Slogan Puasa Ramadhan Di Persimpangan Jalan

“Marhaban Ya Ramadhan, Selamat Datang Bulan Ramadhan”.

MutiaraPublic.com – Saat Ramadhan datang, tiba-tiba mata kita disuguhi dengan tumpukan bener, spanduk, dan iklan di berbagai media massa, baik elektronik maupun cetak, yang isinya bertuliskan slogan di atas (Marhaban Ya Ramadhan, Selamat Datang Bulan Ramadhan). Anda juga bisa mendengar ungkapan yang senada dari para muballig dan da’i yang menyampaikan mauidhah hasanah menjelang ramadhan tiba.

Jika sekilas, kalimat yang tertera itu begitu simpel dan praktis, hampir tak menimbulkan pertanyaan, karena memang sudah maklum. Akan tetapi, penulis sedikit terheran dengan kalimat di atas, kenapa kok heran ? Karena bulan Ramadhan dengan sendirinya akan datang meskipun kita tidak menyambutnya. Bagi kami, bulan Ramadhan akan selalu datang pada setiap tahun, yang tentu keutamaannya sangat besar, sekaligus menjadi bagian dari pondasi Islam yang ke-tiga (Puasa).

Kami menduga, bahwa munculnya slogan puasa Ramadhan tersebut animo dan ekspresi kebahagiaan Umat Islam akan hadirnya bulan Ramadhan, karena datangnya hanya satu kali dalam satu tahun, sehingga segala sesuatunya dipersiapkan sedini mungkin, hingga pelaksanaan puasa di bulan Ramadhan menjadi khusu’.

“Sucikan Hati Di Bulan Yang Sangat Mulya Ini”

Slogan di atas ini-pun tak ketinggalan menghiasi jalan, pertigaan, perempatan, dan pelbagai tempat lainnya. Sayangnya ia hanya muncul di bulan Ramadhan saja, dan Apakah di bulan Ramadhan saja momen untuk menyucikan Hati ? Padahal Bulan-Bulan yang di mulyakan Allah SWT sangat banyak, kenapa kok tidak menuliskan sebuah kalimat ketika mau masuk bulan Rajab (misalnya) atau bulan Muharram, misal dengan kalimat. “Sucikan Hati Di Bulan Yang Mulya Ini“. Aneh tapi realitanya slogan tersebut ada, terutama menjelang bulan Ramadhan. Padahal bagi kami, “kalimat sucikan hati” ini tidak hanya berlaku untuk bulan-bulan tertentu saja, justru sebaliknya kita diperintahkan untuk menyucikan hati di setiap saat, agar segala bentuk ibadah yang kita laksanakan tersebut mendapatkan ridho dari Allah SWT.

Ada lagi sebuah slogan yang bagi kami memahami kalimat tersebut membuat sedikit tertawa, atau mungkin agak geli juga di telinga. Dengan menggunakan kalimat : Mari Kita Hormati Bulan Ramadhan. Bagi kami khususnya penulis, mungkin meminjam istilah dari KH. Musthofa Bisri/ Gus Mus (Plt Rois Am PBNU 2014-2015) yakni, sejak kapan bulan Ramadhan minta di hormati. padahal, meskipun kita tidak mengatakan seperti itu bulan Ramadhan akan selalu terhormat dengan sendirinya, karena sejatinya Allah SWT yang menjamin kehormatan bulan Ramadhan tersebut. Kalau begitu, apa maksud/ arti kita menghormati bulan Ramadhan sedangkan Allah SWT sudah menjaminnya.

Mungkin sebagian dari kita ada yang mengira maksud dari kalimat tersebut agar seseorang menghormati orang yang berpuasa ? dengan tidak makan dan minum di depannya yang berpuasa, dengan tidak mengajak bertengkar, atau boleh saja dengan tidak boleh membuka warung pada saat bulan Ramadhan. Bagi kami hal-hal tersebut sah-sah saja, dan juga ada benarnya, kerena kalau kita tidak puasa, makan atau minum disembarang tempat atau mengajak orang untuk bertengkar itu termasuk perbuatan yang tidak terpuji.

Lalu bagaimana kalau membuka warung pada bulan puasa, apakah mendapat dosa karena menyediakan makanan untuk orang yang tidak berpuasa, meskipun si penjualnya berpuasa ? Bagi kami tidak terlalu sulit, hanya kita kembalikan kepada niat/ tujuan kita. Kita menjual makanan untuk menyediakan orang musafir (Orang bepergian/ dalam perjalanan jauh), yang mana Allah SWT memberikan keringanan dan dispensasi untuk tidak berpuasa ? Atau mungkin juga bagi perempuan yang lagi berhalangan yang mana Allah SWT tidak membolehkannya berpuasa ? Atau mungkin juga untuk orang sakit. Kalau kita tidak menyediakan, maka bagaimana nasib mereka semua.

