Kisah Sejarah : Antara Abu Thalib dan Abu Sufyan

(ilustrasi) Kisah Sejarah : Antara Abu Thalib dan Abu Sufyan
MutiaraPublic – Ketika kita membicarakan sesosok paman Rasulullah “Abu Thalib”, maka kita akan seakan terbawa pada masa lampau, masa kegelapan kota Makkah. Dimana pada masa itu Islam menjadi musuh bersama bagi mayoritas penduduknya. Dikala masa itu teror terus-menerus dilancarkan untuk tujuan mencegah para aktivis dakwah. Mengenangnya membuat kita teringat akan nilai-nilai kebaikan, ketika kita mengingat sebuah semangat kepedulian yang teramat besar dari paman sang Rasulullah.
Kita tentu masih ingat tatkala beliau (Abu Thalib) menyerukan kepada seluruh kaum Bani Hasyim untuk mengikat sumpah di depan Ka’bah. Dengan saling menggenggam kain rumah suci itu, kaum Bani Hasyim bersumpah untuk membela Rasulullah sampai titik darah penghabisan. Abu Thalib-lah yang menggagas ide tersebut dan beliaulah yang menjadi pemimpinnya. Hal itu mereka lakukan karena baginda Rasulullah tengah menghadapi makar yang teramat besar dari para orang Quraisy.
Maka memang sungguh terjadi bahwa tahun kematiannya dikenang sebagai tahun Kesedihan, dan baginda Rasulullah serta para kaum muslimin berduka cita di masa-masa itu. Bagaimana tidak? Sedangkan Abu Thalib adalah tokoh Quraisy yang berada di barisan paling depan sebagai pembela baginda Rasulullah yang sangat mulia. Nyawa tak lagi ia pedulikan, dengan catatan keponakannya (Rasulullah SAW.) dapat melaksanakan seruannya (perintah Allah SWT.) Dan harta bukan menjadi suatu persoalan belaka, selama kaum muslimin hidup tenteram di bawah perlindungannya.
Tapi apa yang kita rasakan ketika, pada waktu yang sama, kita mengenang Abu Sufyan dan segala sepak terjangnya terhadap Agama Islam? Kita akan merasa muak, jijik dan segudang kebencian akibat perbuatan para antek syaitan kaum kafir Quraisy tersebut. Jika ada ayat-ayat Makiyah dan sebagian ayat-ayat Madaniyah menceritakan tentang syaitan-syaitan orang kafir, yang kebenciannya terhadap Agama Islam lebih besar melebihi semua rasa benci yang ada pada hati ini, maka di dalamnyalah Sesosok Abu Sufyan menjadi tokoh yang paling berperan dalam persoalan-persoalan tersebut.
Bahkan, padamasa di waktu Perang Uhud yang sangat menyakitkan bagi para kaum muslimin, adalah perang miliknya. Dialah (Abu Sufyan) yang pertama kali memiliki ide untuk menyerang balik para kaum muslimin. Ia datangi kawan-kawannya satu persatu, kemudian pada waktu itu ia hasut dan ia seru/ berkata pada mereka untuk membalaskan kekalahan mereka di Lembah Badar. Dia pulalah penyumbang dana terbesar untuk menjalankan perang tersebut, dan kemudian bersemangat untuk menjadi tokoh terdepan dengan tujuan menghancur lebur-leburkan para kaum muslimin.
Hidayah Allah SWT.
Tapi sesosok manusia adalah makhluk yang memiliki sifat lemah dan tak berdaya. Manusia juga tak memiliki kuasa sedikitpun di hadapan sang Ilahi (Allah yang Maha Agung). Jika Allah SWT. berkehendak, maka itulah yang pasti terjadi. Tak ada yang mengira bahwa sesosok Abu Thalib pada akhirnya sebagai calon penghuni neraka. Dan tak ada yang pernah menduga juga bahwa sesosok Abu Sufyan (yang dikala itu membenci para kaum muslim) pada akhirnya akan masuk ke surga Allah SWT. !
Berkenaan dengan Abu Thalib, maka kita menemukan catatan penting tentang akhir hidup sang pria bijaksana tersebut. Dengan segala fakta tentang kedekatannya dengan Rasulullah, dan seluruh hujjah tentang kebenaran Islam yang nampak nyata di hadapan matanya, ternyata tak menggerakkan hati Abu Thalib untuk menerima hidayah Allah. Hatinya tetap keras dan keangkuhannya telah menutup matanya dari kebenaran.
Apa yang kurang dari bukti kebenaran Islam yang dibawa oleh  baginda Rasulullah (Nabi Muhammad SAW.)? Dan apa yang kurang dari akhlaqul karimah yang dipancarkan oleh baginda Rasulullah? Abu Thalib tetap bersikukuh dan keras kepala. Ia merasa malu meninggalkan aqidah kekufurannya hanya karena takut kehormatannya akan jatuh. Dan atas seluruh sikapnya itu, iapun berakhir dengan su`ul khatimah—berakhir dengan kematian yang buruk (mati sebagai seorang kafir).
Namun  beda lagi dengan Abu Sufyan, yang sebagian besar umur kehidupannya terus bergelimang dengan kekufuran, kesombongan terhadap islam ! Namun pada akhirnya merasa tunduk, patuh dan tak berdaya di hadapan kuasa Allah. Kesombongannya hancur dan hatinya luluh oleh hidayah Allah. Kebenaran Islam datang padanya dengan cara yang sangat Unik serta tidak terduga. Dan, sebelum ajal menjemputnya, ia bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. hal tersebut tentunya menunjukkan bahwa ia adalah seorang muslim.
Memang, keislaman Abu Sufyan tidak akan mungkin bisa disandingkan dengan Abu Bakar dan Umar, bahkan dengan para kaum Anshar sekalipun. Tapi Allah SWT. adalah Maha Pengampun dan Bijaksana. Allah SWT. mengampuni semua dosa selama ajal/ kematian belum menjemput seorang hamba. Dan Rasulullah sendiri yang menjadi saksi bahwa Abu Sufyan menjadi seorang muslim sejati.
Maka, Abu Sofyan yang dahulunya merupakan tokoh besar yang pernah menjadi syaitan Quraisy itupun wafat dalam pelukan Selimut/ Hidayah Islam. Dan baginya adalah surga. Insya Allah. !
Wahai saudaraku  orang-orang yang beriman…
Marilah belajar dari masa lalu. Kebaikanmu saja tidak cukup tanpa konsistensi dalam keimanan. Takdir sungguh tidak dapat diduga dan nampak, sementara hati manusia teramat sangat lemah. Jangan sampai ada di antara kita yang terjerumus ke dalam jurang api neraka, hanya karena akhir yang buruk dalam kekufuran kita… Na’udzubillah min dzalik, summa Na’udzubillah min dzalik.…
Cukuplah surat Al-‘Ashr menjadi nasihat bagi diri kita, bahwa syarat keberuntungan itu ada 4 (empat), yang kesemuanya itu harus berjalan beriringan, yaitu:
  • Keimanan kepada Allah,
  • Ibadah dan amal shalih,
  • Berdakwah menyerukan kebenaran, dan
  • Sabar serta istiqamah dalam seluruhnya.

Karena, jika tidak demikian, sungguh ia adalah termasuk orang yang merugi…
Wallahua’lam bi Sawab!

Oleh : Abu Qawwam
Editor : Zainul Hakim
Dipublikasi: mutiarapublic.blogspot.com

DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.