khutbah jumat - Hari Kemerdekaan
khutbah jumat - Hari Kemerdekaan

Khutbah Jumat : Tentang Hari Kemerdekaan

Khutbah I

Khutbah Jumat - MutiaraPublic 1

Jamaah shalat Jum’at Rohimakumullah,

MutiaraPublic.com – Hari Kemerdekaan, Seorang Muslimin layaknya sangat bangga mempunyai keyakinan yang begitu memuliakan manusia. Islam datang dari lingkungan kisah kaum Arab yang pada zaman dulu kala (sebelum hadirnya Islam) mereka sangat gencarnya melanggar moralitas perikemanusiaan: keyakinan kaum yang sangat parah, kekejian kepada para kaum wanita, permusuhan antar keluarga, perampasan hak milik orang lain, perjudian, dan lain sebagainya. Di dalam dalilnya pun, keterkaitannya tersebut juga amat jelas.

Allah berfirman; wa laqad karramnâ banî âdam (sungguh telah Kami telah muliakan manusia). Islam serta menjaga beraktivitas yang berkeadilan, aman secara jasmani dan ruhani, serta bebas dari ikatan penganiayaan. Didalam budaya ushul fiqih, kita mengenal prinsip-prinsip yang haram dilanggar, yakni kewenangan hidup (hifdhun nafs), terlindunginya kehidupan agama (hifdhud din), jaminan mendayagunakan akal (hifdhul ‘aql), jaminan kepunyaan harta (hifdhul mâl), serta terlindungnya kesucian keluarga (hifdhun nasl). Beberapa hal pokok inilah yang wajar dibilang maqâshidus syarî‘ah.

Pemeluk Islam, serta seluruh Anak Adam lainnya, masing-masing memiliki hak untuk hidup yang adil. Seperti pelaksanaan dari norma-norma yang penting tadi, mereka seyogianya mendapat keleluasaan dalam beribadah, mencari ilmu, mengekspresikan pikiran, berkreasi, dan sejenisnya. Jaminan tersebut wajib ada selama dilaksanakan dalam rangka komunitas yang bertanggung jawab. Ketika kebebasan tersebut dirampas secara dzalim maka sangatlah hal yang biasa sebuah perlawanan dan pembelaan kemudian mengemuka.

 

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ. الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ

 

Artinya: “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (Yang teraniaya itu adalah) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata “Tuhan kami hanyalah Allah”.

Apabila kita melihat secara teliti, yang terkandung dalam Surat Al-Hajj ayat 39-40 ini menegaskan bahwa tiap orang memiliki hak atas kampung halaman, tempat tinggal, tanah air, rumah yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut diyârihim (berasal dari kata dâr, rumah). Oleh karena itu, seketika mereka diusir atau dirampas hak-haknya, Allah memberi kewenangan mereka buat melindungi diri. kenapa begitu? sebab wilayah dan halaman atau tanah air adalah tempat berpijak untuk melaksanakan keaktivitasan secara lazim dengan bahagia selaku insan yang dimartabatkan di muka bumi. Tanah air adalah tempat untuk mencari nafkah, berkeluarga, menunaikan tangung jawab masalah agama, makan, bermasyarakat, mengembangkan pendidikan, dll..

 

Jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Allah,

Sebagaimana itu pula yang diajarkan Rasulullah. Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam bersama para sahabat bekerja keras menyelamatkan kekuasaan-kekuasaan mereka. Mereka bertempur bukan semata hanya untuk menyerang. Mereka bertempur sedangkan mereka menerjang lebih dulu dan membela kesewenang-wenangan kaum Musyrik Quraisy yang merampas kebebasan kaum Muslim dalam bertauhid, dan berjiwa tanpa provokasi siapa pun. Hikmahnya umat Islam bertempur, justru karena tak menginginkan perang itu terjadi sama sekali di penjuru bumi ini.

Keinginan mirip juga dibangkitkan oleh para ulama-ulama kita di era pra-kemerdekaan Indonesia. Selama proses penjajahan Belanda dan Jepang, warga negara anak negeri tidak sejahtera dan tidak tentram di tanah air sendiri. Mereka tersingkir dari kehidupan yang layak: susah bekerja, susah makan, susah beribadah, dan susah belajar. Berbagai kekejaman dan kezaliman inilah mendorong umat Muslim bersama para ulama, dan para pejuang lain buat mengusir kaum kolonial. Kalau kita pernah mendengar “Resolusi Jihad” bahwa itu adalah salah satu fakta ideal dari pejuang tersebut. Resolusi Jihad adalah deklarasi perang bersenjata bebas kemerdekaan laksana “jihad suci” yang dipimpin oleh para ulama’ dan kiai di Indonesia pada 22 Oktober 1945 buat mengahalangi pasukan Inggris (NICA) yang akan menguasai Indonesia. Berkat kerja keras yang kukuh, semangat keislaman sangat yang tinggi, serta yang paling utama adalah ridho Allah S.W.T. melalui doa dari para ulama dan kiai, gempuran NICA bisa dikalahkan dan warga Indonesia tetap bebas merdeka saat ini sejak Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

sekelompok ulama tersebut sampai-sampai tidak cuma memimpin perlawanan, tapi juga aktif bergerilya, menyusun rencana, lebih-lebih pertempuran fisik secara tepat sama barisan musuh. Umat Islam sadar bahwa membela tanah air dari penindasan merupakan bagian dari kerja keras Islam, yang tingkat manfaatnya akan dirasakan oleh jutaan orang. Terlebih saat Resolusi Jihad digemakan atau di siarkan, Indonesia merupakan negeri yang anyar dua bulan berdiri.

