Suci Dengan Mujahadah Dan Istiqamah
Suci Dengan Mujahadah Dan Istiqamah

Suci Dengan Mujahadah Dan Istiqamah

MutiaraPublic.Com – Mujahadah menurut bahasa adalah merupakan “perang”, menurut aturan syara’ mujahadah adalah berjuang/ perang melawan musuh-musuh Allah SWT, dan sedangkan Mujahadah menurut istilah ahli hakikat adalah memerangi naf-su amarah bis-suu’ serta memberi beban kepadanya untuk melakukan sesuatu yang berat baginya yang sesuai dengan aturan syara’ (agama).

Saudara/iku MutiaraPublic yang berbahagia. Sebagian Ulama’ mengartikan bahwa :”Mujahadah adalah tidak menuruti kehendak nafsu”, dan ada lagi sebagian Ulama’ lainnya yang mengatakan bahwa ; “Mujahadah adalah menahan nafsu dari kesenangannya” .

Dalam mujahadah terkandung unsur melawan hawa nafsu secara terus menerus. Mujahadah merupakan kunci menunju kesucian, kerana berhubungan dengan kemauan yang kuat dan tekad yang sungguh-sungguh. Hal ini sebagaimana Alah SWT. tegaskan dalam Al-Qur’an :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut [29]: 69)

Kalau niatnya sudah sungguh-sungguh, orang akan terbimbing. Tapi masalahnya, selama ini kita baru “sekedar” atau ala kadarnya. yakni sekedar Sholat, sekedar puasa, sekedar zakat, dan sekedar beribadah lainnya, yang mana semuanya itu dilakukan dengan sekedar/ ala-kadarnya, semuanya itu dikerjakan hanya sebatas mengerjakan kewajiban (hanya sebatas menghilangkan pokok kewajiban saja). Inilah wahai saudara/iku, yang membuat kita tidak nyaman dan tidak nikmat di dalam beribadah. Padahal di dalam kesungguhan dalam ibadah tersebut terdapat banyak kenikmatan. Kesungguhan itu esensinya adalah istiqamah. Saat membaca al-Fatihah, kita meminta hidayah kepada Allah SWT. dengan membaca ihdinashiraatalmustaqiim. Di sini di tuntut sifat istioqamah kita.

Contoh Misalnya; dengan mengerjakan shalat dhuha,  tahajud, sedekah tiap hari, dan menjaga wudhu’, itu saja belum cukup, sebab ada tingkatan yang lebih tinggi, yaitu “istiqamah”. Ini bicara akhlak. Sanggupkah kita sebulan untuk tidak berdusta? Apalagi kalau setiap hari tidak berdusta (jujur), seperti apa orang itu? Tentu sebagaimana janji Alllah SWT. dia akan menjadi manusia yang mulia dan beruntung. Karena kejujuran merupakan dampak dan buah dari keimanannya yang kuat kepada Allah SWT.

Dengan hati yang suci, visi ideal yang kita idamklan akan dapat terealisasi dan niscaya kita akan mendapatkan bimbingan dari Alllah SWT. sehingga kesadaran bimbingan akan sangat utuh terasa. Kalau sudah istiqamah, orang akan merasakan  kenikmatan hidup. Hidup di dunia ini merupakan surga baginya. Karena dia sudah menyucikan dirinya, apa yang di minta Alllah SWT. sudah di lakukan. Dia akan merasakan kenyamanan dan kenikmatan di dalam hidup. Orang yang istiqamah, apa pun yang dia punya berusaha untuk di sucikannya. Punya tangan, dia pakai untuk sedekah dan menolong, dengan kaki dia berjihad. Orang yang menyucikan diri, akan mempunyai kekuatan (untuk melakuklan segenap kebaikan).

 

Semoga kita dijadikan golongan yang istiqamah oleh Allah SWT. Aamiiin !

 

 

 

Oleh : Suparto
Redaktur : Ning Silviana Sholeha


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.