Shalat Tarawih Itu Perlu Penghayatan (Foto: Ulama' Dunia)
Shalat Tarawih Itu Perlu Penghayatan (Foto: Ulama' Dunia)

Shalat Tarawih Itu Perlu Penghayatan

MutiaraPublic.com – Malam itu, jam menunjukkan angka 20.00 WIB pengajian akan di tutup oleh seorang Ustadz yang sedang mengisi jadwal taklim di sebuah Mushalla, sebelum menutup pengajian, beliau mengatakan kepada para hadirin “Mari bagi bapak-bapak dan ibu-ibu yang mau bertanya”. Kalimat tersebut sudah terbiasa dilakukan oleh si Ustadz sebelum mengakhi-ri pngajian. Si Ustadz pun mengulangi kalimat tersebut hingga sampai tiga kali, tapi masih saja belum ada yang mau bertanya. Setelah berhenti agak lama, dengan tenangnya salah seorang pemuda langsung mengacung dirinya untuk bertanya kepada ustad yang sudah lanjut usia; “ustad mau tanyak”. ustadz pun menjawab “baik silahkan”.

“Mana yang benar ustadz.. melaksanakan shalat tarawih 20 rakaat atau 8 rakaat ?” tanya pemuda tersebut. Para hadirin yang mendengarkannya agak sedikit tercengang, lain halnya dengan si Ustadz yang sambil tersenyum beliau menjawab tanpa ada beban sama sekali. “Yang Benar itu ya.. yang terawih, dan yang salah itu yang gak terawih”. Serontak saja para jamaah di buatnya tertawa terpingkal-pingkal dengan jawaban si Ustadz tersebut.

Saudaraku, cerita di atas menggambarkan pada kita, bahwa dalam cabang keagamaan, sebetulnya, kita tidak boleh saling menyalahkan, fanatisme buta, dan menganggap pendapatnya yang selalu benar, sehingga tak mau mengakui pendapat orang lain. Mengenai beberapa jumlah rakaat shalat tarawih sudah menjadi perdebatan para ulama’ sejak dari dahulu. Maka dari itu, seyogyanya bagi kita tidak perlu mengikuti perdebatan tersebut, tinggal kita meyakini saja, terus mengaplikasikan bentuk ibadah.

Bagi kami (penulis) silahkan yang meyakini shalat tarawih 8 rakaat ditambah witir 3 rakaat, lakukan hal tersebut tanpa mengusik atau mengganggu kekhusu’an yang shalat 20 rakaat dengan di tambah witir 3 rakaat, lakukanlah hal ini agar jangan sampai menyalahkan yang 8 rakaat, hanya karena paling banyak ibadahnya. Intinya, mari kita jaga perbedaan ini dengan mengedepankan tali persaudaraan di antara komunitas Islam, sehingga tidak terjadi pecah belah, hanya perbedaan furuiyyah (cabang agama), padahal hal tersebut sungguh sangat dilarang oleh Rasulullah SAW.

Berbeda pendapat sah-sah saja akan tetapi jangan sampai tidak tegur sapa. Mempertahankan pendapat boleh saja, asalkan tidak saling mencela. Pikiranpun boleh panas ketika kita membawa argumentasi yang diyakini kebenarannya, asalkan hati kita tetap dingin dan saling memaafkan satu sama lain. Yang terpenting bagi kita melaksanakan apa yang sudah di yakini kebenarannya sesuai dengan pengambilan dari Al-Qur’an, Hadits, Ijmak, dan Qiyas, sehingga ibadah shalat tarawih yang kita laksanakan tersebut bisa mencapai derajat khusu’.

