Khutbah Jumat - Kunci Kebahagiaan Hidup (ilustrasi)
Khutbah Jumat - Kunci Kebahagiaan Hidup (ilustrasi)

Khutbah Jumat : Kunci Kebahagiaan Hidup

Khutbah Jumat I

Khutbah Jumat - MutiaraPublic 1

MutiaraPublic – Kunci Kebahagiaan Hidup. Wahai kaum muslimin, bertakwalah kepada s.w.t. Ketahuilah bahwa Allah menurunkan agama Islam untuk membimbing manusia ke arah kebahagiaan serta menunjukkan jalan kebaikan. Islam membolehkan umatnya bersenang-senang serta menuruti keinginannya selagi masih dalam batas-batas syariat agama. Allah s.w.t telah menghalalkan untuk hamba-hamba-Nya semua rezeki yang baik, dan kenikmatan-kenikmatan yang tak terhitung banyaknya. Kemudian Allah memperingatkan mereka agar tidak tergelincir ke dalam hal-hal yang diharamkan. Tak ada suatu kebaikan pun, melainkan Allah telah menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya. Dan tak ada suatu kejelekan pun, melainkan Allah telah menjelaskannya dan memperingatkan agar mereka menjauhinya. Semua itu tidak lain memperingatkan agar mereka menjauhinya. Semua itu tidak lalin hanya untuk kebahagiaan dan kemuliaan umat manusia.

Apabila ajaran agama benar-benar dipahami dan diyakini dengan baik, pasti akan membuahkan budi pekerti yang luhur dan terpuji. Amaliah ibadah pun akan dirasakan sebagaisuatu kenikmatan yang membahagiakan. Cobalah perhatikan, ketika seorang sedang bersujud, ia merasakan bahagia karena suasana batin begitu dekat dengan Tuhannya. Ketika berdoa, ia merasakan bahagia karena pahala yang terlipat ganda telah disediakan oleh Tuhan-nya.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia.

Sementara itu, di sudut kehidupan yang lain, banyak pecinta dunia sibuk mencari kebahagiaan hidup, tetapi mereka tidak pernah memperolehnya. Manusia berebut untuk memperbayak harta dan kesenangan, tetapi jumlah harta dan kesenangan itu terbatas. Manusia bersaing mengejar karier, kedudukan dan kekuasaan yang disangkanya akan membahagiakan. Kiranya malah menambah beban keresahan dan kekhawatiran. Demikianlah, banyak orang yang berangggapan, bahagia itu didapat oleh orang-orang  yang memiliki kekayaaan berlimpah. Bukankah jika ada harta, segala yang diinginkan mudah tercapai? Itulah ungkapan harta, segala yang diinginkan mudah tercapai? Itulah ungkapan kata dan lamunan hidup mereka.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia.

Memang, orang yang miskin akan mengatakan kalau kebahagiaan itu terletak pada kekayaan. Sebagaimana orang yang sakit mengatakan bahagia itu terletak pada kesehatan. Dan bagi orang yang bercinta, kekasih itu kebahagiaan. Yang benar, tidak seorang pun bisa mencapai kepuasan di bidang harta, kekayaan, kebesaran, atau lainnya. Di atas orang kaya, ada lebih yang lebih kaya. Di atas orang yang besar dan berkuasa, ada lagi yag lebih besar dan lebih berkuasa. Sebanyak apapun kekayaan dan keberhasilan yang di perolehnya, manusia masih melihat dirinya serba kekurangan. Mereka butuh yang lebih banyak, dan itu  tidak mungkin dicapainya.

Ukuran kaya dan bahagia sangatlah relative, kecuali ukuran yang telah ditetapkan oleh Allah s.w.t dan Rasul-nya. Ulama’ ahli hikmah menjelaskan, orang kaya ialah orang orang yang sedikit keperluannya. Siapa yang paling sedikit kebutuhan hidupnya dialah orang yang paling kaya, dan orang yang paling banyak kebutuhan hidupnya dialah orang yang paling miskin. Sebab itu, hanya Allah s.w.t yang maha kaya, karena Dia tidak memerlukan sesuatupun dan tidak  butuh siapapun.

Maka sekali-kali tidaklah menjadikan bahagia, jika hati dan angan-angan seseorang hanya ditujukan kepada urusan-urusan kebendaan, yang nilainya hanya terbatas di dunia ini saja. Lebih-lebih bagi yang tamak dan serakah, yang selalu mgninginkan apa yang ada di tangan orang lain, karena rasanya kelihatan lebih indah sesuatu yang belum jadi miliknya. Padahal orang yang akan selamat dari sifat tamak dan tidak akan menyesali hidupnya itu sendiri, manakala ia suka menghayati dan mencari hikmah kehidupan ini, Ia tidak akan bersedih hati memikirkan kekurangan dirinya, tidak pula mudah tercengang melihat kenaikan dan kejatuhan orang lain.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia.

Segala sesuatu yang dicapai di dunia ini, baik dan buruknya, nikmat dan tidaknya, bukan yang terletak pada zatnya sesuatu itu, tetapi terpulang pada sudut pandang dan anggapan seseorang terhadapnya. Yaitu menurut tinggi rendahnya akal pikiran di dalam menerimanya. Sebab itu, manusia perlu membersihkan akal budi dan meningkatkan pengetahuan, supaya dapat menikmati dan mencapai kebahagian yang sejati. Sesuai ajarn Islam, bahwa derajat bahagia manusia itu menurut derajat akalnya, karena akallah yang dapat membedakan antara baik dengan buruk, yang mampu menyelidiki hakikat dan kejadian segala sesuatu yang ingin dicapai dalam perjalan hidup di dunia ini. Bertambah sempurna dan bertambah jernih akal itu, maka bertambah pula ketinggian derajat bahagia yang dicapainya.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia.

