Khutbah Jumat : Ketaqwaan Di Bulan Ramadhan

Khutbah I

Khutbah Jumat - MutiaraPublic 1

Ma’asyiral muslimin jama’ah jumat yang dirahmati Allah SWT

MutiaraPublic.com – Marilah pada saat yang bahagia ini, kita semua bersama-sama meningkatkan ketaqwaan di bulan Ramadhan ini, meningkatkan iman dan taqwa kita kehadirat Allah SWT. yakni dengan cara memperhatikan dan menjalankan dengan sebaik-baiknya apa yang menjadi perintah Allah SWT dan apa yang menjadi larangan-laranganNya, sehingga kita termasuk menjadi golongan hamba yang beruntung baik itu di kehidupan dunia ini maupun kelak di akhirat, Amin-amin ya Rabbal ‘alamin.

Ma’asyiral muslimin jama’ah jumat yang dirahmati Allah SWT

Dalam surah Al-Baqarah, ayat [183] Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

{” Wahai (kalian) orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa “}.

Jelas sekali ayat di atas menerangkan bahwasanya taqwa itu merupakan tujuan utama dari ibadah puasa kita di bulan Ramadhan ini. Permasalahannya adalah Apakah arti Taqwa itu ? Apakah “Taqwa” itu hanya cukup dengan sekedar mengisi hari-hari Ramadhan ini dengan ibadah saja ? Ataukah hanya dengan memperbanyak Amal dan sedekah saja di bulan Ramadhan ini ? Tentu Tidak Saudaraku !, Sungguh itu bukan cermin dari “Ketaqwaan””. Karena Taqwa sejatinya merupakan sisi ibadah yang sangat-sangat identik dengan pengekangan yang didasari dan dilandasi oleh rasa takut kita akan menyalahi perintah Yang Maha Kuasa, Yang Maha Agung, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, Allah SWT.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam sebuah kitabnya yakni Minhajul Abidin, bahwasanya :

إن العبادة شطران: شطرالاكتساب وشطر الاجتناب. فالاكتساب فعل الطاعة والاجتناب الامتناع عن المعاصى والسيئات وهو التقوى. وان شطر الاجتناب على كل حال أسلم وأصلح وأفضل وأشرف للعبد من شطر الاكتساب

{” Ada 2 sisi dalam beribadah kepada Allah SWT. Yang Pertama, adalah Syatrul Iktisab (Sisi Pelaksanaan), dan yang kedua, adalah Syatrul Ijtinab (sisi larangan). Sisi pelaksanaan (Syatrul Iktisab) adalah melaksanakan perintah-perintah Allah SWT inilah yang di maksud makna Tho’at. Sedangkan dari sisi larangan (Syatrul Ijtinab) adalah mencegah diri dari perbuatan maksiat dan mencegah diri dari keburukan-keburukan, inilah arti dari Taqwa. Artinya sisi larangan (Syatrul Ijtinab) ini jauh lebih baik, lebih utama, serta lebih mulia bila dibandingkan dengan sisi pelaksanaan (Syatrul Iktisab). “}

Maka dalam penerapan konsep Taqwa di bulan puasa Ramadhan ini lebih bermakna/ berupa penghindaran. atau istilah tepatnya adalah mengekang diri dari ajakan naff-su dalam berbuat makshiat kepada Allah SWT, baik itu makshiat lahir maupun makshiat batin.

Oleh karena itulah makna asal dari kata Puasa yakni adalah Al-imsak (menahan) artinya menahan diri dari segala tuntutan naff-su. Di mulai dari makan, minum, menggunjing, berbelanja berlebih, berbohong, hingga dengki, iri hati, dan riya’. Semua bujukan-bujukan naff-su tersebut haruslah kita hindari di bulan puasa Ramadhan ini, karena semuanya itu bisa mengurangi bahkan, Naudzubillah.. semuanya itu bisa menghapus pahala-pahala kita dari ibadah puasa Ramadhan ini !

Ma’asyiral muslimin jama’ah jumat yang dirahmati Allah SWT

Sungguh hasud di hati itu lebih cepat menghabiskan amal-amal kita sebagaimana halnya api yang melahap kayu bakar ! Sebagaimana sabda Baginda Rasulullah SAW yang mengatakan :

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ اِلاَّ الْجُوْعُ وَ الْعَطَشُ

{” Betapa banyak orang-orang (diantara kita) yang berpuasa (tetapi mereka) tidak mendapatkan balasan kecuali lapar dan haus “}.

Di sinilah sebenarnya rasa takut itu harus kita terus-menerus pelihara. Rasa Takut dan kahwatir akan kegagalan kita dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Padahal kita mengetahui bahwa ibadah yang terdapat dalam puasa Ramadhan ini memiliki pahala yang berlipat-lipat ganda, bukankah kita akan menyesal jikalau pahala tersebut (pahala yang telah kita lakukan) lenyap hanya gara-gara keteledoran kita saja yang selalu menuruti hawa naff-su !

Saudaraku, Jika sudah ada kesadaran seperti ini, maka tentunya kita tidak akan lagi berlaku sombong, kita tidak akan berani menyombongkan diri akan segala amal-ibadah yang kita lakukan. Sehingga kepala ini pun akan merunduk/ merendah diri serta hati ini pun juga tidak akan berani berburuk sangka kepada hamba-hamba lain, mengingat diri kita ini-pun tidak terjamin dari kesalahan-kesalahan yang berakibat dosa. Karena bisajadi mereka yang taraf hidupnya secara sosial dan ekonomi tidak mapan, ternyata mendapatkan derajat yang tinggi dalam ibadah-ibadahnya. Wallahua’lam !

Demikianlah khutbah jumat singkat kali ini semoga dengan tulisan ini ( ketaqwaan di bulan ramadhan ) membawa banyak kebaikan dan man’faat untuk kita. Minimal ini dapat meyakinkan pada diri agar tidak mudah memandang remeh akan amal-amal kecil dan juga amal-amal mereka (orang lain).

Khutbah Jumat - MutiaraPublic 1b

Khutbah II

Khutbah Jumat - MutiaraPublic 2a

Khutbah Jumat - MutiaraPublic 2b

 

 

 

Oleh : Ustadz. Ahmad Hasan
Redaktur : Babur Rahmah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.