Ketika Seseorang Hamba Larut Dalam Munajat Kepada-Nya

ilustrasi : Ketika Seseorang Hamba Larut Dalam Munajat Kepada-Nya
Dari Anas ra, dari Nabi sholallohu alaihi wassalam, beliau mencerita-kan apa yang difirmankan Rabb yang Maha Mulia lagi Maha Agung:

“Apabila seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta; apabila dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa; dan apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari.” (HR. Bukhari)

Pesona Terindah Bagi Seorang Muslim
Sesungguhnya ketika seorang dihadapkan pada realita hidup yang membelit, serta memasung hati dan pikiran. Sehingga terasa susah untuk menggapai ketenangan dan kedamaian jiwa, membuat mata memaksakan diri meneteskan air mata kesedihannya, yang setiap bulirannya dipenuhi warna sebuah harapan. 
Maka yang terbaik untuk dilakukannya adalah mencari cara, tempat dan waktu yang tepat untuk mengingat, menyebut nama-Nya dan bermunajat (memohon) kepada-Nya. Karena hanya itu yang akan membuat jiwa menjadi tenang dan tentram. Alloh swt berfirman:

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tentram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi ten-tram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Sukar dicari bandingannya saat seorang hamba yang tersekat oleh kegalauan jiwa dia mencoba untuk bangun, tegak berdiri, menyingkirkan selimut keputusasaan, sekalipun membuai dan menghangatkan namun jika dirasa selimut itu hanya sesaat memberikan kehangatan. 
Ketika malam mulai sunyi, ia menggerakan bibirnya untuk menyebut nama Alloh, berusaha menggali i’tibar (pelajaran) dari semua kejadian, dia menampakkan dengan jujur betapa dirinya membutuhkan kepada sang Penguasa-nya, Alloh subhanahu wata’ala. Ia akui akan kelemahan dirinya dengan memberikan pujian kepadaNya, mensucikan nama-Nya, dan ucapan tahlil, “Laailaahaillalloh”.
 Ia akan kedua tangannya dengan gelora hati tertuju hanya kepada Alloh swt, dia meminta kepada Rabb-nya uluran tangan pertolongan. Firman-Nya:

“Ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?” (QS. Az-Zumar: 9)

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan.” (QS. As-Sajdah: 16)

Itulah keadaan terindah, ketika seseorang larut dalam munajat kepada-Nya di atas torehan luka karena kesedihan. Itulah kelezatan yang terbesar dari kelezatan dunia, karena hati saat itu berada pada orbit kedamaiannya, dan seluruh anggota badannya berada di atas puncak peristirahatan sejati. 
Keadaan seperti ini tidak akan pernah terlihat kecuali pada seorang hamba yang dapat merasakan manisnya iman, lezatnya ayat-ayat Al-Qur’an dan sejuknya keyakinan pada Rabbnya. Benarlah Nabi yang mulia saw yang bersabda,

“Perumpamaan orang yang menyebut nama Rabbnya dan orang yang tidak me-nyebut nama-Nya. Seperti orang hidup dan mati.” (HR. Bukhari)

Dalam lafadz muslim rhm:

“Perumpamaan rumah yang di dalam-nya disebut nama Alloh dan rumah yang di dalamnya tidak disebut nama Alloh, seperti orang hidup dan orang mati.”

Hal yang Menggambar Kedekatan Kepada Allah!
1. Menumbuhkan sikap rendah diri dan perasaan sangat membutuhkan kepada Alloh swt.
Karena pada hakikatnya tidak ada satu makhluk pun yang dapat mempertahankan dan menjalankan kehidupannya, kecuali dengan ketentuan dan kekuasaan Alloh swt. Kemudian hamba itu membuktikan untuk tidak tertipu dengan pengetahuan yang dimilikinya dan usaha yang telah dilakukan-nya, bahkan ia senantiasa menghamparkan kepalanya di tanah, bersujud merendahkan diri di hadapan-Nya untuk memohon pertolongan di dalam meraih sebuah kemudahan dan keteguhan hati di dalam menghadapi berbagai macam problematika kehidupan. Lantunan do’anya adalah,

“Wahai Dzat yang membolak-balikan hati, tetapkan hati ini di atas ketaatan ke-pada-Mu” (HR. Muslim)

“Wahai Tuhan yang Maha Hidup, wahai Tuhan yang Maha Berdiri Sendiri (ti-dak membutuhkan segala sesuatu) dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku, dan jangan diserahkan kepadaku sekalipun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan darimu).” (HR. Al-Hakim)

2. Banyak berdzikir menyebut nama-Nya dalam setiap keadaan dan waktu
Melanggengkan dzikir kepada Alloh dalam segala tingkah laku, melalui lisan, qolbu, amal dan perilaku. Dan dzikir kepada Alloh merupakan sifat orang yang men-cintai Alloh dan dicintai oleh Alloh ta’ala. Alloh berfirman dalam hadits qudsi-Nya:

