

Dari uraian tersebut di atas maka berikut ini kami paparkan perihal Cara Mengatasi Rasa Resah, Sepi, Dan Frustasi dalam kehidupan masyarakat modern sekarang ini, di antaranya :

1. Mencipatakan kehidupan bersama di dalam keluarga maupun kemasyarakatan yang lebih harmonis, dengan berbagai kerjasama, tolong menolong, dan saling membantu penuh kebersamaa yang di dasarkan atas takwa.

Allah berfiman :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (Q.S. Al Maidah: 2).

2. Menghindarkan diri dari sikap individualistis dan egoistis. Karena kedua sifat ini akan menyebabkan seseorang tersisihkan dalam pergaulan dan sering menjadi pergunjingan. Ia akan tersisih dan kesepian yang meresahkan. Tetapi seseorang akan mudah terhindar dari sifat itu manakala mau bersyukur kepada Allah. Di mana rasa syukur itu mulai dari sikap suka berterima kasih kepada sesama manusia dalam pergaulannya.

Nabi s.a.w bersabda:

“Sesungguhnya manusia yang paling bersyukur kepada Allah ialah orang yang paling banyak bersyukur kepada sesama manusia.” Ddalam suatu riwayat: “Tidak termasuk bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia.” (H.R Turmudzi dan lainnya).

3. Berusaha mencintai kehidupan dan pekerjaan. Hidup merupakan nikmat dan karunia dari Allah yang harus dinikmati dan diisi sebaik-baiknya dengan amal, bekerja dan berkarya. Karena bekerja dan beramal adalah proses penyempurnaan manusia itu sendiri, yang di dalamnya tercermin mutu serta martabat manusia sebagai hamba Allah yang mulia.

4. Mendekatkan diri kepada Allah dan tekun dalam kehidupan beragama, dengan meningkatkan ibadah dan amal kebaikan kita. Karena pada setiap amal ibadah terdapat nilai-nilai luhur yang mendorong hati seseorang menjadi tenang, mutmainnah, serta terhindar dari perasaan resah, gelisah dan gejala kejiwaan lainnya.

5. Bersikap positif ketika menghadapi problema dan bencana, betapapun besarnya, sebagaimana tuntunan Al Qur’an dalam surat Al Hadid ayat 22-23:

 

Akhirnya, semoga Artikel Cara Mengatasi Rasa Resah, Sepi, Dan Frustasi ini bermanfaat bagi kita, dan Semoga Allah SWT menjadikan jiwa kita tenang, dan hidup kita dalam keridhaan-Nya di dunia maupun di akhirat. Aamiiin !

 

 

 

Oleh : H. Ma’ruf
Redaktur : Ning Silviana Sholeha


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.