Kajian Al-Fatihah ; Inilah 3 Golongan Manusia ?
Kajian Al-Fatihah ; Inilah 3 Golongan Manusia ?

Kajian Al-Fatihah ; Inilah 3 Golongan Manusia ?

MutiaraPublic.com – Dalam surah Al-Fatihah itu sangatla istimewa sekali. Sejumlah para ahli tafsir sampai-sampai harus menjelaskan surah Al-Fatehah tersebut dalam beratus-ratus lembar halaman kitab. Seperti halnya Ibnu al-Qayyim, misalnya, ia menafsirkan pada ayat ke-5 dari surah Al-Fatihah itu, menjadi sebuah kitab yang sangat lumayan tebalnya dengan Judulnya yakni ; “Madariju As-Salikin”.

Dari Abu Sa’id bin al-Mu’alla RA., Baginda Rasulullah Muhammad SAW., pernah bersabda kepadanya ; {” Surah yang paling mulia di dalam Alquran itu adalah surah Al-Fatihah “} (HR Bukhari). Jadi surah Al-Fatihah ini memiliki derajat yang lebih tinggi jika dibanding dengan beberapa surah lainnya. Surah Al-Fatihah ini disebut juga sebagai pembuka Al-Kitab (atau istilahnya “fatihatu al-kitab”), merupakan Induk Alquran (atau istilahnya “Ummu Al-Quran”), serta 7 ayat yang tentunya selalu dibaca pada setiap raka’at dalam melaksanakan shalat (atau istilahnya “As-Sab’u Al-Matsani ” ), dan lain-lain.

Ibnu Abbas RA. telah berkata, bahwa suatu ketika pintu langit akan terbuka. Maka selanjutnya turunlah malaikat itu menemui Baginda Rasulullah SAW serta berkata ; {” Kabarkanlah kepada Umatmu (Umat Rasulullah) tentang 2 cahaya. Sungguh, ke-2 cahaya tersebut hanyalah diberikan kepadamu (Rasulullah), (dan) tidak diberikan kepada para nabi sebelummu (Rasulullah), yaitu Fatihatu Al-Kitab serta beberapa ayat terakhir dari surah Al-Baqarah “} (HR. Muslim dan Nasa’i).

Pada surah Al-Fatihah ini, khususnya di ayat terakhir yaitu ayat ke-7. Allah SWT. menggolongkan manusia itu menjadi 3 golongan.

  • Yang Pertama ; Orang-orang yang diberi nikmat Oleh Allah SWT. (alladzina an’amta ‘alaihim).
  • Yang Kedua, Orang-orang yang dimurkai Oleh Allah SWT. (al-maghdub), dan
  • Yang Ketiga, Orang-orang yang sesat di Jalan Allah SWT. (al-dhallin).

Lantas Siapa mereka itu, ?

Saudaraku yang dirahmati oleh Allah SWT., Orang-orang yang diberi anugerah atau nikmat oleh Allah SWT yaitu para nabi, orang-orang yang selalu membenarkan syariat Islam (shiddiqin), serta orang-orang yang shalih (atau shalihin) yang terdiri dari orang-orang terdahulu. Kisah-kisah mereka tersebut telah diberitahukan kepada kita dalam kitab suci Al-Qur’an, baik itu secara umum maupun secara khusus.

Tujuan utamanya yakni supaya kita lebih meneladani jejak dan langkah mereka. Sebab pada hakikatnya, Agama Allah SWT. itu hanya ada satu. seperti Firman Allah ; {” Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepada engkau sebagaimana (pula) Kami telah memberikan wahyu kepada (nabi) Nuh serta nabi-nabi yang kemudiannya itu. Dan Kami telah memberikan wahyu (juga) kepada (nabi) Ibrahim, (nabi) Ismail, (nabi) Ishak, (nabi) Yaqub beserta anak cucunya itu, (nabi) Isa, (nabi) Ayyub, (nabi) Yunus, (nabi) Harun, (nabi) dan (nabi) Sulaiman. dan Kami berikan pula (kitab) Zabur itu kepada (nabi) Dawud “} (QS. An-Nisa [4] : 163).

Adapun Orang-orang yang dimurkai oleh Allah SWT. yakni adalah orang-orang yang sudah menerima atau (sudah) mendengar perihal agama yang benar (al-din al-haq) serta disyariatkan oleh Allah SWT untuk para hamba-Nya. Namun, mereka masih menolak serta menjauhkan diri dari Allah SWT. tanpa mau menoleh sedikit pun.

Mereka pada umumnya itu tidak ingin (tidak mau) menggunakan akal sehatnya untuk lebih mengkaji mengenai dalil-dalil yang ada. Mereka itu lebih suka mengikuti suatu tradisi yang tentunya diwariskan oleh para nenek moyang mereka (atau istilahnya “taqlid”). Dan sebagai risikonya yakni mereka niscaya akan ditimpa kesusahan serta kehinaan di dalam Neraka Jahanam. ( Naudzubillah tsumma naudzubillah…! )

Orang-orang yang sesat Yaitu; mereka yang tidak mengetahui tentang kebenaran sama sekali. Mereka itu juga tidaklah mengetahui  mana yang benar maupun mana yang salah. Karena, mereka memanglah tidak pernah kedatangan seorang Rasul (utusan) pun. Atau mungkin mereka pernah kedatangan seorang rasul (utusan), Akan tetapi, nilai-nilai dari kebenaran itu kurang jelas atau tidak jelas bagi mereka.

Bila itu demikian, Maka sesungguhnya mereka tersebut tidaklah terbebani oleh syari’at sebab mereka belum mukallaf. Serta di akhirat kelak, mereka tidak akan mendapat siksaan atas ketidak tahuan tersebut. Seperti halnya Firman Allah SWT ; {” Barang siapa yang (telah) berbuat sesuai dengan hidayah (dari Allah SWT), maka sesungguhnya ia berbuat itu (semata-mata) untuk (keselamatan) dirinya sendiri; serta barang siapa (diantaranya) yang sesat, maka sesungguhnya ia (adalah) tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa itu tidak dapat memikul dosa orang lain, serta Kami tidak akan memberikan azab (kepada mereka) sebelum Kami mengutus seorang Rasul ( kepada mereka ) “} (QS. Al-Isra [17] : 15).

Dari seluruh penjelasan diatas ini, tentunya yang paling dijamin keselamatannya di akhirat kelak, hanya satu golongan yakni bagi orang yang mendapat nikmat atau anugerah dari Allah SWT.

Wallahu a’lam !

 

Oleh : Ustad Rahmad Hidayat
Redaktur : Babur Rahmah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

MutiaraPublic.com – Dalam surah Al-Fatihah itu sangatla istimewa sekali. Sejumlah para ahli tafsir sampai-sampai harus menjelaskan surah Al-Fatehah tersebut dalam beratus-ratus lembar halaman kitab. Seperti halnya Ibnu al-Qayyim, misalnya, ia menafsirkan pada ayat ke-5 dari surah Al-Fatihah itu, menjadi sebuah kitab yang sangat lumayan tebalnya dengan Judulnya yakni ; “Madariju As-Salikin”. Dari Abu Sa’id bin …

Review Overview

0

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

IP Blocking Protection is enabled by IP Address Blocker from LionScripts.com.