Menjadikan Ujian Sebagai Bagian Dari Hiasan Kehidupan ?

ilustrasi
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ اْلمَوْتِ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَاْلخَيْرِ فِتْْنَةٌ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35)

Tidak akan ada habisnya memperbincangkan masalah-masalah kehidupan yang ada di sekitar kita. Setiap kita memiliki pengalaman yang berbeda-beda dalam menghadapi setiap persoalan yang datang silih berganti. Hidup selalu bergandengan dengan masalahnya, dan kita berusaha sekuat tenaga menyelesaikannya dengan memohon pertolongan dari Allah Ta’ala.
Setiap yang diberi hidup pasti akan mendapatkan bagiannya dalam hal ujian. Apapun ujian yang dihadapi, baik itu masalah pribadi, problem keluarga, perjuangan untuk kemaslahatan umat atau menegakkan agama Allah, kesemuanya membutuhkan sikap cermat dan kesabaran yang utuh.
Pun tidak ada kesempatan untuk mengelak dari apa yang sudah ditetapkan. Tidak juga dapat menghindar dari apa yang telah ditakdirkan. Masing-masing di antara manusia mendapatkannya secara adil dan merata.
Jika terdapat seorang makhluk yang mampu berbuat baik secara sempurna dalam beribadah kepada Allah dan ‘mumpuni’ dalam memberikan manfaat bagi hamba-hamba-Nya yang lain, maka baginya bagian yang besar berupa rahmat dari sisi Allah Ta’ala.
Sifat Manusia
Allah Ta’ala senantiasa memberikan yang terbaik kepada makhluk-Nya. Potensi dan kelebihan melekat pada diri manusia. Meski demikian, manusia memiliki kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri.
Setiap orang, saat dihadapkan pada masalah hidup, menjadi nyata dan nampak sifat kemanusiaannya. Terhadap persoalan hidup yang susah dan rumit orang cenderung mengeluh dan berkecil hati, seakan hidup ini tidak adil. 
Orang menjadi beranggapan negatif terhadap Tuhan. “Mengapa kesusahan hidup selalu menimpaku?”, atau dengan ungkapan lain “Kapan hidup keluargaku sejahtera dan berkecukupan?”. Pertanyaan semacam itu sangat mungkin muncul dalam kehidupan setiap orang.
Berkenaan dengan sifat manusia, Allah memberikan penjelasan
فإذا مسّ الإنسان ضرّ دعانا ثمّ إذا خوّلناه نعمة منّا قال إنّما أوتيته على علم بل هى فتنة ولكنّ أكثرهم لا يعلمون

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (QS: Az-Zumar ayat 49)

Terhadap segala macam nikmat dan ujian yang datang, manusia memiliki pilihannya sendiri. Siapapun bisa melakukannya, antara bersyukur, mengeluh, hingga kufur. Setiap pilihan membawa konsekuensi tersendiri bagi pelakunya.
Kecenderungan sifat manusia hendaknya mendapat perhatian khusus. Sifat manusia yang fluktuatif hendaknya dikelola, dikendalikan, dan diarahkan kepada hal-hal positif yang menjadikan pribadi manusia mampu menghadapi setiap tantangan yang dihadapi, ujian yang menghadang dan cobaan yang menimpa. Bukan untuk memupuk rasa egoisme dan merasa diri lebih baik atau lebih kuat dari yang lain.
Belajar dari Ujian
Di manapun dan kapanpun manusia akan menemukan ujian sesuai dengan apa yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Ketentuan-Nya berlaku bagi siapapun tanpa terkecuali. Terhadap ujian yang diberikan itu hendaknya manusia berpikir dan merenungi akan hikmah dan pelajaran berharga di balik setiap ujian yang datang. Adakah itu peringatan, cobaan atau malah hukuman?
Allah telah mensinyalir keadaan manusia terhadap ujian yang dihadapi, firman-Nya:
فأمّا الإنسانُ إذا ما ابتلاهُ ربّه فأكرمه ونعّمه فيقول ربّي أكرمني

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.” (QS: Al-Fajr: 15)

Untuk itulah, sikap kita adalah pilihan kita. Menghadapi setiap ujian itu dengan sebentuk kesadaran akan kekuasaan Allah Ta’ala, dan pemaknaan ketidakberdayaan kita pada titik klimaks, dengan ujian tersebut menjadi wahana untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. 
Dengan pengertian ini konsekuensinya setiap yang diuji dengan berbagai macam kesulitan dan kesusahan, sikap sabar menjadi penguat kepribadiannya. Pun jika diuji dengan berbagai macam keberlimpahan harta dan kemudahan, sikap syukur dengan tidak melupakan bahwa apapun yang diterima adalah pemberian dan rahmat dari Allah Ta’ala, kemudian ada kepuasan dalam berbagi dengan sesama.
Namun jika perasaan prasangka negatif manusia cenderung dominan, maka akibatnya adalah sebagaimana firman-Nya:
وَأمّا إذَا ما ابتلاهُ فقدرَ عليهِ رزقهُ فيقولُ ربّي أهاننِ

“Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.” (QS: Al-Fajr: 16)