Jalan Pintas Yang Di Anggap Pantas

Sekumpulan remaja dengan pakaian koko, pakek sarung dan peci yang agak dimiring-miringkan sedikit berjalan-jalan, tak jelas arahnya mau kemana, ada yang bersiul, ada juga yang sedikit bercanda sambil menyanyikan sebuah lagu yang gaya seorang pedangdut H. Rhoma Irama, kemudian berjumpalah mereka dengan seorang Pak Haji yang sudah lanjut usia. Pak Haji tersebut mengatakan: “Mau Kemana Le.. (Le=panggilan bagi pemuda) ?”, tanpa sungkan sama sekali para pemuda tersebut menjawab dengan serempak: “Mau Tarawih Pak Haji ke mushola sana ?”. “Loh kok jauh, kan di depan ada masjid ?” Si Pak Haji tersebut penasaran dengan sikap para pemuda tersebut.

“Kalau disana enak Pak Haji, terawihnya cepat, gak lama kayak masjid ini !” salah satu dari pemuda tersebut menjawab. “Kalau terlalu lama.. nanti saya gak bisa lembur kerja Pak Haji”, Jawab teman yang satunya sambil menunjukkan kantong sakunya yang lagi kosong. “Di Masjid itu banyak yang tua-tua pak haji, gak ada yang seger-seger” jawab temen yang satunya lagi, sambil tertawa. “Ya udah le.. kalo gitu, tak berangkat dulu kemasjid” jawab si Pak Haji dengan tenangnnya. “Enggeh Monggo Pak Haji” para pemuda tersebut menjawab dengan serempak.

Saudaraku, cerita di atas tersebut menggambarkan tentang sebagian dari kehidupan manusia di dunia ini, mungkin kita pernah menjumpai, atau bisa saja tidak, akan tetapi yang sering terjadi di kehidupan ini, apalagi bagi kalangan pemuda, mereka yang selalu diinginkan bagaimana sesuatu bisa cepat selesai, praktis tidak bertele-tele, dan mudah dilakukan. Mungkin slogan yang tepat bagi mereka adalah {” Jalan Pintas Yang Dianggap Pantas “}, ya…, meskipun hal itu terjadi kepada ibadah yang mahdho apalagi yang sebatas sunnah.

Banyak hal yang dilakukan para sahabat Nabi Muhammad SAW, bagaimana para sahabat Nabi Muhammad SAW selalu mengikuti apa yang selalu di lakukan oleh Nabi Muhammad SAW, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Bagaimana para sahabat Nabi Muhammad SAW berlomba-lomba untuk selalu ingat dan menekuni amaliyah Nabi Muhammad SAW, meskipun Nabi Muhammad SAW sendiri sudah meninggal dunia.

Dalam hal ini terjadi ketika shalat Tarawih, pada bulan Ramadhan di tengah malam Nabi keluar dari rumahnya untuk melaksanakan shalat di masjid. Beberapa sahabat melihat hal tersebut, tanpa pikir panjang mereka langsung mengikuti Nabi shalat di belakangnya, Keesokan harinya kabar tentang shalat Nabi dengan sahabat di masjid pada malam hari tersebar, maka sahabat yang lainnya gabung untuk shalat bersama Nabi. Keesokan harinya pun demikian, Bisik-bisik tentang shalat Nabi sudah terdengar hampir kepada semua sahabat, dan yang malam ke-tiga pun sudah semakin banyak sahabat yang shalat, Nabi Muhammad SAW pun akhirnya juga shalat dengan mereka.

Setelah tiba malam keempat, hampir saja masjid tidak muat untuk menampung para sahabat yang mau shalat dengan Nabi, setelah mereka menunggu sangat lama, Nabi pun belum saja keluar, hingga waktu Adzan shalat Subuh mau di kumandangkan. Setelah shalat subuh selesai dilaksanakan, Nabi menghadap pada para sahabat beliau berkata: Aku Tahu apa yang ada dikalian pada waktu malam, aku hanya takut Shalat Tarawih tersebut nantinya di wajibkan bagi kalian dan kalian sendiri tidak mampu.

