ilustrasi - Kisah Tragis Seorang Bromocorah (Preman Terminal)
ilustrasi - Kisah Tragis Seorang Bromocorah (Preman Terminal)

Kisah Tragis Seorang Bromocorah (Preman Terminal)

MutiaraPublic.com – Sebuah cerita yang terukir pada tulisan kertas putih dan di posting di website islami ini, dan tersusun kalimat yang menyentuh hati, ini adalah sebuah kisah tragis seorang bromocorah (band-it, bajing-an, dll.) yang mati dalam keadaan setengah telanj-ang dan masih memegang botol minuman keras, di pojok sebuah gedung bioskop tua dekat terminal kota Malang. Sekujur tubuh yang tampak beberapa tato menghiasi leher, dada, dan lengan tangan kirinya, mungkin itu juga memiliki arti tersendiri dalam perjalanan hidupnya. Keluar masuk penjara hal biasa yang dituangkan dengan mencoret-coret bagian tubuhnya.

Di akhir era 70-an (penulis masih belum menginjak usia sekolah) mendengar cerita dari beberapa sahabat sang bromocorah. Bondet (bukan nama sebenarnya) adalah seorang penguasa terminal di tengah kota dingin yakni kota Malang. Pada kekuasaannya mendengar namanya saja orang akan ketakutan. Semua calo/ makelar, asongan, bandar da-du, pencopet, dan sopir-sopir angkutan yang beroperasi di wilayahnya akan membayar pajak dari sebagian rezekinya. Bahkan pemilik toko-toko yang mayoritas warga tionghoa juga wajib “retribusi” di setiap pekannya. Bermodal tubuh tinggi kekar, rambut gondrong, wajah tempramental, dan kakak kandungnya yang aktif anggota K.K.O (sekarang disebut marinir) sedikit keberanian, mirip koboy dari TEXAS. Kacamata hitam, jaket kulit, sepatu boat (yang bertuliskan MILIK ABRI), serta celana bluejeans komprang yang lagi ngetrend pada masa itu, dimana masa puncak popularitas band asal Liverpool yakni The Beatles, segala tingkah pola dan model penampilannya ditiru khalayak remaja diseluruh dunia.

Si Bondet preman terminal, selalu menunggu malam dan menghabiskan malam disetiap akhir pekan. Berfoya-foya, main perempuan, ju-di, dan mabuk2an bersama rekan-rekan “saudara sebotol” katanya yang seolah-olah gemerlap dunia tak ada habisnya, tak lagi mengingat usia yang makin tua, apalagi yang namanya dosa hampir disetiap nafas tanpa terasa.

Sebenarnya dia anak seorang tentara yang sering tugas di luar kota, bahkan tidak jarang tugas di luar Jawa. Kakak kandungnya juga seorang tentara dengan karakter dan talenta yang berbeda dengan adiknya,.

Bondet kecil selalu dimanja, apa yang diminta harus selalu ada, hingga sering marah-marah kalau apa yang dimintanya tersebut tidak tersedia meski masih balita. Lebih parah lagi si Bondet tersebut tak pernah diajarkan perihal ilmu agama. Sejak bapaknya dinas tetap di kota kelahirannya. Mulailah diterapkannya disiplin ala militer dikeluarganya. Dia merasa tertekan oleh peralihan peraturan yang selalu tak sesuai dengan keinginannya. Kemudian menjadi “broken home” selalu ingin berontak, akibatnya dia diusir dari keluarganya. Besar di jalan diasuh sang malam, mengarungi kehidupan yang keras tanpa berpikir panjang.

Hari terus berganti, waktu terus berlalu seiring tumbuh rasa jenuh yang selama ini ternyata masih terpaku kesenangan dunia palsu, dalam kalbu kenyataannya rapuh, menyisir pantai-pantai kering tak berpasir, memandang matahari yang redup, menunggu sang rembulan yang malu tersenyum, mengais-ngais bintang yang pucat warnanya. Terbesit dalam hatinya ingin memiliki keluarga, akan masih bimbang kejalan yang benar, setengah hati berpaling dari kenyataan, meski gejolak di dada berharap bahagia bersama istri dan anak-anaknya. Ingin segera menutup lembaran-lembaran buram mengakhiri dunia hitam, melepas pelan-pelan belenggu kegelapan.

Tersenyum sendiri Bondet dengan pandangan kosong, tak menghiraukan lalu-lintang angkutan kota yang sesekali menghampiri dan menyapa. Sebuah halte di pertigaan jalan arah menuju terminal, duduk melamun dengan tangan kiri menyangga kepala, pundak bersandar pada tiang besi iklan produk terkenal. Tak terasa lepas dalam genggaman botol minuman ke-ras yang juga merk terkenal jatuh, pecah, dan tumpah tak dapat di hentikan dia sedang terlena (rigkas cerita).

