Puing-puing Penyesalan
Puing-puing Penyesalan

Puing-puing Penyesalan

MutiaraPublic.com Senja merah itu benar-benar di pelupuk mataku, perjalanan jauh ku tempuh dalam hidupku tanpa arti, hingga terbuang percuma waktuku. Kulit yang mulai keriput, rambut yang mulai memutih adalah saksi kenyangnya diriku dalam berbagai kemaksiatan, terlalu berat dalam dosa di pundakku untuk melangkah kedepan, mengais butiran-butiran debu keimanan.

Berkaca pada pohon tua yang hampir se-usia denganku. Aku jauh lebih buruk bahkan dari sebuah pohon tua di seberang jalan. Dia selalu menjadi pelindung bagi orang-orang yang berteduh dari hujan dan panas. Bahkan tukang becakpun bisa tertidur pulas di atas becaknya di bawah rindangan hotel berbintang lima (karena memang kenikmatan dari Allah SWT itu tak bisa diukur dengan harta apapun).

Akan tetapi sebentar lagi pohon tua itu akan digusur oleh rencana tata kota, dengan alasan pelebaran jalan raya untuk mencegah kemacetan lalu lintas. Seperti juga aku “yang pasti akan digusur” oleh Allah SWT dari dunia ini, tanpa ada nilai manfaat. Tatkala pohon tua itu ditiadakan, banyak kalangan yang menyayangkan, namun ketika kelak aku mati mungkin mereka akan bilang; ‘biarlah dan biarlah dari pada menjadi beban bagi sesamanya’

Saudaraku, sepenggal renungan di atas tersebut mengingatkan kita pada ruang dan waktu yang di berikan oleh Sang Pencipta kepada hamba-Nya. Begitu cepat berlalu, pergi laksana mimpi, kini tinggal puing-puing penyesalan diri:

  • Menyesali masa-masa muda yang sia-sia, tanpa dihiasi dengan memperdalam ilmu agama.
  • Menyesali masa kaya yang berat untuk bersedekah.
  • Menyesali masa lapang yang terbuang percuma (kurang bermasyarakat, hanya karena martabat atau terikan kerjaan).
  • Menyesali masa sehat yang terbelenggu digemerlapnya dunia.
  • Menyesali hidup tanpa amaliah ibadah.

Ini adalah sebuah penyesalan, bukan keputus asaan. Dengan penyesalan sebenarnya kita sudah dipintu hidayah, meskipun ruang dan waktu kita hanya tak seberapa lama. Rasulullah SAW pernah bersabda :

{“ Menyesal adalah taubat, dan orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tak berdosa ”}

Pepatah Negeri Kurma mengatakan: “Waktu adalah (ibarat) pedang”. Seandainya jika kita salah dalam mempergunakan pedang tersebut maka kita akan terbunuh, terhunus, terpancung hingga terkapar. Jangan hiraukan orang berkata; “benua biru (eropa) selalu mengatakan ‘time is money’”. Ingatlah saudaraku, sejatinya harta itu tidak ada artinya kala kita berada di alam barzah.

Jika begitu adanya, maka tak ada alasan bagi kita untuk menunda kebaikan. Segeralah ambil air wudhu’ dan bertaubat. Dirikanlah sholat dan laksanakanlah ibadah-ibadah fardu yang bermanfaat. Di selah-selah waktu luang, manfaatkan untuk memperbanyak istighfar “Astaghfirullaha al-‘Adhim”, karena istighfar dapat melenyapkan dosa-dosa, sebagaimana perumpamaan api terhadap kayu bakar. Maka dari itu perbanyaklah dalam bersholawat kepada baginda Nabi SAW; “Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad”. Maka terkoyaklah hijab (penghalang), sehingga do’a akan terangkat ke haribaab Yang Maha Suci. Di samping itu, lakukanlah beberapa amaliah sebagaimana berikut ini:

  • Berdo’a dan selalu berdo’a, karena do’a itu adalah inti sari ibadah. Rasulullah SAW bersabda: {“ Sesungguhnya Allah SWT mencintai orang-orang yang terus-menerus berdo’a kepada-nya “}.
  • Dzikrul Maut (mengingat mati)
  • Selalu berdzikir, dzikrullah (mengingat Allah SWT), dzikir yang paling utama adalah kalimat “Laa ilaaha illallah” yang insyaallah ringan diucapkan, tetapi berat ditimbangan.

Saudaraku yang saya cintai karena Allah SWT, dengan niat yang ikhlas dan usaha yang keras tentunya kita tidak akan mengulangi masa-masa yang kelam, terjebak dalam keputus asaan, terjebak dalam kemaksiatan.

Senja merah itu tidak lagi menakutkan, bahkan akan menjadi pelita harapan, meskipun kita telah renta, meskipun sebentar lagi malam akan tiba (datang). “(sungguh) mati yang baik itu adalah matinya orang beriman” dan semoga kita termasuk orang-orang yang selalu diberi oleh Allah SWT Khusnul Khotimah, Aamiin yaa robbal ‘alamiin.

 

 

 

Oleh : Edy Santosa
Redaktur : Aminatul Jannah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.