“Sesungguhnya Alloh Azza wa jalla berfirman, “Aku bersama hamba-Ku sela-ma dia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak (untuk dzikir) kepada-Ku.” (HR. Ahmad dishahihkan Al-Bani)

Alloh berfirman dalam Al-Qur’an:

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)

“Laki-laki dan perempuan yang ba-nyak menyebut (nama) Alloh, Alloh telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Alloh, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42)

3. Membaca Al-Qur’an dan mentadaburi kandungannya
Membaca Al-Qur’an dengan penghayatan dan pendalaman atau khusyu’ meru-pakan salah satu sebab juga untuk meraih cinta Alloh swt. Karenanya tidak mengherankan bila mendekatkan diri dengan membaca kitabulloh tersebut, merupakan pendekatakan diri kepada Alloh (taqarrub) paling agung yang diharuskan untuk mendapatkan mahabatulloh (cinta dari Alloh). 
Sebab Alloh ta’ala dengan hikmah dan kebijaksanaan-Nya menghendaki agar keimanan kita kepada-Nya merupakan keimanan kepada perkara yang ghaib, maka Alloh juga menghendaki agar seruan dan firman-Nya kepada kita sebagai suatu perkara yang tampak sejelas-jelasnya. Sehingga kita bisa melihat firman (kalam)-Nya dalam bentuk guratan tulisan, mendengarkannya dalam bentuk bacaan, serta berulang-ulang mengakrabinya melalui lafadz dan artinya untuk ditanamkan dalam benak dan sanubari kita. 
Sebagaimana ulama Salafus Shalih merasakan benar adanya makna tersebut dan mereka membaca Al-Qur’an, bahkan mereka seolah bersentuhan langsung dengan sentuhan ghaib yang asing ketika menerima surat dari sang kekasih yang dirindukan.
Al-Hasan bin Ali ra mengatakan:

“Bahwa generasi sebelum kalian telah melihat Al-Qur’an ini sebagai risalah-risa-lah dari Tuhan mereka yang kemudian me-reka renungkan di kala malam, lalu mere-ka merasa kehilangan di kala siang.” (An-Nawawi dalam At-Tibyan, fi Adabi Ha-malatil Qur’an)

Jika kita analisa betapa kitab Al-Qur’an merupakan sesuatu yang agung dan menyiratkan sinar yang terang benderang dimana Dzat yang Maha Besar, Maha Tinggi, Pemilik seluruh kerajaan dan Maha Suci itu memang mengkhususkan seruan dan kalam-Nya untuk manusia yang lemah, kerdil dan kecil ini agar mereka mencintainya, kemudian Dia subhanahu wata’ala berikan kepadanya kehormatan untuk berdialog dengan-Nya dan bermunajat kepada-Nya.
Ibnul Jauzi rohimalloh mengatakan:

“Orang yang membaca Al-Qur’an nan agung ini seharusnya melihat bagai-mana Alloh swt menyayangi makhluk-Nya, ketika mengalirkan makna-makna firman-Nya untuk memberi pemahaman kepada mereka, dan hendaknya dia berusaha untuk memahami bahwa yang sedang dibacanya adalah bukan pernyataan manusia. Dia (orang itu) selayaknya berusaha menghadirkan kebesaran dan kesucian Dzat yang menyatakan firman tersebut, sekaligus menghayati firman-Nya.” (Mukhtashar Minhajil Qasidin. Hal. 6)

Firman Alloh swt:

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Alloh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa: 82)

4. Istiqomah dalam beribadah
Taqarrub kepada Alloh subhanahu wata’ala dengan melalui ibadah-ibadah sunnah setelah melakukan ibadah-ibadah fardhu (wajib) akan lebih mendekatkan seorang hamba kepada Alloh dan sampai kepada derajat dicintai oleh Alloh setelah derajat di antara orang-orang yang diberi kesempatan untuk mencintai Alloh swt. Dalam hadits qudsi Alloh berfirman:

“Dan tidaklah hamba-Ku mendekat-kan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada apa yang telah aku wajibkan atasnya. Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Maka jika Aku telah mencintainya, Akulah yang membimbing pendengarannya ketika ia mendengar, Aku-lah ynag membimbing penglihatannya ketika ia melihat, dan Akulah yang membimbing tangannya ketika ia menjangkau dengan tangannya, dan yang membimbing kakinya ketika ia berjalan dengan kakinya. Dan sungguh jika ia meminta kepada-Ku Aku berikan permintaannya dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku Aku berikan kepadanya perlindungan .” (HR. Bukhari)

 Wallhu ‘alam bi shawab !
Oleh : Da’i Nusantara
Redaktur : Zainul Hakim
Dipublis Oleh : MutiaraPublic

DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

IP Blocking Protection is enabled by IP Address Blocker from LionScripts.com.