Para ulama dan cendekia Muslim sadar betul, sesungguhnya laksana insan yang sosial kedatangan tanah air menggambakan sebuah keniscayaan, baik secara syar’i maupun ‘aqli, karena banyak keyakinan hukum yang tak dapat dilaksanakan tanpa kehadiran negara. Oleh karena itu, al-Imam Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihyâ’ ‘Ulûmid Dîn mengatakan:

 

المُلْكُ وَالدِّيْنُ تَوْأَمَانِ فَالدِّيْنُ أَصْلٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ وَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

 

Artinya : “Kekuasaan (negara) dan agama merupakan dua saudara kembar. Agama adalah landasan, sedangkan kekuasaan adalah pemelihara. Sesuatu tanpa landasan akan roboh. Sedangkan sesuatu tanpa pemelihara akan lenyap.”

 

Jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Allah,

(NKRI) Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang kini kita diami adalah hasil kesepakatan umat (mu’ahadah wathaniyyah), atas nama Pancasila menjadi dasar negara. Ia dibangun atas janji bersama, termasuk di dalamnya kebanyakan engikut Islam. Sampai-sampai, hampir perumus Pancasila adalah para tokoh dan ulama Muslim. Karena itu, menjadi pengikut agama yang sungguh-sungguh mematuhi persetujuan, seluruh umat Islam wajib mentaati dasar tersebut, apalagi tak nilai-nilai di dalamnya sebanding sama akar keyakinan Islam. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

المُسْلِمُوْنَ عَلىَ شُرُوْطِهِمْ

 

Artinya: “Kaum Muslimin itu berdasar pada syarat-syarat (kesepakatan) mereka.” (HR Al-Baihaqi dari Abi Hurairah)

 

Indonesia memang bukan wilayah Islam (dawlah Islamiyyah), melainkan menurut berdasarkan pandangan Islam. Demikian pula Pancasila sebagai dasar negara, meskipun enggak sejajar syari’at/agama, akan tetapi ia tidak kontradiktif, bahkan selaras dengan prinsip-prinsip Islam. Sebagai dampak sahnya NKRI, bahwa semua anggota warga harus melindungi dan mempertahankan kedaulatannya. Pemerintah dan rakyat memiliki kekuasaan dan tanggung jawabnya masing-masing. Tanggung jawab penting pemerintah yaitu mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya sebagai kesamarataan dan beragama. sementara itu keharusan rakyat ialah taat kepada pemimpin sepanjang tidak bertentangan sama keyakinan agama Islam.

 

Jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Allah,

Kita patut berterima kasih sesungguhnya negara kita Indonesia, cukup sejahtera ketimbang sebagian negeri di belahan lain dunia. Pemeluk Islam di sini dapat menjalankan ibadah dan menuntut ilmu agama sambil rukun meskipun berlainan madzhab dan kelompok. Kita juga relatif bebas dari kekangan di Tanah Air selama melakukan hidup setiap hari. hawa kebebasan ini adalah karunia besar dari Allah subhanahu wata’ala. Jangan merasa cukup kita baru menikmati kenikmatan yang sangat luar biasa ini setelah rudal-rudal berjatuhan di sekeliling kita, tank-tank bentrokan senjata mondar-mandir, ruang ibadah roboh akibat bom, alias bentrokan berdarah antara-saudara sesama bangsa. Na’ûdzubillâhi min dzâlik.

Mari kita berima kasih atas kebebasan ini dengan mengucapkan hamdalah, sujud syukur, dan mengisinya dengan kegiatan-kegiatan positif. Kita barangkali tidak tengah sedang bertarung secara jasmani sebagai halnya ulama-ulama dan pahlawan kita terdahulu, tapi kita masih memiliki cukup banyak soala kemiskinan, kekerasan, korupsi, kebodohan, narkoba, dan lain-lain yang juga wajib kita perangi. Allahu Akbar…. !

 

Khutbah Jumat - MutiaraPublic 1b

 

Khutbah II

Khutbah Jumat - MutiaraPublic 2a

Khutbah Jumat - MutiaraPublic 2b

 

Semoga Khutbah Jumat : Tentang Hari Kemerdekaan ini bermanfaat bagi Ummat Muslim. Aamiiin!

 

 

 

Oleh : Ustadz. Ahmad Hasan
Redaktur : Aminatul Jannah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

IP Blocking Protection is enabled by IP Address Blocker from LionScripts.com.