Etika dalam Muamalah
Etika dalam Muamalah

Khutbah Jumat Terbaru : Etika Dalam Muamalah !

Khutbah Jumat I

Khutbah Jumat - MutiaraPublic 1

 

Saudaraku, Kaum Muslimin Yang Di Rahamati Allah SWT.

MutiaraPublic.com – Marilah kita sama-sama bertaqwa kepada Allah SWT dan Taat kepada Rasul-Nya, yakni dengan menjalankan segala apa yang diperintah-Nya dan menjauhi segala apa yang telah menjadi larangan-Nya, baik itu mengenai urusan ibadah maupun urusan mengenai muamalah.

Ketahuilah saudaraku, bahwa sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan masing-masing manusia antara yang satu dengan yang lainnya tersebut saling membutuhkan, tujuannya adalah agar mereka itu selalu tolong-menolong, gotong royong atau selalu bekerja sama, baik dalam urusan mencari nafkah penghidupan dan dalam urusan memecahkan segala urusan hidup di dunia ini.

Hal ini adalah merupakan bagian dari Sunnatullah yang mana dalam hal ini tujuannya adalah untuk mengatur kehidupan manusia menjadi adil dan teratur, dan supaya pertalian antara yang satu dengan yang lainnya itu menjadi teguh dikarenakan adanya sebuah kesadaran diri untuk saling terkait, ketergantungan dan sama-sama saling membutuhkan. Kemudian Allah SWT menurunkan agama yang mulia ini yaitu Islam melalui para utusannya (Rasulullah SAW) dan Allah SWT menetapkan hukum-hukum dalam muamalah tersebut untuk mengatur supaya hak-hak dari setiap individu seseorang itu tidak terabaikan dan kemaslahatan umum pun dapat terjamin.

Allah Swt berfirman:

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ

Artinya: {” Manusia itu umat yang satu, maka Allah SWT mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan sebagai peringatan (bagi manusia), dan Allah SWT menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan “}  (QS. Al Baqarah: 213)

Hal inilah kiranya yang merupakan salah satu fungsi terpenting yang diamanatkan agama Islam bagi seluruh umat manusia sebagai khalifatullah di muka bumi ini. Dengan agama Islam tersebut, manusia diminta untuk mampu mengatur hidupnya, yakni dengan cara mempererat dan memperkuat “hablum minallah” dan “hablum minannaas” melalui amal ibadah murni dan ibadah muamalah (ibadah sosial).

Saudaraku, Kaum Muslimin Yang Di Rahamati Allah SWT.

Satu hal yang perlu dan patut kita ketahui adalah bahwa didalam melaksanakan kegiatan-kegiatan muamalah tersebut, Islam telah mengajarkan bagi kita yakni setiap muslim perihal sifat-sifat terpuji yang mana hal itu wajib kita laksanakan setiap kali kita mengadakan muamalah itu dengan pihak-pihak lain. Diantaranya adalah dengan sifat toleransi, dengan sikap lapang dada atau tepo sliro, dan tenggang rasa. Sebab dengan sifat dan sikap seperti itu, maka pergaulan kita pun baik itu dengan tetangga, relasi bisnis, mitra kerja,  dan lain sebagainya, tentunya pasti akan menjadi Harmonis, Lancar dan Sukses.

Sebagaimana Baginda Rasulullah SAW. bersabda :

رحـــم الله رجــلا ســمحا اذا باع واذا اشــترى واذا اقــتضــى وفى رواية واذا قضــى

Artinya: {“Allah SWT telah memberi rahmat kepada orang yang Tasamuh (yakni ; orang yang bertoleransi terhadap orang lain) ketika berjualan, ketika membeli, ketika menuntut hak (Menurut satu riwayat: “Ketika membayar hak.”) “} (HR. Bukhari, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Saudaraku, Kaum Muslimin Yang Di Rahamati Allah SWT.

Menurut hadits diatas tersebut, di dalam hal bermuamalah, kita telah diperintahkan oleh Allah SWT untuk bersifat toleran atau tasamuh pada Empat Hal, yaitu : transaksi jual & beli, menuntut dan membayar hak.