Diriwiyatkan dalam hadits bahwa suatu hari Aisyah bertanya kepada Rasulullah s.a.w: “Ya Rasulullah, dengan apakah kelebihan sebagai manusia atau manusia lainnya?” Dijawab: “Dengan akal”. Tanya Aisyah pula: “Dan di akhirat?” “Dengan akal juga”, jawab Nabi. Aisayah melanjutkan pertanyaannya “Bukankah seseorang manusia lebih dari manusia yang lain dari hal pahala lantaran amal ibadahnya?” Rasulullah s.a.w menjawab: “Hai Aisyah, bukankah amal ibadah yang mereka” kerjakan itu hanya menurut kadar akalnya? Sekadar ketinggian derajat akalnya itulah ibadah mereka, dan menurut amal itu pula pahala yang diberikan kepada mereka.”

Oleh karena itu bagi orang yang tercurahkan akal pikirannya di waktu memperoleh nikmat, mereka sangat bersyukur, seraya insaf bahwa kenikmatan yaitu amanat Allah s.w.t, hanya sekedar titipan untuk sarana beribadah kepada-NYa. Dan mereka tidak meratap jika sewaktu-waktu nikmat itu berkurang atau hilang, karena ratapan justru akan mengahmbat datangnya nikmat yang menggantikan. Mereka mencukupkan apa yang ada sebagai karunia kenikmatan, karena itulah kekayaan yang sebenarnya. Sehingga tidak akan kecewa apabila kekayaan itu berkurang, dan tidak lupa daratan apabila kekayaannya semakin banyak. Mereka senantiasa memperhatikan sabda Rasullah s.a.w:

“Sesungguhnya Allah tidak menilai pada rupa dan hartamu, tetapi Allah menilai pada hati dan amal perbuatanmu.” (H.R. Muslim Abu Hurairah).

Dan harapan mereka sebagaimana Kunci Kebahagiaan Hidup adalah sebagaimana yang termaktub dalam firman Allah s.w.t:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (Q.S. Al Baqarah: 201).

Semoga Allah s.w.t. memberkati kita semua dengan Al Qur’an AL-Adzim, dan memberikan manfaat kepada kita. Sehingga kita memperoleh petunjuk-Nya utnuk dapat selalu waspada dan berusaha memilih jalan yang tepat dan meraih kunci kebahagiaan dan keselamatan hidup kita. Karena jelas, bahwa kebahagiaan hidup tidak mungkin dapat diwujudkan dengan terlalu menggantungkan diri pada dunia yang penuh kepalsuan. Dunia hanyalah ibarat fatamorgana yang mudah menyesatkan orang yang kehausan di padang pasir; mereka berusaha keras mencapai air itu, akan tetapi yang mereka dapatkan hanyalah pasir belaka. Kesenangan duniawi juga dapat diibaratkan seperti air laut, semakin banyak kita meneguknya justru akan semakin terasa haus. Selamanya dunia penuh dengan kepalsuan, maka janganlah kita menjadi lalai karena dunia, hati kita jangan terperangkap dan terpukau oleh godaan dan kesenangan yang memperdayakan.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia.

Marilah kita kembali kepada jalan agama Ilahhi untuk mencapai kebahagiaan hidup ini dan keselamatan di akhirat nanti. Hendaklah kita menyadari bahwa kenikmatan hidup yang hakiki hanyalah terwujud karena karunia Allah Yang Maha Tinggi.

Alangkah indahnya hidup kita ini apabila berlimpah nikmat Ilahi dan diliputi keridhaan serta kecintan-Nya yang sejati. Dengan demikian, akhirnya dunia yang fana. Tidak terletak pada makanan yang enak, atau pakaian-pakaian yang indah dan gedung yang megah, atau kemewahan kepuasan.

Coba renungkan, betapa banyak orang kaya bisa menikmati harta kekayaannya dan tenggalam dan kehidupan nafsu kesenangan, tetapi pada hakikatnya mereka tidak bahagia dalam hidupnya. Sebab, kebahagian lahiriah, tetapi kebahagiaan hanya terwujud melaluihati yang mendapat cahaya Ilahi, menghadapkan diri kepada-NYa dengan khusu’, tawadhu’, yang didasariketakwaan dan hidup prihatin utnuk memperoleh ridha Allah s.w.t di dunia dan akhirat.

Demikian akhir khutbah ini, marilah kita memanjatkan permohonan ampun kepada Allah dari segala dosa. Mohon ampunlah kepada-Nya karena Dialah yang Maha Pengampun lagi maha penyayang.

 

Khutbah Jumat - MutiaraPublic 1b

Khutbah Jumat I

Khutbah Jumat - MutiaraPublic 2a

Khutbah Jumat - MutiaraPublic 2b

 

 

 

Oleh Ustad Jauhari
Redaktur : Ning Silviana Sholeha


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

IP Blocking Protection is enabled by IP Address Blocker from LionScripts.com.