Mutiara Hikmah - Mengingat Nikmat dengan Syukur
Mutiara Hikmah - Mengingat Nikmat dengan Syukur

Mutiara Hikmah, Mengingat Nikmat Dengan Syukur

MutiaraPublic.com – Mutiara Hikmah, Mengingat Nikmat Dengan Syukur, Suatu ketika ada peristiwa kematian di kampungku. Seorang Mbah (kakek tua) telah meninggal dunia. Sebut saja si Mbah Suparjo namanya. Serangan jantung katanya, tepat jam 12 malam waktu itu ketika hujan lebat dan samparan kilat yang saling menyambar. Mungkin sekali beliau (mbah) kaget, dan terkejut setengah mati ketika teramat keras ada bunyi guntur menggelegar, tepat tengah malam.

Ya.., guntur itupun tak hanya memadamkan listrik di sekitar kampung kami, tapi juga menyebabkan serangan jantung akut bagi Mbah Suparjo. Tepat ketika beberapa saat kemudian listrik pun menyala lagi, seluruh isi rumah berteriak histeris. Kala itu Mbah Suparjo telah menghembuskan nafasnya yang terakhir, entah nafas yang ke berapa trilyun dalam sejarah semasa hidupnya yang panjang.

Sayang memang belum ditemukan alat penghitung nafas tersebut, sehingga kita tidak tahu sudah berapa triliun kalikah kita bernapas. Seandainya alat itu memang ada, sungguh akan bisa menambah keimanan kita pada yang Maha Memberi Nafas. Mungkin kita akan selalu ingat dan mawas diri, senantiasa bersyukur bahwa kita masih diberi kesempatan bernafas dengan hidung ciptaan Allah Yang Maha Pemurah, jantung ciptaan Allah Yang Maha Pemurah, paru-paru ciptaan Allah Yang Maha Pengasih dan udara yang juga pemberian Allah Yang Maha Perkasa. Suatu hal esensial yang jarang sekali kita pikirkan dan kita syukuri penuh.

Untung Allah SWT Sang Pencipta Alam Jagad Raya ini tidak komersil. Coba saja jika Allah SWT Maha Pelit. Sungguh, sholat seumur hiduppun tak akan mampu membayar biaya sewa jantung, paru-paru, hidung dan udara yang kita hirup tiap hembusan nafasnya. Bahkan jelas ibadah kita takkkan mampu menukar biaya sewa segala fasilitas yang telah diberikan Tuhan pada kita sebagai modal hidup di dunia.

Lantas, Mengapakah kita tidak bersyukur, wahai orang-orang yang berakal ??? dan Mengapakah kita tidak berbakti pada-Nya, dengan senantiasa menjadi hamba dan khalifahNya yang baik di muka bumi ini ??? Begitu sombong dan angkuh-nyakah kita sehingga hanya sekedar untuk bersujud, menyentuhkan kepala pada tanah-pun dengan menyebut namanya begitu enggan kita lakukan ???

Untung saja Allah SWT bukan kapitalis yang selalu menghitung biaya investasi dengan kurs Dollar atau Rupiah. Pun Allah tidak sedang barter atau jual-beli surga dengan ibadah dan pahala yang kita lakukan. Adakah yang tahu berapakah harga tiket masuk ke surga itu ??? Berapa pastinya jumlah akumulasi pahala sebagai syarat standar untuk masuk surga ??? Sungguh besok di akhirat kelak, seluruh amal ibadah yang telah kita kerjakan ternyata setelah ditimbang dalam “Mizan” tidak mampu untuk menukar sebiji bola matapun. Lalu dengan apa kita akan menebus semua nikmat dan karunia yang Allah SWT berikan ??? Tidak perlu repot-repot, sesungguhnya Tuhan hanya meminta kita untuk bertanggungjawab sebagai makhluk yang berakal.

Saudara/i-ku mutiarapublic yang di Rahmati Allah SWT, Sebagai makhluk dengan penciptaan-Nya yang sempurna. Allah SWT hanya meminta kita untuk selalu bertanggungjawab dengan “Amanah” yang telah dititipkan pada kita. Bumi ini dengan segala isinya, tubuh kita ini dengan segala amal perbuatannya. orang tua kita, istri/suami kita, anak-anak kita, Keluarga kita, kekuasaan kita, harta kita, pengetahuan kita. Saudara seiman sebangsa dan setanah air kita yang sedang kesusahan, anak yatim yang terlantar, pengemis dan gelandangan yang terlunta-lunta dan kelaparan. Ya….., disitulah wajah Allah berada ! Disitulah “Amanah” Allah meminta seluruh hambaNya untuk menghadapkan wajahnya.