Kisah di atas yang termaktub di dalam beberapa hadits shahih, bagaimana para sahabat Nabi ingin selalu melakukan apa yang di lakukan oleh Nabi, para sahabat begitu tekun dan semangatnya untuk menjalankan shalat tarawih, dan disinilah peran seorang pemimpin agung, yang mana beliau mengetahui para sahabat tentang batas kemampuan ummatnya, sehingga beliau hawatir kalau se-andainya shalat tarawih di wajibkan oleh Allah SWT, hal ini dijelaskan dalam kitab shahih muslim dan kitab Bulugul Marom.

Awal mulanya Nabi SAW, Shalat tarawih dan witir 11 Rakaat, di dalam sebuah riwayat Sayyidina Umar, ketika beliau menjadi khalifah, memerintahkan sahabat Ubay bin Ka’ab dan Tamin Ad-Dari untuk menjadi imam. Sang Imam pun shalat dengan membaca 200 ayat Al-Qur’an dalam satu rakaatnya. Maka bisa dibayangkan bagaimana lamanya shalat tarawih pada waktu itu, yang waktu Nabi di mulai pertengahan malam sampai menjelang subuh sedangkan pada waktu Sayyidina Umar shalat tarawih di laksanakan pada setelah habis shalat Isyak.

Di sisi lain Imam Malik berpendapat bahwa shalat tarawih adalah 36 rakaat ditambah dengan shalat witir 3 rakaat hal ini beliau mengatakan; “Itulah yang dilakukan oleh penduduk madinah (dengan shalat tarawih 36 rakaat dan witir 3 rakaat pasca masa kekhalifahaan sayyidina Umar bin Khattab r.a.)”. Imam syafi’i menjelaskan tentang shalat 36 rakaat yang dilakukan oleh penduduk Madinah agar apa yang dilakukan, itu sebanding dengan apa yang dilakukan oleh penduduk Mekkah, yang mana penduduk Mekkah setiap selesai 2 rakaat shalat tarawih mereka tawaf dilanjut shalat 2 rakaat kemudian shalat tarawih lagi.

Saudaraku, disini mungkin kita berhenti sejenak sambil menghayati dan berpikir para sahabat melakukan shalat di mulai dari pertengahan malam, ada juga yang shalat di mulai dari pertengahan malam, ada juga yang shalat tarawih dengan 20 rakaat dengan membaca 200 ayat Al-Qur’an ada juga yang shalat sampai 36 rakaat, betapa lamanya shalat tersebut, mungkin kita perlu malu dengan menawar-nawar agar shalat tarawih dilaksanakan cara cepat atau mungkin juga dilaksanakan tarawih secepat kilat atau mungkin juga menginginkan untuk melaju bagaikan bus patas yang cepat.

Dulu disaat Nabi dan para sahabat berlomba-lomba untuk meraih berkah di bulan Ramadhan. diantaranya mereka, ada yang shalat dengan menghatamkan Al-Qur’an, ada yang juga memburu Lailatul Qadar dari malam ke 21 bulan Ramadhan dengan selalu i’tikaf di masjid dan membaca Al-Qu’an serta shalat. Justru yang sering kita jumpai sekarang, kebanyakan dari kita melarikan diri dari shalat tarawih di mushola atau masjid hanya untuk berbelanja di pasar untuk persiapan Hari Raya, yang terjadi jamaahnya semakin maju kedepan. Bahkan biasanya dengan hanya menyisahkan pemain inti yaitu Imam dan Makmum kalau di jumlah menjadi 2 orang. Astaghfirullah…

Dan yang sangat menyedihkan lagi di saat orang-orang mau melaksanakan shalat tarawih, ada di sebagian penduduk yang mau menjalankan shalat tarawih, justru menjadi ajang pertemuan pria dan wanita yang bukan muhrim. Kalau sudah begitu, pupus sudah makna ibadah shalat tarawih karena menjadi momen perbuatan maksiat dan sungguh sangat disayangkan.

 

 

 

Oleh : Mukhlis Abi El Fais (Alumni PP Sidogiri Pasuruan)
Redaktur : Aminatul Jannah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.