Yang Pertama, toleransi ketika kita berjualan. Artinya dalam hal berjualan hendaknya kita ini tidak hanya memperiotaskan/ mementingkan diri pribadi sendiri untuk mengeruk berbagai keuntungan yang sangat besar, tanpa kita memperhatikan betul perasaan dan kepentingan dari pihak pembeli. Tidak serta merta mempermainkan harga yang sangat tinggi, tidak berlaku curang yakni dengan menutupi cacatnya barang/ produk yang dijual tersebut, tidak menjual produk/ dagangannya dengan cara menipu dan lain-lainnya….

Saudaraku, Yang Di Rahamati Allah SWT.

Yang Kedua, toleransi ketika kita membeli (menjadi konsumen). Maksudnya adalah, apabila kita menjadi konsumen, maka jadilah konsumen/ pembeli yang baik dan penuh sikap tenggang rasa. Yakni dengan tidak hanya mementingkan diri pribadi sendiri, tetapi juga kita harus memperhatikan kepentingan si penjual atau para konsumen/ pembeli yang lainnya, tidak menyusahkan si penjual dengan banyak memilih produk akan tapi tidak satupun dari produk itu yang dibeli. dan lain-lainnya…

Sesungguhnya Islam telah mengajarkan agar kita sebagai pembeli tersebut, berlaku bijaksan dan pandai dalam mengukur perasaaan pihak-pihak lainnya. Baginda Rasulullah SAW. yang artinya sbb : {” Berbuat mudahlah Kalian, janganlah mempersulit “}.

Saudaraku, Yang Di Rahamati Allah SWT.

Yang Ketiga, adalah toleransi ketika kita menuntut hak. Yakni jika kita menuntut suatu yang seharusnya menjadi hak kita kepada orang lain, contoh misalnya ; dalam hal “menagih hutang”, kita haruslah bersikap toleransi dan harus lapang dada. Dalam artian kita harus lakukan penagihan hutang tersebut dengan cara arif lembut dan sopan, sehingga orang tersebut menjadi segan dan sungkan dengan kita. Dan ingatlah wahai saudaraku, Jangan sekali-kali kalian melakukan tagihan dengan cara dipersaksikan orang lain (di publish atau di umbar-umbar ke orang lain/ tetangganya) sehingga akan membuat malu dan menjadi aib bagi orang yang kita tagih tersebut.

Saudaraku, Yang Di Rahamati Allah SWT.

Yang Keempat, adalah bersikap toleransi ketika kita membayar hak. Sebagaimana ketika kita menuntut hak harus bertoleran dan berlapang dada, maka ketika kita membayar hak, tanggungan, atau kewajiban kita kepada orang lain, kita haruslah juga bersikap toleran dan tepo sliro serta harus tepat waktu sebagaimana dalam perjanjian sebelumnya. Dan kalau pun misalkan kita memang belum mampu untuk membayar kewajiban tersebut, alangkah akan lebih bijak dan kesatria apabila kita itu memberitahukan-nya terlebih dahulu sebelum tiba waktu penagihan tersebut. Dan Ingatlah bahwa jangan pernah kita itu suka mengulur-ulur waktu pengembalian hutang/ kewajiban kita, padahal sebenarnya kita itu sudah mampu untuk membayarnya.

Sebagaimana Baginda Muhammad SAW. telah memperingatkan kita perihal tersebut:

مطــل الغنـــي ظلم

Artinya: {“Menunda-nunda (dalam hal) membayar hutang bagi orang yang mampu itu adalah (merupakan) perbuatan yang dzalim “} (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah dan Nasai).

 

Demikianlah ajaran Islam yang luhur perihal etika dalam muamalah tersebut, yang mana dengan izin dari Allah SWT hal itu akan membawa keberkahan serta akan membawa ridho dari Allah SWT. Maka Dengan begitu, hubungan kita dengan Allah akan senantiasa selalu terbina dan terjaga, dan begitu pun juga hubungan kita dengan manusia lainnya.

Semoga Allah SWT memberikan keberkahan hidup bagi kita, bagi seluruh umat muslim, dan semoga Allah SWT selalu memberikan kesejahteraan, baik itu di dunia dan kelak di akherat. Aamiin !

 

Khutbah Jumat - MutiaraPublic 1b

Khutbah Jumat II

Khutbah Jumat - MutiaraPublic 2a

Khutbah Jumat - MutiaraPublic 2b

 

 

Oleh : Ustadz. Rahmad Hidayat
Redaktur : Aminatul Jannah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

IP Blocking Protection is enabled by IP Address Blocker from LionScripts.com.