Balada Kolam Raksasa (Untuk Kampung Halamanku) - Foto ; surabayaDOTtribunnewsDOTcom
Balada Kolam Raksasa (Untuk Kampung Halamanku) - Foto ; surabayaDOTtribunnewsDOTcom

Balada Kolam Raksasa (Untuk Kampung Halamanku)

Ada satu titik dimana manusia berada pada ketidakberdayaannya sebagai hamba.
Benar-benar tidak berdaya.
Diamuk alam, ditelan kelam.
Menggigil dalam balutan selimut lusuh,
mengadu pada langit kosong,
mematung di depan istana reyot.

***

Lantas beberapa petinggi negeri ini berbondong-bondong turun ke jalanan,
seperti anak kecil yang riuh rendah menyerbu pasar malam.
Bersahut-sahutan, saling berebut paling nyaring.
Di depan kilatan sorot kamera, menyuarakan: Rakyat harus dibantu,
rakyat tidak boleh dibiarkan menderita.
Dan masih banyak lagi. Sangat lihai mereka bersilat lidah.
Sedang tidak jauh dari pasar malam tersebut, hanya beberapa puluh meter,
ada balita yang harus diselipkan dalam bak mandi,
dibawa menuju tempat yang lebih aman.
Sedang tidak jauh dari pasar malam tersebut, hanya beberapa puluh meter,
ada seorang anak yang terseret derasnya arus sungai.
Mati!!
Sedang tidak jauh dari pasar malam tersebut, hanya beberapa puluh meter,
Seorang ibu-ibu dengan suara ringkihnya berteriak,
“Kami sangat lapar, seharian hanya mendapatkan satu nasi bungkus itu pun basi!”
Masya Allah!!

***

Ada benarnya juga syair Ebiet,
alam mulai enggan bersahabat dengan kita, manusia.
Mungkin mereka terlalu banyak kita sakiti,
terlalu sering kita koyak,
terlalu lama kita gerogoti.
Maka, jangan heran kalau mereka murka.
Milyaran meter kubik air digelontorkan,
karena memang rumah mereka sudah kita sulap jadi vila.
Jutaan hektar tanah dilongsorkan,
karena memang penyangga mereka kita tebang jadi kebun teh
Kalau masih saling menyalahkan, kapan akan selesai?
Kalau masih sibuk berkomentar, kapan menindak konkrit?
Tutup rapat mulutmu, ikat kuat lidahmu!
Mulai gunakan tangan dan kaki untuk bergerak!
Bergerak kembali pada yang seharusnya!
Kembali bercumbu mesra dengan alam.
Kita perlu membelai lembut mereka,
agar mereka juga tidak mencekik kencang leher kita.

 

Sidoarjo, 21 September 2014

 

 

 

Oleh : mgkurniawan
Reporter : M.G. Kurniawan
Redaktur : Erlinda Natalia
Dipublikasi : MutiaraPublic.com


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Ada satu titik dimana manusia berada pada ketidakberdayaannya sebagai hamba. Benar-benar tidak berdaya. Diamuk alam, ditelan kelam. Menggigil dalam balutan selimut lusuh, mengadu pada langit kosong, mematung di depan istana reyot. *** Lantas beberapa petinggi negeri ini berbondong-bondong turun ke jalanan, seperti anak kecil yang riuh rendah menyerbu pasar malam. Bersahut-sahutan, saling berebut paling nyaring. …

Review Overview

0

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.