Kajian Islami : Makna Firasat !

MutiaraPublic.Com – Khazanah Islam meliputi seluruh potensi yang ada, tanpa terkecuali di dalamnya terdapat potensi manusia untuk ber-firasat, sesuatu hal yang menurut sebahagian dari manusia adalah fikiran tidak rasional. Namun, se-rasional-rasionalnya diri manusia apapun itu, pasti dalam benak hatinya pernah terlintas suatu firasat terhadap sesuatu keadaan (situasi dan kondisi).

Naluri firasat sanggup membuat kita merasakan berbagai getaran kegelisahan hati orang lain, naluri firasat mampu merasakan kedatangan berbagai bahaya yang acap kali mengancam dirinya, ia juga sanggup merasakan alur fikiran YANG dilontarkan oleh lawan bicaranya, dan banyak sekali contoh-contoh lainnya yang dapat disebutkan.

Selanjutnya, firasat itu akan menjadi pegangan dasar baginya untuk melakukan sebuah tindakan, sebagai pegangan untuk memilih dan untuk melangkah lebih jauh. Akan tetapi, hal demikian haruslah dicatat, bahwasanya apapun yang ditimbulkan (dimunculkan) oleh firasat tersebut, tidaklah boleh kita jadikan landasan hukum syar’i.

Menurut Ibnul Qayyim Makna Firasat, adalah cahaya yang Allah S.W.T. berikan ke dalam hati manusia yang sholeh. Dan Cahaya tersebut menjadikan manusia mampu menduga sesuatu hal yang akan terjadi pada diri-nya, atau menjadikannya mampu melihat suatu hal yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. (Ibnul Qayyim, Ar-Ruh, 234).

Makan Firasat itu berbeda dengan Buruk Sangka atau su’u dzon. Firasat itu tumbuh dari kebersihan hati dan jiwa sesorang kerana disebabkan kedekatan seseorang tersebut kepada Allah SWT. Sebaliknya, sedangkan Buruk Sangka itu tumbuh dari kekotoran hati manusia dan kejauhan antara hubungan manusia dengan Allah SWT. Ibnu Abbas r.a. telah memaknai kata “mutawassimin” dalam firman Allah : “Sesungguhnya pada yang demikian itu sungguh (benar-benar) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang yang memperhatikan tanda-tanda (mutawassimin).” Menurut Ibnu Abbas, mutawassimin adalah mutafarrisin, atau orang-orang yang memiliki firasat”.

Pandangan seperti itulah yang dimaksud firasat sebagaimana dalam sabda Baginda Rasulullah SAW :

“Takutlah kalian dengan firasatnya orang mu’min sebab, ia melihat dengan cahaya Allah SWT.” (HR. Tirmidzi)

Dalam sebuah riwayat hadits sahih (hadits Qudsi), Baginda Muhammad SAW menyebutkan bahwa :

“Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri pada-Ku yang lebih Aku cintai dari melakukan apa yang telah Aku wajibkan. Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepadaku dengan mengerjakan perintah yang sunnah, kecuali Aku pasti mencintainya. Dan bila Aku mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar. Aku akan menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat. Aku akan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memukul. Aku akan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dengan-Ku lah ia mendengar, melihat, memukul dan berjalan.”

Hadits qudsi di atas tersebut, menyebutkan korelasi yang sangat kuat antara kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT, dengan cahaya Allah SWT yang mampu menjadikan dirinya memiliki firasat yang benar.

Sebagaimana Baginda Rasulullah Rasulullah SAW yang dapat melihat Baitul Maqdis dengan jarak yang amat jauh secara terperinci dari tempatnya di kota Makkah. Beliau Baginda Rasulullah SAW juga mampu mengetahui kondisi sahabat-sahabatnya dalam peperangan Mu’tah, ketika beliau sedang berada di Madinah. Dan Baginda Rasulullah SAW juga mampu mengetahui ketika Najasyi wafat di Habasyah, padahal Baginda Rasulullah Muhammad SAW kala itu sedang berada di Madinah. Sungguh Atas firasat itulah, Baginda Rasulullah SAW mengajak sahabat-sahabatnya bersama-sama untuk mengerjakan Sholat Ghaib atas wafatnya Najasyi.

Seperti halnya juga Sayyidina Umar ibnu Khattab pun kala itu mampu mengetahui kondisi pasukannya di Nahawand ketika berperang melawan pasukan-pasukan Persia, padahal Sayyidina Umar ibnu Khattab sedang berada di Madinah. Firasat itulah yang menyebabkan secara spontan/ tiba-tiba, firasat orang beriman, firasat orang-orang yang matanya takut bermaksiat kepada Allah, telinganya takut mendengar fitnah yang menyebabkan murka Allah, hidungnya takut untuk mencium yang larangan-larang Allah, dan bahkan seluruh anggota tubuhnya baik dalam maupun luar selalu berdzikir kepada Allah SWT. AllahuAkbar…!

 

Semoga Kita khsusnya Pembaca Muslimin Muslimat dijadikan golongan yang TAQWA kepada Allah SWT. Aamiiiin !

 

 

 

Oleh : Zainul Hakim
Redaktur : Ning Silviana Sholeha


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.