Silahkan Warung di buka, tidak perlu-lah kita main hakim sendiri, dengan cara melarang membuka warung atau dengan menyegel bahkan yang sampai parah dia menutup warung tersebut dengan cara merusak sambil berteriak-teriak Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar !, yang akhirnya akan meruncing permasalahan baru. Kalau memang mau buka, silahkan dibuka, silahkan dibuka warungnya, kalau tidak laku ya salahnya sendiri, kenapa buka warung pada waktu bulan puasa ? dengan menggunakan pemikiran jernih seperti ini, kita tidak perlu menyalahkan atau berprasangka jelek. Akibatnya, puasa kita terkontaminasi oleh sifat-sifat yang tidak terpuji.

“Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, Semoga Amal Anda Diterima oleh Allah SWT”.

Sungguh sebuah kalimat yang sangat Indah dan sangat mengena sasaran. Siapapun sah-sah memasangnya, terbuka bagi siapa saja yang mau membuatnya, tak peduli kantor pemerintahan, kantor swasta, organisasi agama, ormas, atau tempat ibadah meskipun itu bukan masjid saja, atau perseorangan yang tidak beragama Islam, akan menampilkan sebuah kalimat tersebut. Akan tetapi bagi kami ada yang masih kurang dalam kalimat tersebut; Mengapa hanya pada bulan Ramadhan saja mereka menampilkan (memasang) kalimat tersebut ?

Bagaimana dengan nasib bulan-bulan yang lain yang jarang sekali ditampilkannya kalimat-kalimat yang senada, seperti; “Selamat Merayakan Kelahiran Rasulullah, Semoga Amal Anda Di Terima Oleh Allah SWT”, atau kalimat lainnya tentang Hijrah Nabi Muhammad SAW dengan sebuah ucapan; “Marilah Kita Berhijrah Dari Malas Beribadah Menjadi Rajin, Semoga Amal Ibadah Anda Diterima Oleh Allah SWT”. Atau bisa juga dengan menampilkan sebuah slogan kalimat tentang Isra’ Mikraj Nabi Muhammad SAW.

Fenomena yang tidak kalah unik dan hebonya lagi adalah hampir stasiun televisi, jauh-jauh hari sebelum Tanggal 1 Ramadhan mendadak heboh dengan banyaknya perfilman yang bernuansa islami, para prenseter laki-laki mendadak mengenakan peci dan baju koko, dan yang perempuan mengenakan kerudung dengan baju menutupi aurat, dengan model yang beraneka ragam. Bahkan yang sebelumnya mengumbar-umbar auratnya justru ketika masuk bulan Ramadhan dia menutuoi aurat-nya, mungkin juga bisa mendadak jadi orang sholeh dan sholiha.

Tontonan yang berbaur ghibah dan membicarakan aib orang lain sedikit dikurangi, dan berganti haluan dengan memperlihatkan bagaimana artis-artis ibu kota berbuka puasa, menampilkan aneka menu makanan atau minuman mereka, cara memakau baju koko, serta gaya memakai kerudung, hingga cara pelaksaan sholat tarawih. Mendadak, hampir semua penduduk Indonesia menjadi orang muslim. Akan tetapi, Apakah hal-hal sedemikian akan terus berlanjut sampai setelahnya bulan Ramadhan ? kiranya tidak butuh jawaban, pastinya para pembaca yang budiman sudah memahami dan mengerti jawabannya.

Ironisnya… Apa arti sebuah kalimat kalau kita tidak bisa menghayatinya ? apa arti sebuah penghayatan kalau tidak ditunjang dengan sebuah kalimat yang baik ?. Apa arti sebuah kemauan untuk melaksanakan ibadah bila kita hanya mengerjakan dengan setengah-setengah ?.

Mungkin kita berhenti sejenak di sini, sambil kita berpikir tentang penghayatan makna puasa bulan Ramadhan serta menghayati peristiwa di selain bulan Ramadhan, agar ibadah yang kita lakukan bukan hanya sekedar momentum sesaat.

Ketika masuk bulan Ramadhan kita berusaha untuk sabar dan menahan diri, i’tikaf di dalam masjid, dan istiqamah membaca Al-Qur’an, tapi ketika berakhir bulan Ramadhan hal tersebut menjadi raib entah kemana perginya, yang ujung-ujungnya semua menjadi kosong bila kita tidak meghayati bersama, dan akhirnya kita tidak mendapatkan berkah dan ridho dari Allah SWT. Naudzu billahi min dzalika !

 

 

 

Oleh : Abie el Faiz (Perumahan Mondoroko, Singosari, Malang)
Redaktur : Aminatul Jannah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.