Akhirnya bondet pun menikah, perempuan yang ditemukan pada larut malam di terminal yang mulai sepi. Make Up tebal, kostum dengan warna agak menor, dan aksesoris yang berlebihan (mungkin cocok untuk pesta). Bau al-kohol yang mungkin masih 38%. Tetapi jangan ditanya asal-usul, dan model bagaimana perempuan ini ? Yang pasti bukan bidadari yang tersesat di terminal. Bondet tak berpaling muka, ulurkan tangan untuk sandaran jantung hatinya. Membangunkan rumah tangga, meski hanya rumah kontrakan, ekonomi yang pas-pasan, tetap dilaluinya. Tetapi masa kejayaan di terminal mulai terkikis oleh kehadiaran oposisi-oposisi muda yang sedikit banyak mengurangi penghasilannya, semakin lama cengkraman kekuasaannya lepas begitu saja, telah terkudeta oleh preman-preman muda yang mengambil alih sebuah rezim di Terminal.

Pergolakan rumah tangga mulai terasa, tanpa sadar dan pemahaman yang sebenarnya ini ujian dari Yang Maha Kuasa. Perselisihan-perselisihan kecil, perekonomian yang tidak stabil dan perselingku-han istri dengan orang lain, berujung dengan meninggalkan rumah tanpa izin. Bagai halilintar menyambar kepala di waktu siang tetapi tak ada hujan, berjalan sendiri tanpa haluan, meniti kembali memori masa silam.

Zaman telah berubah, kini sang bromocorah hanyalah jadi olokan, tak ada lagi yang merasa takut, seperti kerbau dongo yang jadi bulan-bulanan, orang menganggapnya sampah berjalan, kesana-kemari tak ada yang menghiraukan, model pakaian compang-camping yang dikenakan. Aroma al-kohol pun keluar dari botol minuman op-losan dari saku jaketnya seolah-olah menjadi parfum favoritnya, tak ada bedanya siang dan malam dilaluinya dengan menggenggam keputus asaan, sepi sendiri tiada yang menemani, ketika ajal menjemput, si Bondet  pun tiada yang menemaninya.

Akan di kemanakan jasad si Bondet dikebumikan? Kemana-mana ditolak warga. Untungnya ada empat orang yang bersusah payah merawat jenazahnya, dan salah satunya yang menceritakan kepada penulis Adalah sahabat, saudara sebotol, yang dulu sering nongkrong bersama mengobral-obral dosa.

Ternyata masih saja ada orang yang bertanggung jawab secara manusiawi, meskipun dengan cara-cara yang jauh dari syari’at. mereka masih mau merawat, menguburkan jasad si bondet “aktor utama” cerita tesebut.

Tetapi sangat kontradiktif dari masyarakat yang katanya intelektual, terpelajar, dan pro-rakyat. Ketika mendengar suara dari masjid “innalillahi wa inna ilaihi rooji’un”, telah meninggal dunia si fulan, jam sekian. Biasa biasa saja, tidak bergegas untuk bertakziah, sudah takdir katanya, dengan santai tetap saja mereka menghisap cerutu duduk terpaku mencari angin berlalu.

Saudaraku, dari cerita singkat di atas dapat kita ambil hikmahnya;

A. Untuk Anak Kita

– Pendidikan agama untuk anak kita mulai usia dini bahkan sampai belum menikah, yang sebenarnya untuk meringankan beban orang tua, dengan harapan menjadi anak yang cerdas, berakhlak mulia, dan mencintai sesamanya.

– Jauhkan dari pengaruh hal-hal negatif, pergaulan bebas, jejaring sosial yang tak terkontrol, nonton tv yang berlebih-lebihan, sinetron yang tidak mendidik yang membuat si anak terobsesi dengan apa yang dilihatnya, yang malah aka justru menjerumuskan dalam gemerlapnya dunia.

– Terlalu memanjakan anak dengan dalih kasih sayang, terlalu menekan dan memaksa anak supaya seperti kemauan orang tua tetapi tidak sesuai dengan karakter dan talentanya.

B. Buat Kita Selaku Orang Tua/ Pembaca

– Semakin besar niat kita untuk lebih baik, maka semakin besar pula cobaan yang akan kita hadapi. Ibarat pohon yang semakin tinggi, semakin besar angin yang menerpanya. Kita berusaha, kita berdoa, dan kita sadar jalan yang akan kita lalui tidak semulus yang bayangkan, bersyukur dengan apa yang kita terima (penulis pun masih belajar apa yang dituliskannya).

 

Wassalam…!

 

 

 

Oleh : Masjid Afifuddin, Perum. Bumi Mondoroko, Singosari, Malang.
Redaktur : Aminatul Jannah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.