Habib Muhammad Luthfi - Mengenal Tasawuf - Sufisme Di Masa Kini
Habib Muhammad Luthfi - Mengenal Tasawuf - Sufisme Di Masa Kini

Mengenal Tasawuf – Sufisme Di Masa Kini ala MutiaraPublic

“Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?” (Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 47)

MutiaraPublic – Mengenal Tasawuf – Sufisme Di Masa Kini, Saudara/i-ku Ikhwatal Iman Rahimakumullah, Kita sering mendengar istilah sufisme ataupun tasawuf dalam khazanah pemikiran Islam, dan mungkin ada banyak sekali tafsir yang menjelaskan makna keduanya dari berbagai sudut pandang yang kadang saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya.

Namun kali ini kita tidak akan masuk pada penjelasan mendalam tentang definisi makna dari sufisme itu sendiri, melainkan mengajukan pertanyaan sederhana; Apakah ajaran sufisme masih relevan pada kehidupan sekarang ini? Apakah kita harus meninggalkan kuliah, pekerjaan ataupun rutinitas sehari-hari kita untuk berkhalwat (mengasingkan diri) dan mendekatkan hati hanya kepada Allah Sang Pencipta?

Dari uraian senandung Imam Syafi’i pada muqaddimah diatas menjelaskan kepada kita tentang pentingnya kesadaran spiritual-batiniah dalam beragama, disamping kita menjalankan amalan wajib maupun sunnah (fiqih) namun kita ditekankan untuk tidak melupakan ruh dari ritual atau amaliah itu sendiri. Kita tidak semata-mata shalat 17 rakaat setiap hari namun kita melupakan bahwa menebar senyum kepada tetangga juga merupakan shadaqah, kita membaca al-qur’an setiap waktu namun kita jangan melupakan bahwa bekerja bakti membersihkan selokan dilingkungan sekitar kita juga merupakan sebahagian dari iman, kita rajin menghadiri dzikir-dzikir dan pengajian namun kita tidak boleh lupa bahwa bekerja keras untuk menghidupi anak dan keluarga juga merupakan ibadah wajib.

Sebagaimana dalam paparan seorang ulama sufi atau ahli sufi terkemuka yakni Imam Al-Junaid Al-Baghdadi, mengutarakan bahwa : “Tasawuf adalah sebuah nama yang mengandung sepuluh pokok ajaran. Pertama; menyedikitkan benda-benda duniawi dan tidak memperbanyaknya. Dua; berserah diri kepada Allah. Tiga; cinta kepada ketaatan dengan mengerjakan segala hal yang disunnahkan. Empat; sabar dari kehilangan dunia dengan tidak mengeluh dan meminta-minta. Lima; memilih-milih sesuatu ketika hendak mengambil atau mengerjakannya. Enam; Hanya sibuk dengan Allah dari segala apapun. Tujuh; banyak melakukan dzikir khafyy. Delapan; ikhlas dalam segala perbuatan hanya karena Allah saja. Sembilan; keyakinan yang kuat. Sepuluh; tenang dengan Allah ketika kedatangan rasa gelisah dan dalam keterasingan.” (Imam al-Junaid al-Baghdadi)

Saudara/i-ku Ikhwatal Iman Rahimakumullah, Berusaha dan mencari rizki adalah ibadah yang dianjurkan namun tidaklah sama dengan sifat tamak dan rakus, sufisme kiranya bisa kita dorong kembali untuk hadir dalam kehidupan keseharian kita. Jika kita menyisihkan Rp. 2.000,- dari kantong setelah gajian kepada peminta-minta dijalan maka mungkin kita adalah Karyawan Sufi, jika sepulang kuliah kita melepas baju lantas bergabung menjadi panitia pengungsi korban banjir maka kita adalah Mahasiswa Sufi, jika seorang pendakwah melawat kepelosok dan menolak imbalan materi maka mungkin dia adalah Ustadz Sufi, jika seorang penyidik KPK atau Kepolisian teguh menolak suap ataupun kesaksian palsu meskipun diancam dengan pembunuhan maka dia adalah Pegawai Sufi.

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Ulama tanah air dari Pekalongan mengatakan; “Jika menyangka para ulama Sufi tidak kaya anda keliru. Ulama Sufi terkenal Hasan asy-Syadzili punya empat ekor kuda termahal dimasanya, keretanya dihiasi mutiara dan batu mulia, tapi tidak sedikitpun kemegahan kereta kuda itu mengisi relung hatinya. Ketika ada orang yang takjub akan kemegahan kereta kudanya dan sangat menginginkan apa yang dimiliki sang Sufi, asy-Syadzili lantas memberikan kereta kudanya untuk orang tersebut.”

Saudara/i-ku Ikhwatal Iman Rahimakumullah, Sufisme dan Tasawuf mengajarkan kita akan keseimbangan yang telah dikonsepkan oleh Islam secara gamblang; yakni keseimbangan amal lahiriah dan batiniah, keseimbangan dunia dan akhirat. Mungkin bukan pada kesempurnaan dan pemenuhan pengabdian kita kepada Sang Khaliq yang ditekankan sebab terlampaulah jauh dari kekotoran dan keluputan dosa yang kita miliki, namun setidaknya kita bisa mengikuti setapak jalannya, jalan mereka, jalan-jalan orang shaleh, jalan sufisme.

Wallahu a’lam bis shawab.

 

 

 

Oleh : Muhammad Rusli
Redaktur : Aminatul Jannah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

IP Blocking Protection is enabled by IP Address Blocker from LionScripts.com.