Kisah Nyata ; Kebijakan dan Keteladanan Suami Yang Shaleh (ilustrasi)
Kisah Nyata ; Kebijakan dan Keteladanan Suami Yang Shaleh (ilustrasi)

Kisah Nyata ; Kebijakan dan Keteladanan Suami Yang Shaleh

MutiaraPublic.com – Pernikahan itu telah berjalan hampir 4 (empat) tahun, Akan tetapi, pasangan suami istri tersebut belumlah dikaruniai seorang anak. serta mulailah gunjingan menerpa mereka, setiap tetangga kanan-kiri berbisik dengan mengatakan ; {” Kok mereka masih belum punya anak juga ya…, Memang permasalahnya ini ada di siapa ya ? si Suami atau si Istri ya… ? “}. Dari ucapan bisikan tetangga tersebut, akhirnya kemudian menjadi berisik.

Selanjutnya tanpa sepengetahuan siapa pun (baik sanak keluarga maupun tetannga), si Suami-Istri itupun bergegas pergi ke salah satu seorang dokter untuk berkonsultasi, serta melakukan pemeriksaan mengenai kemandulannya tersebut. Setelah dilakukan pemeriksaan, Hasil lab menyimpulkan bahwa sang Istri merupakan seorang wanita yang mandul, sedangkan untuk Sang Suami tidak ada masalah sedikit pun (apapun) Serta dokter menvonis bahwa tidak akan ada harapan bagi sang Istri tersebut untuk bisa sembuh, dalam artian tidak ada peluang baginya untuk hamil dan memiliki keturunan (anak).

Melihat hasil dari lab seperti itu, Sang suami pun mengucapkan kalimat : {” Innalillahi Wa Innailaihi Raji’un… “}, lalu kemudian ia menyambungnya dengan ucapan : {” Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin… “} ucap Sang Suami teersebut.

Kemudian Sang Suami pun sendirian memasuki ruang dokter tersebut, dengan membawa hasil dari lab serta sama sekali ia tidak memberitahu Sang Istri dan membiarkannya (Sang istri) untuk menunggu di ruang tunggu khusus perempuan (ruang tunggu terpisah dari kaum laki-laki).

Lantas, Sang Suami pun berkata kepada Sang Dokter : {” Maafkan saya Dokter…, Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan ini, akan tetapi, saya mohon.. dan saya minta tolong, agar nantinya anda menjelaskan kepada istri saya bahwasanya yang bermasalah (mandul) itu ada di saya, sedangkan dia (si istrinya) tidak ada masalah apa-apa “} ucap Sang Suami kepada Dokter tersebut.

Secara spontan, Sang Dokter pun menolak serta terheran-heran dengan permintaan Sang Suami tersebut. Namun, Sang Suami terus memaksa-maksa Sang Dokter itu, dan akhirnya Dokter pun setuju untuk mengatakannya pada Sang Istri bahwasanya masalah (mandul) tersebut ada pada sang suami dan sementara istri tidak ada masalah apapun.

Dengan persetujuan tadi itu, Sang Suami pun segera memanggil Sang Istri yang telah cukup lama menunggunya, serta tampak pada wajahnya kemuraman dan kesedihan. Kemudian bersama-sama sang istri ia memasuki ke ruang dokter. Maka Sang Dokter pun membuka amplop hasil lab tersebut, lalu ia membaca serta mentelaahnya, dan kemudian Dokter berkata :

{” …Ooh, ternyata kamulah wahai Farhan (nama samaran si suami) yang mandul, sementara istrimu baik-baik saja (tidak ada masalah), dan hal ini tentunya tidak ada harapan bagimu Farhan untuk sembuh “} ucap Sang Dokter, sesuai permintaan dari Sang Suami tersebut.

Mendengar pengumuman Sang Dokter tersebut, sang suami berkata : {” Innalillahi, wa innailaihi raji’un… “} dan rautnya wajahnya terlihat seakan ia seseorang yang menyerah kepada Qadha dan qadar dari Allah SWT.

Kemudian pasangan Suami-Istri itu pun pulang ke rumahnya, dan setelah berminggu-minggu kemudian, tersebarlah gunjingan/ isu gosip mengenai berita tentang rahasia tersebut baik itu ke kerabat, sanak saudara bahkan ke seluruh para tetangganya.

Setelah kurun waktu 5 (Lima) tahun berlalu, semenjak peristiwa tersebut serta sepasang Suami-Istri itu terus bersabar, sampai pada akhirnya tibalah detik puncak yang sangat menegangkan, di mana Sang Istri berkata kepada Sang Suaminya :

{” Wahai Farhan… (nama samaran sang suami), saya telah menahan sabar selama hampir 9 (sembilan) tahun, saya menahan semuanya untuk lebih bersabar serta saya tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang-orang berkata ; “Betapa baik dan shalihahnya Sang Istri itu, yang selalu setia mendampingi Sang Suaminya selama 9 tahun, padahal dia tahu kalau suaminya itu, tidak bisa dan tidak akan memperoleh keturunan”. Akan tetapi, pada saat ini (sekarang) rasanya saya sudah cukup untuk bersabar wahai si Farhan…, saya ingin supaya engkau menceraikan saya secepatnya, agar saya dapat menikah lagi dengan lelaki lain yang bisa memberikan keturunan (anak) pada ku, dan saya pun dapat melihat anak-anakku, mengasuhnya dan menimangnya “} Ungkap emosi Sang Istri pada Farhan (Sang Suami).

