Ketika Jatah Usia Kita Telah Berakhir !?

Assalamu’alaikum wr. wb.
Saudaraku…,
Tidak terasa, waktu terus berlalu dan terus berlalu (dan tidak mungkin berhenti/kita hentikan). Padahal, jatah umur kita untuk hidup di dunia ini telah ditetapkan oleh Allah SWT. sebagaimana keterangan dalam surat Faathir berikut ini: 

”Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah”. (QS. Faathir. 11).

Hal itu menunjukkan bahwa pada saat yang sama, tidak terasa pula jatah umur kita juga akan terus berkurang dan terus berkurang (dan tidak mungkin berhenti/kita hentikan). Yah…, cepat atau lambat, ketika waktu telah berakhir, maka tibalah saatnya untuk berpisah dengan kehidupan dunia ini beserta semua yang ada di dalamnya. 

“Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)-mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan”. (QS. As Sajdah. 11).

Saudaraku…,
Begitu saat-saat menjelang ajal tiba, maka kita harus berjuang sendirian menghadapi sakaratul maut yang demikian mengerikan. Orang-orang yang selama ini kita cintai (orang tua kita, istri / suami kita, anak-anak kita, saudara / kerabat kita, dll), ternyata sudah tidak mampu lagi menolong kita. Mereka semuanya akan membiarkan kita sendirian menghadapi sakaratul maut yang demikian mengerikan.
Pada saat-saat kritis seperti ini, kita akan menyadari, bahwa orang-orang yang kita cintai, ternyata tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka semuanya benar-benar tidak dapat membantu kita untuk lari menghindari sakaratul maut. 

”Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya”. (QS. Qaaf. 19). 

Karena pada saat-saat kritis seperti ini, mereka hanya mampu mendo’akan kita, tidak lebih dari itu. Apalagi harta / kekayaan kita maupun kedudukan / jabatan kita.
Sekali lagi, pada saat-saat kritis seperti ini, ternyata kita benar-benar harus berjuang sendirian menghadapi sakaratul maut yang demikian mengerikan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: 

“Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR. Tirmidzi). 

“Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek?” (HR. Bukhari).

Saudaraku…,
Dan pada saat-saat kritis seperti ini, barulah kita akan menyadari bahwa ternyata hanya amal kebajikan kita-lah yang bisa menolong diri kita.

“Adapun orang yang bertaubat dan beriman, serta mengerjakan amal yang saleh, semoga dia termasuk orang-orang yang beruntung”. (QS. Al Qashash. 67).

(Kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”. (QS. Al Haaqqah. 24).

“Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”, (QS. Al Israa’. 9).

Ya, Allah…!
Mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut. Dan wafatkanlah kami dalam keadaan baik. Amin…!
Semoga bermanfaat!
Oleh : Imron Kuswandi M.
Redaktur : Hakim
Dipublikasikan : MutiaraPublic

DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.