Tausiah Ustad Yusuf Mansur, Tujuh Amal
Tausiah Ustad Yusuf Mansur, Tujuh Amal

Tausiah Ustad Yusuf Mansur : Tujuh Amal Tanpa Tujuh Amal

Siapa berbuat tujuh amal tanpa tujuh amal lain, tak bergunalah tujuh perbuatan itu.

Siapa takut tanpa hati-hati seperti takut siksa ALLAH S.W.T, namun tak berhati-hati dari dosa, tak bergunalah takutnya itu.

Siapa berharap tanpa beramal, umpama berharap pahala Tuhannya tanpa beramal kebajikan, sia-sialah baginya harapannya itu.

Siapa berniat tanpa melaksanakannya, tak bergunalah niatnya itu.

Siapa berdoa tanpa berusaha, seperti doa supaya dapatkan taufik hidayah-NYA, tapi tak berusaha mendekatinya, tak berartilah doanya.

Siapa istighfar tanpa menyesal, sia-sialah istighfarnya.

Siapa tidak sesuai antara lahir dan batin, seperti lahirnya berbuat baik batinnnya tidak ikhlas, sia-sialah kebaikannya.

Siapa beramal, tapi tidak ikhlas, tak bergunalah amalnya.


MutiaraPublic.com
– Tausiah Ustad Yusuf Mansur, Seorang pemuda yang menyatakan cinta kepada kekasihnya, “Sayangku, aku sungguh menncintaimu…” namun tidak pernah mengiringi pernyataannya dengan memberi , melindungi, membahagiakan, atau ungkapan nonverbal lainnya, maka sang kekasih akan menjawab “Rayuanmu gombal!”

Demikian pula ALLAH S.W.T. Seseorang melakukan amal, namun tidak sungguh-sungguh, maka ALLAH S.W.T akan menganggap kita menyepelekannya sehingga tidak mendapatkan ganjaran. Sia-sialah amalnya.

Soseorang yang selalu merasa ngeri kalau mendengar ancaman ALLAH S.W.T berupa siksa neraka tapi ia cuek saja ketika melakukan dosa, maka rasa ngerinya itu tidaklah berguna. Padahal perasaan ngeri ketika mendengar ancaman ALLAH S.W.T adalah amal yang baik –yang meskipun sekedar ngeri- akan mendapatkan pahala. Ada juga orang yang ketika disebutkan pahala-pahala yang akan didapat apabila mengerjakan amal kebaikan maka ia berharap mendapatkan ganjaran itu. Namun ia tidak berusaha mengerjakan amal kebaikan. Ia hanya membayang-bayangkan, betapa enaknya tinggal di surga, betapa senangnya dikelilingi bidadari dan sebagainya. Maka harapannya apabila tanpa dibarengi amal akan sia-sia belaka. Mana bisa orang tanpa berusaha mengharapkan hasil. Sunnatullah di dunia pun seperti itu.

Lebih jauh dari sekedar mengharapkan adalah berniat melakukkan amal perbuatan. Orang ini sedikit lebih sadar daripada orang yang sekedar membayangkan dan mengharapkan. Namun niat saja tanpa sampai kepada amal juga sia-sia. Terkecuali, batalnya amal tersebut karena ketidaksengajaan. Misalnya seseorang berniat naik haji, uang dikumpulkan sudah cukup, namun karena kesehatan yang tidak memungkinkan, ia batal berangkat haji. Meskipun niat sudah berniat dan belum beramal, insya ALLAH niatnya tercatat sebagai amal.

Yang berikutnya adalah orang yang berdoa harus diiringi dengan usaha. Meskipun ALLAH S.W.T MAHA dalam segala sesuatu, namun Ia tidak pernah atau jarang sekali memberikan sesuatu diluar kebiasaannya, terkecauli kepada para Nabi dan Wali ALLAH S.W.T. Artinya, kalau seseorang hanya berdoa tanpa berusaha, ya bagaimana ALLAH S.W.T akan megabulkan doanya. Hal ini seiiring dengan ayat :

“Sesungguhnya ALLAH S.W.T tidak mengubah keadaan seseuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (ar-Ra’ad [13]: 11)

Dalam pribahasa latin sering disebut dengan “Ora et Labora”. Berdoa sambil bekerja. Oleh karena itu, di samping berdoa berusaha wajib adanya. Ia harus membawa mangkuk atau piring sebagai tempat makanan tersebut, ALLAH S.W.T juga akan mengabulkan doa apabila kita sudah menyiapkan tempatnya. Tanpa ada “tempat”, mustahil doa akan terkabul.

Demikian pula dengan orang yang selalu beristighfar namun tanpa diiringi rasa penyesalan. Sesalnya hanya berada di mulutnya. Namun dalam melakukan perbuatan itu lagi. Semisal seseorang yang berselingkuh lalu ingat ALLAH S.W.T dan beristighfar. Tetapi dirinya tudak menyesal kerana ketika pasangannya mengajak selingkuh ia kembali melakukannya.

Maka sungguh istighfarnya itu sia-sia. Sama seperti ungkapan kekasih di atas, mungkin ALLAH S.W.T. akan berkata “Istighfarmu gombal…..”

Satu hal yang berkaitan dengan sifat munafik inilah yang berbahaya. Yaitu, lahir tidak sesuai dengan batin. Seseorang diminta menyumbang lalu dikeluarkan uang dari dompetnya tapi dalam hati sebenarnya dia tidak mau menyumbang maka amalnya sia-sia. Mulutnya mengatkan “Oke, Tidak apa-apa, saya maafkan.” Tapi hatinya dongkol bukan main, pemaafannya tersebut tidak akan berbuah pahala. Akhirnya sia-sia belaka kebaikannya itu.

Terakhir, jika seseorang berbuat amal kebaikan namun tidak ikhlas dalam melakukannya, maka amalnya itu juga akan sia-sia. Ia tidak rela dalam berbuat amal. Kalau memberikan seseuatu pada orang lain, ia selalu mengungkit-ungkit kebaikannya itu. Amal yang seperti ini akan menghilangkan pahala orang yang mengerjakannya. Seperti biasa yang dikatakan orang, berbuat amal kebaikan dengan ikhlas laksana seseorang buang hajat. Ia tidak pernah memikirkan “hajat” yang sudah di buangnya itu.

 

 

Tausiah Ustad Yusuf Mansur 
Editor : Suparto
Redaktur : Ning Silviana Sholeha


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

IP Blocking Protection is enabled by IP Address Blocker from LionScripts.com.