Mendengar ungkapan emosi Sang Istri yang memuncak tersebut, sang suami pun berkata : (” Hai.. Istriku yang yang tercinta…, sungguh ini sebenarnya merupakan cobaan dari Allah SWT. kepada kita, kita mesti bersabar ya…, kita harus…, mesti… dan mesti … “}. tutur Sang Suami kepada Istrinya dengan nada berceramah di hadapannya.

Akhirnya Sang Istri tersebut berkata : {” OK, Saya akan berusaha bertahan dari kesabaran ini hingga 1 tahun lagi, serta ingat.. hanya 1 tahun…, tidak lebih… “} ucap Sang Istri.

Sang suami pun menyetujuinya, dan dalam diri Sang Suami pun, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT. memberi petunjuk serta jalan keluar yang terbaik bagi dirinya dan juga Istrinya.

Setelah beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri itu jatuh sakit, dan hasil dari lab mengungkapkan bahwa sang istri sedang mengalami gagal ginjal. Mendengar keterangan dari hasil lab tersebut, serontak jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya (Sang Istri). dan Ia berkata kepada suaminya tersebut :

{” Semua ini gara-gara kamu si Farhan…., selama ini aku sudah cukup menahan kesabaranku, sehingga aku menjadi seperti ini, lantas kenapa selama ini engkau tidak segera menceraikan saya, ingat si farhan… saya kan ingin punya anak, saya ingin menimang bayi, memomong dan saya kan…, saya kan… ?????? “} Marah sang Istri Kepada Si Suami.

Di saat situasi yang genting tersebut, tiba-tiba suaminya berkata :

{” Maaf Istriku, saya ada tugas keluar negeri, serta saya berharap semoga engkau baik-baik saja ya “} tutur Suami.

{” Halaah…, pergi saja kau Farhan “} jawab sang istri.

{” Ya, saya akan pergi karena tugas serta sekalian saya mau mencari donatur ginjal, semoga saya cepat dapat donatur ginjal “}. tutur Sang Suami tersebut.

Sehari sebelum operasi, maka datanglah Sang Donatur tersebut, ke tempat pembaringan sang istri. Dan disepakatilah bahwa pada besok akan segera dilakukan operasi pemasangan ginjal yang diperoleh dari sang donatur tersebut.

Ketika itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia pun berkata dalam batinnya : {” Oh… Suami macam apaan dia itu…, istrinya lagi operasi, eh…. malah dia pergi meninggalkanku terkapar dalam ruang bedah operasi ini “}

Setelah selang beberapa jam, proses operasi pun berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan lamanya, suaminya pun datang, dan tampaklah pada wajah Sang Suami tersebut tanda-tanda orang yang lagi kelelahan.

Ketahuilah bahwa Sang Donatur Ginjal tersebut tidak ada lain adalah Si Suami itu sendiri. Ya betul, suaminya tersebut telah menghibahkan satu ginjalnya untuk Sang Istri, tanpa sepengetahuan dari Sang Istri, sanak keluarga, tetangga dan siapa pun mereka, terkecuali dokter yang dipesannya supaya menutup rapat rahasia tersebut.

Dan subhanallah…!

Setelah kurun waktu 9 (Sembilan) bulan dari pasca operasi tersebut, Sang Istri pun di vonis hamil dan dapat mempunyai anak. Maka serontak bergembiralah Sang Suami-Istri tersebut, beserta keluarga besar dan para tetangganya yang dulu sering menggosipi mereka.

Suasana rumah tangga pun seakan sudah kembali normal, serta sang suaminya pun telah menyelesaikan studi S2 nya di fakultas Ekonomi Syariah di kota Malang, dan ia pun telah bekerja sebagai seorang pengusaha sukses di wilayah Jawa Timur.

Pada suatu hari, Sang Suami tersebut ada tugas jauh perihal usahanya, serta Sang Suami tersebut lupa untuk menyimpan buku hariannya dari atas mejanya, buku harian tersebut selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa di sengaja pula, Sang Istri menemukan buku harian tersebut, lalu membuka-buka buku itu serta membacanya.

Hampir saja ia terjatuh pingsan ketika menemukan rahasia mengenai dirinya dan rumah tangganya. Ia pun menangis meraung-raung. Kemudian, Setelah agak reda, ia pun segera menelpon suaminya, dan menangis, ia berkali-kali mengulang kalimat permohonan maaf pada suaminya. dan Sang Suami hanya bisa membalas suara telpon istrinya tersebut dengan menangis pula.

Dan setelah peristiwa tersebut, selama hampir 3 bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah Sang Suaminya itu. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya kebawah, sebab menurut ia (Sang Istri tersebut) tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.

Semoga Kisah Bijak Ini dapat Menginspirasi kita semua..!

Amin…

 

 

Oleh : Farhan (Nama Samaran)
Reporter : M. Ivan J.
Redaktur : Aminatul Jannah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

MutiaraPublic.com – Pernikahan itu telah berjalan hampir 4 (empat) tahun, Akan tetapi, pasangan suami istri tersebut belumlah dikaruniai seorang anak. serta mulailah gunjingan menerpa mereka, setiap tetangga kanan-kiri berbisik dengan mengatakan ; {” Kok mereka masih belum punya anak juga ya…, Memang permasalahnya ini ada di siapa ya ? si Suami atau si Istri ya… …

Review Overview

0

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

IP Blocking Protection is enabled by IP Address Blocker from LionScripts.com.