Tapi seringkali bahkan kebanyakan dari kita Sok sibuk, Sok Gengsi, dan sok tidak mau tahu dengan Allah Sang Pencipta, mereka mengira bahwa seolah-olah Allah SWT tidak mempunyai kontribusi sedikitpun dalam penentuan hidup kita. Jujur saja wahai Saudara/i-ku, berapa banyak dari kita ini yang ketika bangun tidur lantas mengucap kalimat syukur “Alhamdulillah, kita masih hidup !”. Berapa banyak dari kita yang dengan penuh kesadaran bahwa sesungguhnya kita tidak berkuasa atas diri kita, bahwa ketika kita menghembuskan nafas, ketika jantung ini berdetak, ketika nadi dalam tubuh ini berdenyut, sungguh “saklar”nya semuanya tersebut bukan ada pada kita, tapi Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Saudara/i-ku mutiarapublic yang di Rahmati Allah SWT, Kita tidak bisa bergurau dan bercanda dengan Allah SWT seperti misalnya ; berheti sejenak untuk bernafas, mem-”pause” jantung yang sedang berdetak ini, atau meng-”cancel” nadi yang sedang berdenyut-denyut. Atau meng-”undo” rambut yang tumbuh lebat ini, meng”undo” kuku yang tumbuh dan darah yang sedang mengalir dengan Kuasa-Nya. Sungguh jika Allah SWT menghendaki maka dengan sangat mudahnya “matilah” kita semua.

Tapi berapa banyak dari kita yang mengingat akan mati ??? Bahkan seringkali tawa dan bercanda dengan kematian seolah-olah kita tidak takut akan kematian ??? Bahkan ketika Mbah Fir’un mati-pun, orang tidak ingat kalau dirinya juga akan mengalami mati. Orang sering kali lupa bahkan melupakan bahwasanya “kematian” bisa datang dan jumpa kapan saja. Sungguh Malaikat Izrail (pencabut nyawa) bukanlah penagih hutang yang dengan mudah kita “tipu dengan janji”. Dan Allah SWT tentu tidak “bodoh” dengan macam-macam tingkah laku manusia yang acap kali hina.

Allah SWT tidak dapat dibodohi dengan kalimat penghibur dan sajak kata-kata ; “Maaf Tuhan, saya lagi sedang sibuk. harap nanti saja Sholatnya ya ?”. Allah SWT juga tidak lengah ketika kita mngabaikan-Nya saat berjalan-jalan di Pasar Malem, berjalan-jalan di Mall, melihat panggung hiburan, hura-hura tahun baru, konser dangdut massal, atau bahkan ketika kita sedang menonton layar Televisi. Sungguh sudah berapa banyak dari kita yang mengucap “bismillah” ketika melakukan kegiatan tersebut ? Betapa seolah-olah Allah SWT hanya sekedar khusus diingat sebagai basa-basi hanya ketika kita akan sholat.

Seolah-olah Allah SWT hanya ada di Masjid. Atau tiba-tiba muncul sebagai “tempat mengadu” saat kita dilanda musibah. Tiba-tiba kita sok akrab dengan Allah SWT saat kehidupan ekonomi mulai “kepepet”. Tiba-tiba kita menyembahnya dengan khusyuk saat kita punya maksud dan hajat yang tak sanggup untuk di gapai.

Tapi sungguh Allah SWT sama sekali tidak Goblok dan tolol. Dan Allah SWT tahu betul saat kita pergi melayat kepada tetangga atau kita di layati, bukan mati dan Tuhan yang kita ingat. Tapi kita sibuk membicarakan kenapa si Anu bin Fulan meninggal dunia ? Bagaimana ceritanya kok bisa dia meninggal ? Adakah firasat pasca menjelang kepergiannya ? Dan sekeranjang sampah ucapan belasungkawa yang basa-basi turut mengiringi.

Saudara/i-ku mutiarapublic yang di Rahmati Allah SWT, semuanya ini merupakan pelajaran untuk kita agar memperbaiki diri dan bertawakkal kepada Allah SWT. dan semoga artikel/ tulisan ini bermanfaat untuk menambah dan mempertebal Iman kita kepada Allah SWT. Aamiiiin… Aamiiiin Allahumma Aamiiiiin !

 

 

 

 

Oleh : For Funz on/ Ahmad Jailani
Redaktur : Aminatul Jannah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

IP Blocking Protection is enabled by IP Address Blocker from LionScripts.com.