Kisah Inspiratif : Terpaksa Awalnya, Terpikat Akhirnya !
Kisah Inspiratif : Terpaksa Awalnya, Terpikat Akhirnya !

Kisah Inspiratif : Terpaksa Awalnya, Terpikat Akhirnya !

MutiaraPublic.com – Untuk sahabtku muslim, kita ketahui bahwasanya pahala sholat yang terbesar yaitu saat sholat dilakukan di awal waktu serta dengan cara berjamaah, bagi golongan lelaki diprioritaskan berjamaah di masjid maupun mushola. Namun dengan beragam argumen, peluang emas ini kerapkali ditinggalkan, juga kadang-kadang dengan penuh kesadaran. Aktivitas kerja, rasa malas atau mungkin juga malu pada lingkungan, jadi argumen kenapa sholat dilakukan sendiri tanpa berjamaah, dirumah maupun ditempat kerja. Hal inilah sebagai bahan perbincangan kami diwaktu itu, sepuluh menit sebelum waktu istirahat berakhir.

“Awalnya, saya sholat di mushola juga lantaran terpaksa, ” sebut saja Ahmad (nama samaran).
“Lho, tidakkah dalam melaksanakan ibadah kita tak bisa terpaksa? Mesti ikhlas, lantaran serta cuma mengharap ridho Allah semata? ” protes salah satu temanku yang duduk di seberang meja.

“Betul! Nilai suatu beribadah memanglah ditetapkan oleh kemauan serta keikhlasannya. Serta terpaksa terang bukan hanya suatu keikhlasan. Maksud saya, saya kembali rajin sholat berjamaah di mushola, itu lantaran awalannya saya paksakan. Yang saya paksakan yaitu melangkahkan kaki ke musholanya, bila sholatnya insya Allah saya ikhlas, ” Ahmad membetulkan pengucapan rekanan kerjaku, sekalian menuturkan terpaksa yang ia maksudkan, adalah “Bersikap ikhlas nyatanya tak senantiasa gampang, serta untuk mengawalinya kadang-kadang mesti dipaksakan, ” Ahmad menambahkan.

Singkatnya, Ahmad juga menceritakan bagaimana hatinya saat ini ‘terpikat’ dengan mushola.
“Yang saya perlu saat satu hingga dua minggu untuk betul-betul melangkahkan kaki menuju mushola dengan mudah, tiada sedikitpun rasa terpaksa. Seluruhnya berawal saat pulang kerja, saya berpapasan dengan seseorang remaja yang baru pulang dari sholat Ashar di mushola. Bajunya yang rapi, gerak geriknya yang santun, tampak tidak sama dari rekan-teman seusianya. Namun malah itulah yang menarik perhatian saya. ” ungkap Ahmad

“Saat itu saya lihat banyak remaja seusianya menggunakan waktu hanya dengan sekedar duduk enjoy di tepi jalan, namun sedikitpun ia tidak terasa canggung. Dia juga tidak tampak angkuh mengambil langkah di depan rekan-temannya. Melihat hal demikian itu, saya merasa malu. Umur saya jauh diatas dia, namun masalah kesalihan saya jauh di bawah dia. ” ungkap Ahmad

“Dulu, satu tahun lebih yang lalu saya sempat aktif jadi jamaah mushola. Namun sesudah bekerja, dengan argumen repot serta lelah setelah bekerja, perlahan-lahan saya mulai meninggalkan rutinitas sholat berjamaah di mushola. Ketika saya lihat pemuda itu, saya berjanji pada diri sendiri untuk kembali aktif sholat berjamaah di mushola. ” ungkap Ahmad

“Hari itu juga? ” tanya rekanan kerjaku yang lain. Saya sendiri diam, menanti Ahmad meneruskan ceritanya.
“Ya! Namun nyatanya tidak semudah yang saya pikirkan. Hari itu, saya berazam untuk kembali ke mushola yang telah demikian lama saya tinggalkan. Namun, waktu adzan maghrib bergema, nampak rasa malas serta segan yang nyaris saja menggagalkan sholat berjamaah pertama saya di mushola. Entahlah, tiba-tiba saya terasa berat melangkahkan kaki. Ada rasa malu pada tetangga kanan serta kiri. Setan memanglah tidak sempat ikhlas membiarkan manusia melalui jalan yang Allah ridhoi. ” ungkap Ahmad

“Tapi pada akhirnya njenengan terus sholat di mushola kan? ” ungkap saya sambil menebak.

“Alhamdulillah! Walaupun berat, walaupun canggung, saya paksakan untuk terus sholat berjamaah di mushola. ”

“Itu kali pertama njenengan kembali aktif di mushola, bagaimana sambutan jamaah disana? ” tanyaku lagi.
“Subhanallah! Saya seperti temukan keluarga baru, atau mungkin seperti saudara yang telah demikian lama terpisah, lalu menyatu kembali. Sebagian jamaah telah saya kenal cukup lama. Mereka telah ada saat saya tetap aktif dahulu, serta mereka tetap bertahan sampai saya kembali serta juga hingga saat ini. Alhamdulillah, semoga saya serta mereka terus istiqomah. ”

“Aamiiiiin…., ” jawab kami serempak.

***
Dari kisah diatas, Apa yang Ahmad berikan, menurutku ada benarnya juga. Bahwasanya ikhlas itu mutlak supaya beribadah yang kita lakukan jadi bernilai, sesudah kemauan yang lurus sebelum saat mengawalinya. Tetapi ikhlas itu tak senantiasa datang dengan serta dan merta, butuh diusahakan atau mungkin seperti arti yang Ahmad gunakan, butuh dipaksakan memang awalannya, supaya jadi mudah serta punya kebiasaan pada akhirnya.

Ahmad telah menunjukkan, cuma perlu waktu satu sampai dua minggu untuk membiasakan diri, kerjakan sholat berjamaah di mushola. Bila saja ia tidak memaksakan diri awal mulanya, mungkin kesadaran bakal keutamaan sholat berjamaah di masjid atau mungkin mushola untuk golongan lelaki cuma berhenti pada kesadaran semata, tiada sempat diwujudkan dengan aksi riil.

Sahabtku.. Paksakan diri, paksakan hati apabila ikhlas tidak juga ada. Janganlah turuti bisikan setan yang selalu berupaya untuk menghalang-halangi kita dari jalan Allah. Saya yakin tidak bakal lama, walau awalannya terpaksa, bila kita mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh serta mengikuti dengan doa yang tidak ada putus, maka seluruhnya yang awalannya terpaksa bakal jadi suatu rutinitas, lalu menjelma jadi keperluan. Ahmad, merupakan satu diantara rekanku yang sudah membuktikannya. Bila anda alami hal yang sama, mungkin telah waktunya coba panduan ini.
Semoga, walau awal mulanya jadi berat, bersamaan dengan berjalannya waktu, dimana saat Allah turunkan hidayah Nya sampai pada akhirnya hati betul-betul terpikat. Insya Allah, Amin Ya Rabbal ‘Alamin !

 

Oleh : Hamba Allah.
Redaktur : Erlinda Natalia

 


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

MutiaraPublic.com – Untuk sahabtku muslim, kita ketahui bahwasanya pahala sholat yang terbesar yaitu saat sholat dilakukan di awal waktu serta dengan cara berjamaah, bagi golongan lelaki diprioritaskan berjamaah di masjid maupun mushola. Namun dengan beragam argumen, peluang emas ini kerapkali ditinggalkan, juga kadang-kadang dengan penuh kesadaran. Aktivitas kerja, rasa malas atau mungkin juga malu pada …

Review Overview

0

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.