Khutbah Jumat, Menjaga Diri Dari Penyakit (Nafsu) Syubhat
Khutbah Jumat, Menjaga Diri Dari Penyakit (Nafsu) Syubhat - ilustrasi

Khutbah Jumat, Menjaga Diri Dari Penyakit Syubhat

Khutbah I

Khutbah Jumat - MutiaraPublic 1

Hadirin, jama’ah jumat yang dirahmati Allah SWT

MutiaraPublic.com – Pada Khutbah Jumat kali ini, marilah kita sejenak renungkan, betapa kita selalu terkesima dengan gemerlap kemewahan yang ada di dunia ini, yang kadang kala tidak sedikit telah menyeret kita serta mereka yang kita sayangi, menuju kobaran api neraka. Padahal Allah SWT telah jelas sekali memerintahkan bagi hambanya untuk menyelamatkan diri dan mereka dari kobaran api nereka. Sungguh Hanya dengan Taqwalah kita bisa mengharapkan pertolongan Allah SWT, supaya diberi kemudahan dalam menunaikan kewajiban serta dapat menyelamatkan diri dan keluarga dari siksa Allah SWT.

Jama’ah Jumat yang dirahmati Allah SWT

Kita bersama-sama telah merasakan, bahwasanya gelombang materialisme di berbagai lini kehidupan ini sungguh terasa menyempitkan rongga pernafasan kita, terutama bagi mereka (orang-orang) yang tidak tahan dengan berbagai godaan syaitan. Materialisme yang sudah bergandengan dengan konsumerisme ini semakin hari semakin menjepit hati nurani dan kejujuran manusia.

Materialisme yang sudah bergandengan dengan konsumerisme ini  telah mendesak manusia untuk melepaskan dirinya dari kemiskinan dan kesederhanaan. Seolah-olah yang namanya sederhana itu tidak adalagi, dan yang ada itu hanyalah kemewahan. Seolah-olah tidak adalagi kehidupan bersahaja yang ada hanyalah hidup berbelanja.

Materialisme dari sebuah pemikiran yang selalu mengedepankan bahwasanya harta kekayaan dan dunia gemerlap merupakan kuci segalanya dalam kehidupan ini. Artinya kekayaan itu merupakan nilai tertinggi yang mutlak dalam kehidupan manusia. Tidak hanya itu, mereka bahkan telah beranggapan bahwasanya Harta itu adalah satu-satunya solusi sedangkan miskin (tidak punya banyak harta) adalah bencana.

Jama’ah Jumat yang dirahmati Allah SWT

Kehidupan sekarang ini, di tengah kota besar dan di daerah-daerah yang sudah mulai berkembang, dalam menata hidup itu semakin agak rumit. Bukan disebabkan sulitnya dalam mencari uang, namun dikerenakan susahnya menemukan uang yang halal. Sebab kondisi dizaman sekarang ini, hampir semuanya dicampur yakni antara yang halal dan yang haram. inilah yang dinamakan syubhat (menyatakan tentang keadaan yang samar tentang kehalalan atau keharaman dari sesuatu).

Seperti misal ;

Kita makan di restoran, atau di warung makan, atau di pinggir jalan adalah suatu hal yang halal, Namun bila restoran atau warung makan tersebut itu juga menjual berbagai makanan haram, babi dan termasuk juga minuman keras, maka makanan kita menjadi syubhat.

Menerima uang sebagai tanda terimakasih adalah suatu hal yang halal, Akan tetapi jika pemberinya itu adalah pengelola diskotik atau klub malam maka uang yang ada dalam amplop tersebut menjadi syubhat.

Mengerjakan sebuah proyek dari aparat negara atau kementrian sebagai rekanan itu adalah suatu yang halal, Akan tetapi jika dalam mendapatkan proyek itu kita harus menyogok atau main mata dengan instansi terkait, maka hasil proyeknya tersebut akan menjadi syubhat.

Begitulah seterusnya…, Sungguh betapa hidup ini sudah diselimuti dengan kesyubhatan. Dan anehnya lagi jarang sekali diantara mereka yang berani atau mau mengakui serta mau berhati-hati dalam menghindarkan dirinya dari syubhat. Hanya karena sebuah tuntutan nafsu belaka untuk memiliki dan membeli.

Jama’ah Jumat yang dirahmati Allah SWT

Bukan maksud saya untuk menakut-nakuti betapa rumitnya kehidupan di zaman sekarang ini, Namun saya hanya mengabarkan saja bahwasanya betapa Negara kita ini telah mengalami kemunduran kwalitas, akibat dari menuruti nafsu-nafsu syubhat yang semakin hari semakin kuat, yang semakin hari berlarut-larut. Sebab jika syubhat ini terus dituruti dan diikuti oleh kita, maka niscaya kita akan jatuh pada jurang keharaman, dan sungguh keharaman itu akan cepat menghantarkan bagi pelakunya kedalam (menuju) lembah kenistaan.

