Mengkaji Demi Menuju Ketenangan Dalam Hati ?

ilustrasi (foto dari, blogdetik.com)
“Mengapa cepat sekali hatiku berubah….?”. Sejenak iman begitu kuat membara di hati ini. Tetapi lama kelamaan semuanya pudar dan semakin redup. 
Dulu bersemangat mengkaji, menapaki dan mengamalkan Islam, kini selalu surut oleh kesibukan-kesibukan dunia yang seakan tanpa penghujung ini. 
Sungguh semakin diri ini tenggelam ke dasar lautan duniawi, segala nafas iman terasa semakin lemah, tak berdaya dan akan mati lemas dan lemah tak berdaya. Kelemahan iman menyebabkan diri tersungkur di lembah-lembah dosa dan angkara murka. 
Ibadah yang tidak berkwalitas sama sekali, perlahan menjadikan diri ini jauh dari Sang Rabbi, terseleweng dari arah dan jalan-Nya, terbenam dalam permainan nafsu syahwat semata, hingga kesulitan untuk kembali ke arah dan tujuan yang diridlhoinya. 
Hati mengeras seperti gumpalan baja, nurani pudar seperti gelapnya malam tanpa cahaya penerangan, jiwa gersang, aqidah goyah dan iman meranggas ketepi jurang kegelapan.
Sungguh tiada kemalangan yang lebih dahsyat dari semuanya bila semacam ini berkelanjutan hingga di pintu liang lahad. Na’udzubillahimindalikh….!
Rusaknya serta hancurnya amal kita, bermula dari hati yang tidak dapat khusyuk dalam menjalankan perintahNya. Penyakit akan bertambah parah dan menjalar kemana-mana apabila diri ini terjadi kemalasan ketika beribadah kepadaNya. 
Berjumpa dan berhubungan dengan Allah Semesta tanpa wujud perasaan seolah-olah kosong dan hampa nestapa. Hanya melakukan ala sekedar diri terlepas kewajiban tanpa merasakan kemanisan-kemanisan dalam ibadah. Penyebab hilangnya khusyuk ialah ketika hati kini tak lagi lunak dan lembut bahkan terlanjur kaku dan keras seperti baja. 
Rekreasi bisa meredakan ketegangan, menuruti selera dan shopping bisa mengobati kebosanan, memakai pakaian yang indah dan mahal tidak dilarang dan dibiarkan bebas, membeli perhiasan dan apa yang menjadi kesukaan hati boleh melahirkan kesyukuran kepada nikmat Allah Taala. 
Akan tetapi, perkara begini kadang-kadang membuat lalai diri kita. Berlebihan dalam memanjakannya, akan melemahkan semangat perjuangan hidup. Mengaburkan mata dan hati. Dan pada akhirnya larut dalam kesibukan dunia hingga melupakan kepentingan yang sebernanya yakni akhirat nanti.
Tidak menghadiri majlis ilmu atau pengajian yang menjadi pondasi penyejuk hati, bisa menyebabkan lupa dan hilang pedoman hidup ini, tak jelas arah dan tujuan. 
Siapa diri ini, berasal dari manakah dia, mau ke mana dan apa yang mau dicapainya? Manusia yang lemah iman mudah kehilangan tujuan hidupnya. Untuk mendapatkan kembali pedoman hidupnya supaya tidak tersalah jalan, memerlukan hidayah iaitu ilmu Allah. 
Hidayah perlu dikejar, perlu dijaga, dirawat dan diamalkan agar tak terlepas dari genggaman. Setiap mukmin dan muslim memiliki hati yang mampu berbisik mengenai keadaan imannya, siapakah yang paling mengetahui diri kita melainkan dia Allah Ta’ala dan hati yang ada pada diri kita sendiri.
Wallahua’lam bisawab…..!
Penulis : Sa’dullah
Redaktur : Zainul Hakim.
(Sumber inspirasi by google.com, yahoo.com)



DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.