Maksud ayat di atas adalah Allah menyalahkan orang-orang yang mengatakan bahwa kekayaan itu adalah suatu kemuliaan dan kemiskinan adalah suatu kehinaan seperti yang tersebut pada ayat 15 dan 16. Tetapi sebenarnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Tuhan bagi hamba-hamba-Nya.
Bagi mereka yang mendapat ujian berupa kesulitan hidup hendaknya menjadikan kesabaran sebagai hiasan kehidupannya, dengan membangun sebuah keyakinan bahwa kesulitan itu akan segera berganti kemudahan. Dan, cepat atau lambat, hal itu mudah bagi Allah.
Bagi mereka yang diberi kemudahan dan kesejahteraan hidup hendaknya mampu menunjukkan keteladanan nyata sebagaimana rasul saw dan para sahabat contohkan, yaitu kemauan untuk berbagai dengan sesama, dan kepedulian terhadap orang-orang sekitar yang berada di bawah garis kemiskinan. Jangan dilupakan, kesadaran bahwa yang dimiliki sekarang –dalam wujud kekayaan atau lainnya– sejatinya hanya titipan belaka. Sehingga jika Yang Maha Memiliki mengambilnya tidak akan merasa kehilangan sedikitpun, karena hanya titipan. Kapan saja Sang Pemilik berkehendak, akan menarik dan mencabutnya. Kesiapan dalam bentuk yang sedemikian ini agak sulit dipraktekkan oleh mereka yang merasa memiliki segalanya. Kadang keberlimpahan harta melalaikan siapapun. Silakan lihat QS. At-Takatsur ayat 1.
Rasul, kekasih Allah juga diuji
Setiap utusan Allah membawa risalah yang harus disampaikan kepada umatnya. Risalah tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan tantangan yang diberikan. Para rasul yang termasuk Ulul ‘Azmi adalah orang-orang yang tangguh dan sabar dalam menghadapi berbagai macam rintangan dan ujian. Betapa menegakkan agama Allah penuh dengan perjuangan baik harta, pikiran maupun nyawa sekalipun. Perhatikan QS. Al-Baqarah ayat 124:
وإذِ ابتلَى إبراهيمَ ربّهُ بكلماتٍ فأتمّهنّ قالَ إنّي جاعلكَ للنّاسِ إمامًا قالّ ومنْ ذرّيّتي قالَ لا ينالُ عهدِي الظّالمينَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.”

Di antara ujian terhadap Nabi Ibrahim alaihissalam adalah membangun Ka’bah, membersihkan ka’bah dari kemusyrikan, mengorbankan anaknya Ismail, menghadapi raja Namrudz dan lain-lain.
Di balik yang sedemikian hebat itu, Allah telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim, karena banyak di antara rasul-rasul itu adalah keturunan Nabi Ibrahim. Sama halnya dengan Nabi Musa yang mendapat tantangan dakwah sangat berat. 
Nabi Muhammad pun juga mengalami kesulitan,dan para rasulpun merasakan hal yang sama, ujian dan cobaan datang silih berganti. Namun Allah Ta’ala menjanjikan datangnya pertolongan, dan setiap tantangan, kesulitan, ujian maupun cobaan semakin menambah keyakinan akan kebenaran agama Allah.
Refleksi Ujian
Allah Ta’ala memberikan segala sesuatu kepada hamba-Nya berdasarkan porsinya. Maknanya, jika kebaikan yang diberikan tidak sampai membuat hamba-Nya lalai dari bersyukur. Pun jika keburukan yang ditimpakan tidak akan melebihi kemampuan yang dimilikinya.
Mengapa Allah Ta’ala tidak memberikan beban melebihi kekuatan manusia? Tentunya ada hikmah yang luar biasa di balik itu. Dia Yang Maha Kuasa hendak menunjukkan kepada seluruh makhluk-Nya bahwa ada keterbatasan pada makhluk dan tanpa batas pada Pencipta.
Demikian juga ada banyak kelemahan pada manusia, sementara Tuhan Maha Sempurna. Maka makhluk yang bernama manusia selalu mendapatkan apa yang sepadan dengan kekuatan yang dimilikinya. Apapun yang bernama ujian dalam hidup, hakekatnya, Allah Ta’ala telah sesuaikan dengan kemampuan makhluk-Nya untuk menghadapi hal tersebut.
لا يكلّفُ اللهُ نفسًا إلاّ وسعَها

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS: Al-Baqarah ayat 286)

Jika kesadaran akan kesanggupan yang dimiliki oleh setiap orang dalam mengarungi bahtera kehidupan yang penuh ombak dan badai ini maka untuk apa kita merasa berkecil hati atas segala sesuatu yang terjadi. Bukankah beban hidup selalu dibawah kekuatan yang diberikan Allah pada kita. Bukankah ujian itu sesuai dengan ‘kelas’ kita.
Setiap ujian yang menerpa selalu menjadi jalan untuk menapaki tingkatan keimanan ke jenjang yang lebih tinggi. Setiap cobaan menjadi batu loncatan untuk mengasah ketajaman nalar dan kepekaan sosial. Olah jiwa sedemikian tidak diajarkan di sekolah manapun. Yang mendapatkannya kapan dan di mana saja, di sanalah kesempatan untuk belajar dan menjadi pribadi yang mampu mewujudkan sikap sabar yang proaktif dan sikap hidup yang proaktif, tanpa adanya keluh kesah dan sikap apatis.
Dari : Mohammad In’ami
Editor : Zainul Hakim
Dipublikasikan : MutiaraPublic


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.