Meratapi dan Mengkaji Arti Dari Harta Kekayaan ?
Meratapi dan Mengkaji Arti Dari Harta Kekayaan ?

Meratapi dan Mengkaji Arti Dari Harta Kekayaan ?

MutiaraPublic.com – Banyak orang yang mengejar-ngejar harta sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara yang ditempuh. Mereka beranggapan dengan harta melimpah, akan merasa aman, bergengsi, dikagumi banyak orang, dan berbahagia oleh karena apa saja keinginannya terpenuhi dengan mudah.

Tetapi,  apakah  yang demikian itu  benar-benar  terjadi. Tentu,  masih perlu dilihat  dalam kenyataan hidup  sehari-hari.

Pandangan yang mengatakan dengan harta yang melimpah,  segala sesuatu yang diinginkan menjadi mudah didapat, tentu tidak akan ada orang yang  membantahnya.

Buktinya,  dengan  harta kekayaan  orang bisa membeli apa saja. Rumah, mobil, dan apa saja yang diinginkan.  Selain itu,  orang lain    akan menghormati, menghargai, mendekat,  dan bahkan jabatan atau kedudukan bisa diperoleh dengan  mudah.

Maka pantas,  orang  dengan caranya masing-masing,  mengejar harta. Ada sementara orang mencari harta dengan bertani, berdagang, mengeksploitasi tambang, melaut, beternak, mengejar jabatan, dan bahkan lewat carta-cara yang  tidak pantas, misalnya korupsi.

Selain itu,  orang mencari harta bukan sebatas yang dibutuhkan, melainkan hingga tanpa batas, sampai disebut tamak. Kekayaannya tidak saja sebatas untuk memenuhi kebutuhan selama hidupnya, bahkan akan digunakan untuk  sekian banyak keturunannya.

Dalam hal mencari harta, orang  tidak mengenal  batas-batas tertentu. Semakin kaya, seseorang semakin ingin menambah lagi. Mereka belum puas, manakala belum menguasai semuanya. Bahkan, semangat  itu baru  akan berhenti setelah yang bersangkutan dimasukkan ke liang kubur.

Tidak ada orang yang merasa cukup dengan sejumlah harta yang dimiliki. Nafsu mengumpulkan harta, bagaikan seseorang  minum air laut. Semakin banyak air yang diminum, yang bersangkutan semakin merasa haus.
Pertanyaannya adalah, apakah dengan harta, seseorang pasti selamat dan menjadi semakin bahagia. Jawabnya tidak pernah pasti.

Orang kaya yang jujur, selalu memenuhi hak-hak orang lain atas harta kekayaan yang didapat, tidak mau menerima kecuali yang baik dan halal, selalu menganggap harta itu milik Allah yang dititipkan kepadanya, maka yang bersangkutan  akan mendapatkan manfaat dari harta yang dikuasainya.

Sebaliknya, bagi orang yang dalam mendapatkan harta  dilakukan  dengan cara-cara atau memperlakukannya dengan  tidak benar, misalnya tidak memedulikan kehalalannya, melupakan hak orang lain atas harta yang diperoleh,  maka mereka tidak akan memperoleh nilai apa-apa dari kekayaannya itu.

Orang semacam itu justru akan celaka. Harta kekayaan yang diperoleh  dengan  cara mencuri, merampok, mengurangi timbangan, korupsi, dan lain-lain akan mencelakakan pemiliknya sendiri.

Akhir-akhir ini banyak kasus  yang terkait dengan cara mendapatkan harta secara  tidak benar, hingga menjadikan nama pemiliknya  jatuh dan sengsara.

Berita tentang penjara yang  berisi para mantan pejabat, pengusaha, mantan wakil rakyat, dan lain-lain semakin penuh sesak,  sehari-hari muncul di media massa.

Seolah-olah  berita-berita buruk yang mengerikan itu tidak berhasil  ditangkap  dan menjadikan jera para petinggi atau orang penting bangsa ini.

Oknum jaksa, hakim, wali kota, bupati, gubernur, menteri, pimpinan BUMN , polisi, dan bahkan juga pimpinan  perguruan tinggi, dan lain-lain,  hanya  karena memburu harta haram, mereka ditangkap dan kemudian diadili,  dan akhirnya dipenjarakan.

Harta kekayaan tatkala diperoleh secara tidak benar, tidak saja mendatangkan siksaan di akherat kelak, melainkan juga di dunia. Pemiliknya   dihujat, dicaci maki, dipenjara,  dan fotonya diserupakan tikus.

Oleh karena itu fungsi kekayaan tergantung cara  memperolehnya. Jika tidak diperoleh lewat  jalan yang halal, benar, atau yang baik, akan mencelakakan  pemiliknya sendiri, keluarga dan kawan-kawannya.

Kita bisa membayangkan, alangkah gelisah, menderia, malu, dan berat menanggung sakit hati  bagi orang-orang yang menjadi tersangka kasus-kasus korupsi, baik yang sudah terkena hukum tetap maupun  bagi mereka yang masih berstatus tersangka.

Jabatan dan begitu juga harta kekayaan ternyata tidak selalu mendatangkan keselamatan, apalagi kebahagiaan. Anehnya, oleh karena daya tarik keduanya yang sedemikian luar biasa kuatnya, banyak orang  terjerembab di tempat itu.

Siapapun berpeluang ditaklukkan nafsu itu, baik mereka yang berpendidikan tinggi, berumur, dan berpengalaman panjang.  Sementara orang menganggap harta dan kuasa akan menyelamatkan dan mendatangkan kebahagiaan.

Namun kenyataannya, justru celaka dan sengsara hidupnya, akibat terlalu mencintai keduanya itu. Hubbulmal wa hubbuljah,  jika tidak berhati-hati, akan  mengantarkan siapapun pada kesengsaraan dan atau derajatnya jatuh serendah-rendahnya. Wallahu a’lam.

 

Oleh : Prof Imam Suprayogo
Redaktur : aminatul Jannah
Editor : Sa’Dullah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

MutiaraPublic.com – Banyak orang yang mengejar-ngejar harta sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara yang ditempuh. Mereka beranggapan dengan harta melimpah, akan merasa aman, bergengsi, dikagumi banyak orang, dan berbahagia oleh karena apa saja keinginannya terpenuhi dengan mudah. Tetapi,  apakah  yang demikian itu  benar-benar  terjadi. Tentu,  masih perlu dilihat  dalam kenyataan hidup  sehari-hari. Pandangan yang mengatakan dengan harta …

Review Overview

0

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.