Kedermawanan Bisa Menyebabkan Seseorang Menjadi Waliyullah
Kedermawanan Bisa Menyebabkan Seseorang Menjadi Waliyullah

Kedermawanan Bisa Menyebabkan Seseorang Menjadi Waliyullah

MutiaraPublic.com – Menjadi Waliyullah ? Selama ini yang kita kenal dan kita ketahui dari amaliyah seseorang wali adalah banyaknya ibadah yang mereka kerjakan. Dalam pandangan kita sementara ini, yang menonjol dari waliyullah adalah sholat mereka, dzikir mereka, dan taqarub mereka kepada Allah S.W.T.. Hingga pada akhirnya pandangan seperti ini melahirkan satu keyakinan dalam hati bahwa Waliyullah adalah mereka yang tak pernah keluar rumah, Waliyullah adalah mereka yang selalu mengurung diri dalam mihrob, dan atau waliyullah adalah mereka yang mengasingkan diri kesebuah tempat terasing untuk menjalani kehidupan hanya beribadah kepada Allah S.W.T.

Apa yang telah diwasiatkan Baginda Nabi S.A.W. kepada Ali r.a., sesungguhnya telah membuka cakrawala pengetahuan sekaligus kesadaran kita bahwa seorang waliyullah tidaklah seperti apa yang kita bayangkan sebagaimana di atas. Yang menonjol dari diri seorang wali kata Baginda Nabi S.A.W. adalah sifat kedermawanannya sekaligus sifat zuhud terhadap dunia. Disinilah seorang wali harus terbebas dari penyakit “Hubbud Dunya” (cinta terhadap dunia).

Dalam beberapa ayat Allah S.W.T. sendiri seringkali mengingatkan agar manusia tidak terlalu lena dengan dunia. Dalam surat Al-Munafiqun Ayat 9, misalnya Allah S.W.T. Berfirman ; Wahai orang-orang yang beriman jagalah harta-hartamu dan anak-anakmu memalingkanmu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itu adalah orang-orang yang merugi”. Dalam sebuah hadits Baginda Nabi S.A.W. juga pernah bersabda ; “Cinta terhadap dunia adalah pangkal dari kejelekan”.

Dalam pandangan ilmu Tasawuf, antara dunia dengan Tuhan adalah dua hal yang tidak akan pernah bisa sama, bahkan mempunyai perbedaan yang sangat jauh yang tak akan pernah mungkin bisa dipertemukan. Bagi kalangan sufi, bagaimanapun juga Tuhan tidak bisa dimadu dengan dunia, manusia harus memilih salah satu di antara keduanya dengan konsekwensi masing-masing. Jika dunia yang dipilih maka jangan diharap hati manusia akan mampu berada dekat dengan Tuhan. Jika hati manusia masih melekat gambaran-gambaran tentang dunia, maka rasanya mustahil bagi manusia bisa mendekatkan dirinya dengan Tuhan. Sebaliknya, jika Allah S.W.T. Tuhan Sang Pencipta Alam Jagad Raya yang dipilih, maka secara mutlak harus meninggalkan dunia. Seseorang harus terbebas dari segala ikatan-ikatan dunia sekaligus harus menyingkirkan semua gambaran tentangny, walau hanya sebatas keinginan dan angan-angan yang ada di dalam hati seseorang tersebut.

Bagi kalangan sufi secara Umum, dunia adalah musuh. Hal ini dikarenakan dunia dapat memalingkan manusia dari Tuhan. Karena alasan ini dalam ilmu tasawwuf, perasaan cinta terhadap dunia dianggap sebagai suatu penyakit yang paling berbahaya. Sifat ini bukan saja menghalangi manusia untuk dapat berma’rifat kepada Allah, namun juga akan menumbuhkan penyakit-penyakit hati yang lain, yang tak kalah bahayanya.