Oleh sebab itulah, untuk mengekang nafsu ingin memiliki kita, yang bermuara pada materialisme dan konsumerisme, serta menjadi patron di kehidupan modern ini. Ada baiknya kita semua belajar lagi pada suatu kebijakan lokal para sufi tentang “wira’i” (suatu konsep dalam menjaga perilaku di kehidupan dari berbagai barang syubhat).

Sebab pada umumnya manusia terpeleset dikarenakan ia terlalu sering menuruti nafsu memiliki atau nafsu keinginan, dan sangat jarang sekali keinginan yang beridentitaskan pada kehalalan. Maka dari itu cara untuk menghindarinya yakni dengan menurunkan nafsu memiliki atau nafsu keinginan kita serendah-rendahnya. Semakin rendah (sedikit) rasa keinginan kita untuk memilikinya, maka semakin sedikit pula dia tejebak dalam jurang kesyubhatan.

Syaikh Abdullah, dalam Syarah Hikam telah mengungkapkan perihal 4 hal yang bisa kita gunakan sebagai pegangan untuk menghindari diri dari semangat menuruti nafsu keduniawian ini, sebagai berikut ;

Pertama, Yaqin.

Yakin akan adanya rizqi yang diberi (dibagikan) oleh Allah SWT. Cobalah kita selalu ingatkan diri kita, pada saat kita ingin melakukan tindakan yang berbau haram. Dan Ingatlah bahwasanya tanpa kita melakukannya, sesungguhnya Allah SWT akan memberikan rizqi yang cukup kepada kita. Sebab semua makhluk yang ada di muka bumi ini Allah SWT sudah siapkan masing-masing rizqinya. Oleh karena itu, janganlah kita kawatir bahwa kita tidak mendapat bagian atau terlewatkan. (Baca Juga Ini ; Aa Gym ; Mari Kita Pelajari, Cara Menjemput Rezeki)

Kedua, Menggantungkan diri sepenuhnya hanya pada Allah SWT.

Mengenai rizqi janganlah kita sampai melakukan atau menggantungkan diri pada sesama manusia. Sebab hal tersebut akan membuat kita menjadi seorang yang peminta-minta. Begitu kuat dan besarnya harapan yang kita simpan dalam diri sehingga mengucilkan serta mengabaikan rasa malu sebagai peminta-minta. Sperti halnya seorang pengemis yang selalu berharap belas kasihan dari sesama serta pemberian dari orang lain. . Naudzubillah..!

Sungguh dizaman sekarang ini seorang Pengemis beraneka ragam, mulai dari seorang pengemis gembel, pengemis berdasi, pengemis bersorban, hingga pengemis bergitar. Semuanya itu semata-mata berawal dari ketidak puasan dirinya dalam menghindari dari kuatnya nafsu keinginan untuk memiliki.

Ketiga, Merasa tenang dengan apa yang diberikan oleh Allah SWT.

Bahwasannya hidup dalam keadaan kaya atupun sederhana atau hidup berkecukupan, semuanya dapat diterima dengan lapang dada. Dalam artian Kekurangan dan kemewahan itu merupakan ujian dari Allah SWT. oleh karena itu, bagaimanapun situasi dan kondisi keadaan hidup kita di dunia ini sebaiknya diterima dan dijalani dengan hati tenang dan tentram.

Keempat, Merasa tenang ketika kita ingat bahwasanya semua yang berlaku di dunia ini, tidaklah lain kecuali kehendak dari Allah SWT.

Ini merupakan urusan hati kita. Ketika semuanya telah berjalan dan terjadi pada diri kita, Entah kejadian itu telah membuat diri kita nyaman atau tidak, yang pasti Ingatlah kepada Allah SWT, ingatlah bahwa sesungguhnya dengan mengingat Allah SWT hati ini menjadi tentram.

Demikianlah khutbah Jumat kali ini, meskipun hanya sedikit, semoga bermanfaat !

Khutbah Jumat - MutiaraPublic 1b

Khutbah II

Khutbah Jumat - MutiaraPublic 2a

Khutbah Jumat - MutiaraPublic 2b

 Baca juga ini : Khutbah Jumat Lainnya, Lengkap !

 

 

 

Oleh : Ustad Jauhari
Redaktur : Babur Rahmah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

IP Blocking Protection is enabled by IP Address Blocker from LionScripts.com.