Mencari Makna Hidup, Agar Hidup Lebih Bermakna
Mencari Makna Hidup, Agar Hidup Lebih Bermakna

Mencari Makna Hidup Agar Hidup Lebih Bermakna

MutiaraPublic.Com – Mencari Makna Hidup Agar Hidup Lebih Bermakna, Hidup adalah kumpulan hari, bulan, dan tahun yang berputar tanpa pernah kembali lagi. Setiap hari umur akan bertambah dan usia semakin berkurang. Berarti, kematian akan dekat. Kita harus bertambah arif dan bijak menjalaninya, tetap dalam kesalehan, akidahnya bertambah kuat, semakin khusyuk di dalam beribadah, dan tambah mulia akhlak kita. Kalau pada puncak kebaikan seperti itu lalu kita wafat, itulah husnul khatimah.

Kehidupan jasad di dunia sifatnya bersifat sementara. Sedangkan kehidup ruh mengalami lima face, yaitu: arwah, rahim, dunia, berzakh, dan akhirat. Hidup di dunia hanya sebagai terminal pemberhentian menuju kampung akkhirat. Allha S.W.T. mengingatkan dalam al-Qur’an:

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”. (Al-‘Ala [87]: 17)

Rasulullah S.A.W. juga menggambarkan, “Hidup ini tak ubahnya seorang musafir yang berteduh sesaat di bawah pohon yang rindang untuk menempuh perjalanan tanpa batas.” Karena itu, bekal pejalanan harus disiapkan semaksimal mungkin. “Sebaiknya-baik bekal adalah takwa.” (Al-Baqarah[2]: 197)

Orang yang bertakqwa adalah orang yang cerdas. Ia tidak mau terjebak dalam kenikmatan sesaat, tapi menderita seumur hidup. Ia mengelola hidup yang sesaat ini menjadi berarti untuk menuju kehidupan yang panjang dan kekal tanpa akhir di akhirat nanti Allah S.W.T. berfirman:

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (al-Ankabut [29]: 64)

Hidup ini di bawah tatapan dan aturan yang telah ditetapkan Allah S.W.T. Segalanya digulirkan dan digilirkan; Hidup lalu mati, kecil akhirnya besar, muda lama-lama menjadi tua, muncul kesenangan kemudian berganti kesedihan dan terkadang di atas  kemudian  di bawah. Semua itu fana. Namun, di tengah kefanaan, umat Rasulullah S.A.W. yang paling sukses adalah yang paling banyak mengingat akan kematian, lalu mempersiapkan diri untuk hidup setelah mati.

Orang-orang yang cerdas akan tahu, sadar, dan sangat yakin bahwa hidup bukan untuk mati, tetapi sebaliknya, mati itulah untuk hidup. Hidup bukan untuk hidup, tetapi untuk Yang Maha Hidup. Karenanya, Agar Hidup Lebih Bermakna maka janganlah kita takut mati, jangan pula kita cari mati, dan jangan pernah lupa akan kematian tapi rindukanlah kematian. Mengapa ? Karena kematian adalah sebagai pintu perjumpaan kita dengan Allah S.W.T., perjumpaan terindah antara Kekasih dan kekasih-Nya.

 

 

 

Oleh : Suparto
Redaktur : Ning Silviana Sholeha


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.