Setidak-tidaknya ada tiga penyakit yang diakibatkan dari adanya rasa cinta terhadap dunia, yaitu tamak, rakus dan bakhil. Ketiga sifat ini seringkali membuat manusia menjadi lupa, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap Tuhan. Yang ada dalam benak orang-orang yang terjangkit tiga sifat tersebut tiada lain hanyalah gambaran-gambaran tentang dunia hingga tiada sedikit pun ruang dalam hatinya yang tersisa untuk menampung gambaran  Tuhan. Pada saat demikian seseorang biasanya selalu berorientasi pada hal-hal yang bersifat materi. Apa pun akan dilakukan demi tercapainya tujuan itu. Orang-orang seperti ini tidak akan pernah mengindahkan peraturan-peraturan yang dibuat oleh Allah S.W.T.. Inilah yang menyebabkan mereka malah berada semakin jauh dengan Allah S.W.T. dan secara spikologis, jika kondisi ini tidak cepat-cepat diobati, maka lambat laun hati orang tersebut akan mati yang pada akhirnya dia akan lupa siapa Tuhannya.

Atas dasar itu, maka agama sendiri menekankan adanya ajaran zuhud. Zuhud adalah terlepasnya ikatan perasaan terhadap hal-hal yang berbau duniawi, atau zuhud adalah tidak adanya perasaan cinta terhadap dunia. Inti dari ajaran zuhud adalah menghilangkan ikatan perasaan dan cinta terhadap dunia itu, bukan pada kepemilikan dunia itu sendiri. Zuhud sama sekali tidak sama dengan kemiskinan. Zuhu sama sekali bukan terletak pada penampilan; pakaian compang-camping dan kumuh. Tetapi zuhud adalah merupakan laku hati yang benar-benar tak punya ikatan dan rasa cinta terhadap harta benda. Dengan demikian, seorang yang zuhud tidak harus dan tidak mesti miskin, tetapi orang yang zuhud adalah mereka yang tak punya ketergantungan perasaan dan tak punya perasaan cinta terhadap dunia, meskipun kadang mereka memiliki harta benda yang banyak. Banyaknya harta benda yang mereka miliki tidak memalingkannya kepada Allah S.W.T., malah sebaliknya makindekatnya kepada-Nya.

Nah, perasaan zuhud, hilangnya sifat hubbud dunya dan adanya sifat dermawan dalam diri itulah yang ternyata akan mendatangkan kelapangan Rahmat dan Ridha Allah S.W.T.. Dan orang-orang yang punya sifat seperti itu pula yang seringkali diangkat derajatnya oleh Allah S.W.T. pada maqam Waliyullah. Para Waliyullah sendiri adalah mereka-mereka yang zahid, yang tak punya perasaan hubbud dunya dan mereka-mereka yang punya sifat derma.

Berkaitan dengan masalah ini ada baiknya kita simak sebuah kisah yang pernah terjadi pada salah seorang waliyullah yang masyhur bernama Abdullah bin Mubarak.

Suatu saat Abdullah bin Mubarak melakukan perjalanan ke Makkah akan melaksanakan ibadah haji. Di Tengah perjalanan dia melihat ada seorang wanita yang sedang mencabuti bulu ayam di tempat sampah. Sejenak Abdullah bin Mubarak berhenti dan memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh wanita tersebut. Ternyata bulu ayam yang dicabutinya adalah ayang yang sudah menjadi bangkai. Abdullah bin Mubarak bertanya; “Wahai hamba Allah, apabila ayam itu mati karena disembelih ataukah itu sebuah bangkai? ”

“Ayam ini adalah bangkai, dan aku akan memakannya bersama keluargaku?” jawab tegas wanita itu.

Abdullah bin Mubarak tersentak dengan jawabannya itu. Dia mencoba untuk mengingatkan bahwa bangkai adalah suatu yang haram untuk dimakan. “Wahai hamba Allah, bangkai itu diharamkan oleh Allah, namun mengapa engkau akan memakannya?”

“Pergilah jangan ikut campur usrusanku !” jawab wanita itu tegas.

Abdullah bin Mubarak tetap berusaha mengingatkan bahwa memakan bangkai itu dilarang oleh Allah S.W.T.. Hingga akhirnya wanita itupun memberikan jawaban terakhirnya, “Sesungguhnya aku dan anak-anakku sudah tiga hari tidak makan apa-apa. Kami kelaparan dan tidak ada yang bisa kami makan selain bangkai ini.”

