Ramadhan - Menjadi Pribadi Yang Berkualitas Melalui Puasa
Ramadhan - Menjadi Pribadi Yang Berkualitas

Ramadhan : Menjadi Pribadi Yang Berkualitas Melalui Puasa

{” Wahai orang-orang beriman, Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu, agar kamu bertaqwa “} (Q.S.: Al-Baqarah : 183).

MutiaraPublic.com – Saudaraku pembaca, penulis sadar, sesungguhnya ayat tentang puasa di atas sudah amat sering Anda dengar dan Anda baca, sehingga seperti telah kehilangan aktualitas dan kesakralannya. Mungkin karena itu penulis ingin mengulas kembali ayat tersebut. Apalagi setelah penulis merenungi, bahwa puasa kita selama ini masih bersifat rutinitas tahunan dan jauh dari kata berkualias.

Tujuan dan Keistimewaan Puasa

Ayat di atas menunjukkan, untuk apa Anda berlapar-lapar. Tidak lain agar Anda mampu menjadi pribadi
yang berkualitas dan yang bertaqwa. Pribadi yang berkualitas tercermin dalam kehidupan yang tiada pernah putus hubungannya dengan Allah, memiliki kerendahan hati, akhlak al-karimah, kepekaan dan interaksi sosial yang tinggi, kejujuran, mampu menjalani kehidupan beragama, berkeluarga, dan bermasyarakat dengan baik.

Ibadah puasa memiliki karakteristik tersendiri, terutama bila dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya, karena puasa merupakan ibadah yang dinisbatkan langsung kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam hadits Qudsi. Diriwayatkan dari Abu Hurairah :

{” Setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh hingga tujuh ratus lipat. Puasa itu adalah milik-Ku, dan hanya Aku sendirilah yang akan membalasnya “} (HQR. Ahmad dan at-Tirmidzi).

Puasa yang Anda lakukan itu membutuhkan tingkat kesabaran yang tinggi. Modal utama kesabaran itu menaungi setiap gerak badan, hati, dan pikiran secara total. Karenanya, hanya orang-orang yang sabarlah yang mampu menjalankan puasa dengan baik, hinggak Allah SWT menganugrahkan pahala tanpa batas bagi mereka. Allah SWT berfirman :

{” Sesungguhnya Allah SWT memenuhi pahala orang-orang yang bersabar tanpa batas “} (Q.S.: Az-Zumar : 10).

Itulah kemuliaan puasa bulan Ramadhan, hingga Allah SWT membuka pintu-pintu surga dan membatasi laju dan gerak setan dalam menggoda manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

{” Apabila bulan Ramadhan tiba pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan pun dibelenggu “} (H.R.: Bukhari Muslim).

Puasa Mengasah Kualitas Jiwa

Saudaraku pembaca, untuk membentuk pribadi yang berkualitas dan unggul, sebaiknya Anda tidak berpuasa dengan memenuhi aturan standar belaka, tetapi juga harus memperhatikan beberapa rahasia dan etika puasa, agar puasa Anda itu mampu mengantarkan Anda menjadi manusia yang Unggul di sisi-Nya.

Imam Ghazali berkata : “Ketahuilah, sesungguhnya puasa itu ada tiga tingkatan : Puasa tingkatan umum (saum al-‘umum), Puasa tingkatan khusus (saum al-khusus), dan Puasa tingkatan khusus di atas khusus (saum khusus al-khusus). Puasa Umum, adalah menahan perut dan ke-maluann dari kebutuhan syahwat. Sedangkan Puasa Khusus, ialah me-muasa-kan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan semua anggota badan dari pelbagai perilaku maksiat. Adapun Puasa khusus di Atas Khusus, adalah puasa hati dari perilaku rendah, puasa pikiran dari hal-hal yang dianggap rendah oleh syari’at, dan puasa pikiran dari apa saja selai Allah SWT”.

Jika Anda tidak mampu mencapai level/ tingkatan ketiga, maka Anda bisa berusaha menggapai level/ tingkatan kedua, yaitu “Puasa Khusus”. Yakni puasanya orang-orang shalih, dengan memuasakan seluruh anggota badan kita dari perilaku-perilaku tercela, untuk membentuk pribadi yang berkualitas dan unggul.

Dalam hal ini, Imam Abu Hamid al-Ghazali membimbing Anda, agar puasa Anda itu mampu mengasah kualitas jiwa, hingga dapat meraih tingkatan kedua tersebut, melalui Enam langkah berikut :

Pertama, puasakan penglihatan Anda dari apasaja yang dimakruhkan dan dicela oleh Islam. Dan puasakan pandangan Anda dari apasaja yang mengakibatkan hati lalai mengingat Allah. Rasulullah SAW bersabda :

{” Pandangan itu adalah salah satu anak panah iblis laknatullah. Barang siapa meninggalkannya karena takut kepada Allah niscaya Allah akan menganugerahkan manisnya iman di dalam hatinya “} (HR.: Hakim dari Khudaifah).

Kedua, puasakan lisan Anda dari dusta, ghibah, namimah (adu domba), perilaku fakhsya’ (amoral),
jifa’ (watak dan atau ucapan kasar), dan permusuhan. Orang yang berpuasa hendak-nya tidak perlu banyak membual dan beromong kosong, tetapi memperbanyak ingat Allah SWT dan membaca Al-Qur’an. Inilah yang dinamakan puasa lisan. Diriwayatkan oleh Bishir ibn Kharis, bahwa Sufyan pernah berkata : “Ghibah itu dapat merusak (pahala) puasa”. Al-Laith meriwayatkan dari Mujahid: “Ada dua hal yang dapat merusak (pahala) puasa, yaitu: ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba)”.

