Lupa Niat Puasa
ilustrasi - Lupa Niat Puasa (foto : blogspot)

Lupa Niat Puasa, Inilah Hukumnya !

Hukum Niat Puasa Ramadhan

MutiaraPublic.comLupa Niat Puasa ?. Saudaraku yang dimuliakan Allah SWT, Niat merupakan rukun dalam berpuasa sebagaimana hal ini terjadi pada seluruh ibadah-ibadah kita. Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW bersabda :

{“ Sesungguhnya setiap amalan tersebut (syah atau tidaknya amalan itu) tergantung dengan niatnya dan setiap orang (niscaya) akan mendapatkan apa yang dia niatkan. “} (H.R. : Al-Bukhari dan Muslim)

Niat dalam ibadah tersebut, baik dalam wudhu, dalam shalat, dalam puasa ramadhan, dan dalam puasa lainnya, itu tidak perlu dilafazhkan (niatnya). Sebagaimana Ibnu Taimiah rahimahullah, berkata : {“ Mengucapkan niat (secara “jahr”/ nyaring) tidak diwajibkan dan tidak pula disunnah-kan, sebagaimana berdasarkan kesepakatan kaum muslimin “} (Majmu’ Al-Fatawa: 22/218-219). Dan di dalam (22/ 236 – 237) beliau juga berkata : {“ Niat itu adalah merupakan maksud dan kehendak, sedang-kan maksud dan kehendak sendiri tempatnya itu adalah di hati, bukan di lisan/ lidah, berdasarkan kesepakatan orang-orang yang berakal. Walaupun mereka berniat dengan hati-nya (tanpa ia memantapkan-nya dengan ucapan, “pen”.), Maka niatnya itu “syah” menurut Empat Imam, dan juga menurut seluruh imam kaum muslimin baik yang belakangan maupun yang terdahulu. “}

Waktu Berniat Puasa Ramadhan

Telah diriwayatkan dengan sanad-nya yang shahih, yakni dari Hafshah dan dari Ibnu Umar ra., bahwa kedua-nya tersebut berkata :

{“ Barangsiapa (diantara kalian) yang tidak memalamkan niatnya (niat puasa ramadhan) sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya “} (H.R.: Abu Daud, At-Tirmizi, An-Nasai , dan Ibnu Majah)
Saudaraku yang dimuliakan Allah SWT, Hadits diatas ini disebutkan oleh para ulama bahwa mempunyai hukum marfu’, yakni dihukumi jika hadits diatas ini Rasulullah yang mengucapkannya. Karena dari isi hadits tersebut merupakan sesuatu yang bukan berasal dari pendapat pribadi dan dari ijtihad.

Maka sungguh hadits diatas ini sangat jelas, bahwasanya waktu “niat” dalam puasa ramdhan itu adalah sepanjang malam hingga terbitnya fajar. Dan Hadits diatas ini juga telah menunjukkan bahwa wajibnya niat puasa ramadhan itu dimulai dari malam hari dan tidak syahnya puasa orang yang berniat setelah terbitnya fajar. Ini merupakan pendapat dari mayoritas Asy-Syafi’iyah, Al-Malikiah, dan juga Al-Hanabilah. Dan pendapat ini juga dikuatkan oleh An-Nawawi, Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiah, Asy-Syaukani, dan Ash-Shan’ani.

Lain halnya dengan puasa sunnah (puasa selain bulan ramadhan), waktu berniat pun itu tidak harus pada malam hari, Akan tetapi bisa kita lakukan setelah terbit fajar hingga sebelum tergelincirnya matahari (yakni waktu Dzuhur) dengan syarat bahwa dia masih belum makan/ belum minum sedikitpun, sejak Subuh tersebut. Bahkan tidak itu saja, Ulama yang ber-mazhab Hambali, untuk melaksanakan puasa sunnah itu membolehkan kita berniat setelah waktu “Dzuhur”.

 

Saudaraku yang dimuliakan Allah SWT, Kita kembali ke masalah/ persoalan diatas, seandainya kita lupa niat puasa atau berniat pada saat malam hari atau kita tertidur, bolehkah kita melakukan niat puasa (puasa ramadhan) setelah terbit fajar atau pagi harinya ?