Abdullah bin Mubarak terdiam sejenak. Hatinya seperti tertusuk dengan jawaban itu. Rasa ibanya timbul. Maka secepatnya ia meninggalkan wanita tersebut dan pulang kembali ke rumahnya. Tak lama setelah itu dia kembali dengan seekor keledai yang dituntunnya dengan membawa banyak makanan dan pakaian serta perbekalan yang lain. Dia langsung menuju ke rumah tunggangannya. Kepada wanita tersebut dia berkata, “Ambillah semua yang aku bawa. Ini semua adalah milik dan hakmu !”.

Setelah berkata seperti itu Abdullah bin Mubarak melangkah pergi berjalan kaki. Dia akan meneruskan perjalanan ke kota Mekkah, namun tiba-tiba ia ingat bahwa musim haji telah lewat. Dia ingat bahwa perjalanannya terganggu beberapa hari sebab dia pulang kembali untuk mengambilkan bahan makanan dan pakaian untuk wanita miskin tersebut. Maka untuk sementara Abdullah bin Mubarak menetap di kota Kufah beberapa hari, lalu kembali pulang ke rumah. Niatnyapun yang semula ingin menunaikan ibadah haji gagal.

Sebelum Abdullah bin Mubarak sampai ke negerinya, para jama’ah haji sudah pulang terlebih dahulu. Dan saat Abdullah bin Mubarak sampai di rumah, ternyata banyak tetangga maupun para jama’ah haji yang sudah pulang terlebih dahulu menyambut kedatangannya dengan penuh suka cita. Ada satu perasaan risih dalam hati Abdullah bin Mubarak dengan penyambutan itu. “Aku tidak jadi melaksanakan ibadah haji tahun ini. Sungguh aku tidak pulang dari Baitullah !” jelas Abdullah bin Mubarak.

Semua orang tidak ada yang percaya tentang penuturan Abdullah bin Mubarak. Salah seorang yang kebetulan telah menunaikan ibadah haji ada yang berkata, “Subhanallah. Jangan bergurau. Bukankah aku telah menitipkan uangku kepadamu saat kita berangkat bersama-sama lalu aku mengambil uangku kembali waktu kita berada di Arafah?”.

Abdullah bin Mubarak semakin bingung dengan penjelasan itu. Belum habis rasa bingungnya, lelaki lain mengatakan, “Betul ! Bukankah ketika kita berada di sana kau membelikan aku ini dan itu ?”.

Sungguh Abdullah bin Mubarak tak mengerti dengan berbagai penuturan teman-temannya itu. Berkali-kali ia mengatakan bahwa tahun ini dia tidak melaksanakan Ibadah Haji. Tetapi mengapa banyak orang mengatakan bahwa mereka bertemu bahkan bersamanya di Makkah melaksanakan ibadah Haji. Banyaknya penyaksian bahwa dirinya berada di Makkah berhaji adalah merupakan bukti bahwa mereka tidak mengada-ada dengan berbagai kisah yang mereka ceritakan. Tetapi, meskipun itu benar, Abdullah bin Mubarak masih tidak pernah percaya sebab dirinya memang  benar-benar tidak pergi ke Makkah melaksanakan kewajiban agama tersebut. Lantas, kalau banyak orang tahu dan bahkan bersamanya di Makkah, siapakah yang mereka temui itu ?

Saat malam tiba Abdullah bin Mubarak tertidur dan bermimpi . Mimpi Abdullah bin Mubarak itu adalah sebuah jawaban dari kebingungannya terhadap berbagai cerita yang dikisahkan orang-orang yang konon katanya mengetahui dia beradah di Makkah menunaikan ibadah haji. Dalam mimpi itu dia melihat ada seorang lelaki berkata kepadanya, “Abdullah… Sesungguhnya Allah telah menerima sedekahmu kepada Wanita (miskin) itu. Allah telah mengutus seorang malaikat menjelma menjadi dirimu menunaikan ibadah haji untukmu”.

Subhanallah Walhamdulillah Walailahaillallahu Allahu Akbar… ! Semoga dengan kisah kedermawanan dari Abdullah bin Mubarak ini bisa bermanfaat bagi kita dan lebih menambah rasa hati dan sikap kita untuk lebih berbuat dermawan lagi. Dan semoga Allah selalu memberikan Ridho-Nya, Aaamiiiin Ya Rabb !.

 

 

 

Oleh : Ning Silviana Sholeha
Redaktur : Aminatul Jannah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

IP Blocking Protection is enabled by IP Address Blocker from LionScripts.com.