Rasulullah SAW bersabda : {” Sesungguhnya puasa itu (ibarat) tameng, maka jika diantara kamu berpuasa, janganlah sekali-kali berkata keji dan jangan pula bertindak bodoh. Jika ada yang mengajakmu bertikai maka katakanlah kepadanya: Saya sedang berpuasa, saya sedang berpuasa “} (HR. Abu Hurairah).

Ketiga, Puasakanlah pendengaran Anda dari apa saja yang dibenci, dimakruhkan, atau yang diharamkan oleh syariat Islam. Karena segala sesuatu yang diharamkan oleh agama, diharamkan pula mendengarkannya. karena itu Allah menyamakan antara pendengar keburukan dengan penyantap barang haram.

Allah SWT berfirman : {” Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita-berita bohong, banyak memakan harta hara… “} (QS.: Al-Maidah : 42).

Lebih dari itu, syariat ini tidak memperbolehkan umat untuk bersikap acuh atau berdiam diri atas ghibah, karena Allah berfirman : {” …maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka… “} (QS.: An-Nisa’ : 140).

Keempat, Sertakan semua indera Anda untuk berpuasa juga, mulai dengan tangan hingga kaki dari perbuatan dosa. Bebaskan perut Anda dari barang-barang subhat (subhat adalah barang yang identitas kehalalan dan keharamannya masih belum jelas), apalagi saat berbuka. Tidaklah berarti apa-apa puasa Anda, jika sepanjang hari Anda menahan diri dari makanan dan minuman yang halal, kemudian berbuka dengan mengkonsumi sesuatu yang haram. Model puasa seperti ini bagaikan orang yang membangun istana megah tetapi merobohkan kota. Ketahuilah, sesungguhnya makanan halal itu bisa membahayakan diri Anda, bukan karena jenisnya, tetapi karena kuantitasnya yang tak berukuran. Disinilah salah satu urgensi puasa. Ia dapat meminimalisasi dampak negatif tersebut.

Kelima, Jangan berlebihan dalam mengkonsumsi makanan dan minuman tersebut saat berbuka, meskipun makanan tersebut halal, hingga perut Anda terisi penuh, karena Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang mengisi perutnya dengan makanan dan minuman secara berlebihan, meskipun halal.

Bagaimana mungkin puasa yang Anda lakukan itu mampu mengasah Jiwa, jika saat berbuka melahap semua makanan yang dilewatkan saat siang hari, bahkan boleh jadi menu makanan yang disajikan itu jauh lebih variatif daripada menu yang dikonsumsi pada hari-hari biasa. Inilah tradisi yang sepertinya sudah terlanjur mengkristal di tengah masyarakat, sehingga ada kesan, bahwa puasa yang dilakukan itu sekedar mengganti jadwal makan dan minum. Akibatnya, bulan puasa yang digadang-gadang sebagai bulan pelebur dosa, berlalu begitu saja, tanpa ada atsar (bekas) dalam kehidupan nyata. Karena itu nabi bersabda :

{” Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu melainkan hanya sekedar lapar dan dahaga saja “} (HR. An-Nisai dan Ibnu Majah).

Keenam, Sambungkan hati dan pikiran Anda kepada Allah SWT, seraya takut dan berharap cemas saat berbuka. Karena tiada seorang pun mengetahui dengan pasti apakah puasa yang dijalankan itu diterima oleh-Nya, hingga ia tergolong orang-orang yang dekat dengan Allah SWT, atau bisa jadi puasanya itu tertolak, hingga ia tergolong orang-orang yang merugi. Hendaknya rasa takut dan berharap cemas ini juga dapat diterapkan di semua ibadah.

 

Itulah Enam hal yang kiranya perlu Anda renungkan sebelum atau saat Anda berpuasa. Jika puasa itu dianggap sebagai pengasah jiwa dan mental, yang endingnya Anda menjadi pribadi yang berkualitas, maka pertanyaannya sekarang adalah, sejauh mana kualitas puasa yang Anda lakukan ?

Jawaban dari pertanyaan ini sepertinya menjadi kunci utama. Jika puasa Anda berkualitas, maka ia bagaikan alat pengasah yang mampu menajamkan penglihatan mata batin Anda. Akan tetapi jika puasa yang anda jalankan itu jauh dari berkualitas, maka ia laksana alat pengasah yang tak mampu menajamkan jiwa Anda. Ketahuilah, diantara tanda-tanda tumpulnya penglihatan jiwa dan mata batin seseorang adalah rendahnya semangat beribadah, rendahnya kemampuan mengenal diri sendiri, dan terutama mengenal Allah SWT.

Ya Allah, perkenankanlah puasa kami ini menjadi pengasah jiwa dan raga kami yang kerap kali membeku dan kaku, hingga kami lesu dan luruh dalam menjalankan ibadah…

Ya Allah, sudilah Engkau berkenan menerima puasa kami, hingga kami meraih predikat muttaqin di sisi-Mu…

 

 

 

Oleh : Mohammad Kholison, M.Pd.I
Redaktur : Aminatul Jannah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

IP Blocking Protection is enabled by IP Address Blocker from LionScripts.com.