Nah.., Untuk jawaban detailnya, mari kita simak dan ikuti berbagai pendapat dari Imam Besar, berikut ini :

Menurut Pendapat Madzhab Hanafiyah :

Lebih baik bagi kita jika niat puasa (apa saja, baik puasa wajib atau puasa sunnah) sebaiknya dilaksanakan bersamaan dengan terbit-nya fajar, sebab saat waktu terbit fajar tersebut adalah merupakan awal ibadah kita. Jika hal itu dilaksanakan setelah terbitnya fajar, yakni untuk semua kategori/ jenis puasa wajib yang sifatnya menjadi tanggungan/ hutang (seperti misalnya : puasa kafarat, puasa qadla, atau puasa karena telah melaksanakan haji tamattu’ dan qiran, sebagai gantinya yakni adalah dam/ denda, dll) maka hal itu tidak sah puasanya !

Sebab, menurut madzhab Hanafiyah ini, puasa-puasa wajib jenis diatas tersebut niatnya harus dilakukan pada malam hari. Akan tetapi, beda lagi/ lain halnya dengan puasa wajib yang hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti misalnya Puasa Ramadhan, Puasa Nadzar, dan Pusa-puasa sunnah yang tidak dilaksanakan dengan sempurna, maka hal ini boleh saja kita niatnya dilakukan yakni setelah fajar sampai sebelum Dzhuhur.

Menurut Pendapat Madzhab Malikiyah :

Niat itu dianggap “sah” untuk semua kategori/ jenis puasa, apabila dilaksanakan pada saat malam hari atau dilaksanakan bersamaan dengan terbitnya fajar. Dan adapun mengenai/ apabila seseorang tersebut berniat sebelum terbenamnya matahari yakni pada hari sebelum-nya (berniat sebelum tergelincir-nya matahari pada hari dimana dia berpuasa) maka puasanya tersebut “tidak sah” meskipun itu hanya puasa sunnah.

Menurut Pendapat Madzhab Syafi’iyah :

Untuk seluruh jenis puasa yang sifatnya “Wajib” (baik puasa itu dilakukan pada waktu-waktu tertentu seperti misalnya : puasa Ramadlan, atau puasa yang sifat-nya menjadi sebuah tanggungan seperti; puasa qadla’, puasa nazar, kafarat, dll..) niat haruslah dilaksanakan pada saat malam hari. Adapun mengenai puasa sunnnah, niat tersebut bisa dilaksanakan sejak malam hari hingga sebelum tergelincirnya matahari.

Sebab Rasulullah SAW. pada suatu hari pernah berkata kepada ‘Aisyah : {“ Apakah engkau mempunyai makanan ? “}.

‘Aisyah menjawab : {“ Tidak punya “}.

Terus Rasulullah berkata : {“ Kalau begitu aku puasa “}.

Lantas kemudian ‘Aisyah mengisahkan bahwasanya Rasulullah SAW, pada hari yang lain berkata kepadanya : {“ Adakah sesuatu yang bisa dimakan? “}.

‘Aisyah menjawab : {“ Ada “}.

Lantas kemudian Rasulullah berkata : {“ Kalau begitu saya tidak berpuasa, meskipun saya telah berniat puasa “}.

Menurut Pendapat Madzhab Hambaliyah :

Pendapat tersebut tidak berbeda dari madzhab Syafi’iyah, mazhab ini mengharuskan “niat” tersebut dilakukan pada saat malam hari, dan hal ini berlaku untuk semua jenis puasa wajib. Adapun mengenai puasa sunnah, madzhab Hambaliyah berbeda dengan madzhab Syafi’iyah, yaitu niat bisa dilaksanakan meskipun kita telah melewati waktu Dzhuhur (yakni dengan syarat ; bahwa kita belum makan atau belum minum sedikitpun sejak fajar).

 

NB.: lebih baik jika kita bermadzhab Syafi’i (Syafi’iyah) atau Hambali (Hambaliyah) maka hendaklah berkomitmen saja dengan madzhab Imam tersebut, hal ini dikarenakan agar supaya kita tidak mencampur-adukan antara madzhab-madzhab, yang pada akhirnya justru akan dapat merusak ibadah kita.

Wallahu A’lam Bishawab !

 

 

 

Oleh : Ustadz. Ahmad Hasan
Redaktur : Nur Laely


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.