Kultum Ramadhan - Mengkaji Puasa Sejati
Kultum Ramadhan - Mengkaji Puasa Sejati

Kultum Ramadhan : Mengkaji Puasa Sejati !

MutiaraPublic.com – Dikisahkan pada suatu hari, Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah yang merupakan salah seorang Ulama’ besar, sedang berpuasa. Menjelang berbuka puasa ketika beliau akan berbuka dengan 2 potong Roti kering, datanglah seorang pengemis kerumah beliau meminta-minta. Imam Ahmad merasa iba (kasihan) dengan seorang pengemis tersebut.

Apa yang dilakukan oleh Beliau (Imam Ahmad bin Hambal) ?. Ternyata 2 potong roti kering yang dibuat beliau untuk berbuka puasa, dua-duanya diberikan kepada sang pengemis tersebut. Sehingga, tidak ada makanan tersisa di dalam rumah Imam Ahmad. Lantas beliau berbuka dengan Apa ?. Beliau berbuka dengan segelas air putih, dan kemudian di keesokan harinya beliau juga Sahur dengan air putih. MasyaAllah.. Sungguh Luar biasa…!

Begitulah orang-orang yang puasanya telah mempengaruhi perilaku kesehariannya, dan puasa bagaimanakah yang akan mempengaruhi perilaku seorang Hamba ?. Puasa bukan sembarang puasa, tetapi puasa sejati !

Apakah Puasa Sejati ?

Puasa sejati bukanlah seperti yang dipahami oleh banyak kalangan, Bahwa puasa adalah hanya sekedar menahan diri dari Makan dan Minum saja. Puasa itu bukan hanya menahan Lapar, dan Bukan hanya menahan Haus saja. Akan tetapi puasa itu maknanya lebih luas dari itu.

Sebagaimana yang telah diisyaratkan oleh seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang bernama Jabir bin ‘Abdullah r.a., kata beliau : {” Apabila engkau berpuasa hendaklah telinga kamu ikut berpuasa, lisan kamu ikut berpuasa, dan mata kamu ikut berpuasa “}.

Jadi, Jabir bin Abdullah memberikan makna yang sangat dalam dari ibadah Puasa. Ternyata Puasa itu bukan hanya sekedar menahan perut, menahan lapar dalam perut, atau menahan dahaga dari kerongkongan, bukan ! Akan tetapi beliau (Jabir bin Abdullah) menjelaskan bahwasanya Puasa itu adalah juga puasa telinga, puasa itu juga puasa mata, puasa itu juga puasa lisan.

Apa itu Puasa Mata ?.

Puasa mata tentunya adalah puasa menjaga mata ini supaya tidak melihat sesuatu hal yang diharamkan oleh Allah SWT. Demi mengamalkan Firman Allah SWT :

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ . وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

{” Katakanlah (Wahai Muhammad) kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; (sungguh) yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah (Wahai Muhammad) kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, serta janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya “} (QS.An Nuur:30-31).

Jadi di dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan kepada kita, bahwa mata ini pergunakanlah untuk sesuatu yang tidak dimurkai oleh Allah SWT.

Maka kita sangat heran dengan perilaku orang yang berpuasa, ketika sore harinya atau bahkan pagi harinya, dan biasanya kata mereka di sore harinya mereka kongkow-kongkow, nongkrong, nga-buburit dan lain-lainnya di jalan-jalan. Pandangan matanya tidak di jaga padahal dia lagi berpuasa. Nah.. terus puasanya itu puasa Apa ?. Apakah puasanya itu hanya sekedar perut saja, Tentu tidak !. Mata juga diperintahkan untuk berpuasa.

Inilah yang di maksud Puasa Sejati ! tidak cukup hanya mata kita saja yang diperintahkan untuk berpuasa. Lisan kita juga diperintahkan untuk berpuasa.

Apa itu Puasa Lisan ?.

Puasa lisan maksudnya adalah menggunakan lisan ini dalam hal-hal yang diridhoi oleh Allah SWT. Kalaupun misalkan tidak bisa mengucapkan kata-kata baik, maka Diamlah ! Sebagaimana kata Nabi Muhammad SAW, bersabda :

{” Barangsiapa yang beriman kepada Allah SWT, dan hari akhir (maka) hendaklah dia berkata baik atau (lebih baik) diam, Barangsiapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya “} (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Saudaraku, inilah yang dimaksud puasa, puasa lisan. Sungguh aneh sekali, orang yang berpuasa namun ia masih saja menggunjing orang lain, menebar gosip aib orang lain, dia masih saja suka berbohong kepada orang lain, dan bahkan dia masih saja suka mencaci orang lain. Ini Puasa Gaya Apa ? , ini puasa model apa yang seperti itu ?. Naudzubillah..!

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَ العَمَلَ بِهِ وَ الجَهْلِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ فِي أَن يَدَعَ طَعامَه وشرابَه

{” Barangsiapa (diantara kalian) tidak meninggalkan perkataan “Dusta”, mengamalkannya dan bersikap bodoh, maka (sungguh) Allah SWT tidak butuh terhadap sikap-nya meninggalkan makan dan minumnya (Allah SWT tidak butuh puasanya) “} (H.R.: Bukhari & Abu Daud).

Sungguh ini adalah peringatan keras dari Rasulullah SAW, bahwa orang yang berpuasa tapi dia masih rajin menggunjing, menebar gosip dusta, dia masih suka mencaci dan menghina orang lain. Maka orang-orang yang seperti ini puasanya tidak dibutuhkan oleh Allah SWT. dan bahkan puasanya tersebut bisa sampek taraf tidak di terima oleh Allah SWT jika dia tidak memenuhi syarat dan rukun puasa tersebut. Naudzubillah..! inilah yang dimaksud puasa Lisan. Terus Puasa Telinga…

Apa itu Puasa Telinga ?.

Puasa Telinga ini maksudnya adalah kita berusaha untuk tidak memasukkan sesuatu kedalam telinga kita, kecuali sesuatu itu adalah sesuatu yang baik. Maka jangan habiskan waktu kita berpuasa untuk mendengarkan Gosip-gosip yang biasanya disiarkan di acara televisi, yang biasanya membicarakan Aib-aib orang lain, membeberkan aib orang lain, membongkar atau dibuka aibnya dihadapan public/ masyarakat umum.

Kenapa kita harus dengarkan itu ?. Sungguh jangan habiskan waktu puasa kita untuk mendengar hal-hal yang tidak baik. Maka habiskanlah waktu puasa kita untuk mendengar hal-hal yang baik dan positif seperti misal : mendengar bacaan Al-Qur’an, mendengarkan ceramah dan pengajian, dan lain seterunya. Inilah yang dimaksud puasa telinga.

Oleh karena itu, Puasa Sejati adalah orang yang telah berpuasa bukan hanya pada perutnya saja, Tetapi orang yang berpuasa dengan matanya berpuasa, mulutnya berpuasa, serta Telinganya juga berpuasa. Bahkan seluruh Anggota Tubuhnya pun ikut berpuasa.

Itulah Puasa yang hakiki, itulah Puasa Sejati !. Maka, Selamat Berpuasa dan berpuasalah yang sejati, jangan sampai puasa ramadhan ini tidak mempunyai makna yang hakiki. Semoga Allah Meridhoi. Aamiin !

 

 

 

Oleh : Ustadz. Abdullah Zaen, MA.
Redaktur : Aminatul Jannah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.