Gitu Aja Kok Repot
Gitu Aja Kok Repot, (Foto : GUS DUR)

Gitu Aja Kok Repot !

MutiaraPublic.com – “Anekdot” yang terdiri dari empat kata pada judul diatas tersebut, mengingatkan kita kembali pada sosok guru bangsa, Presiden R.I. Ke-4 Dr. KH. Abdurrahman Wahid, atau yang akrab dipanggil GUS DUR. Sederhana, praktis, dan jelas, tapi maknanya dalam dan luas. Jika Anekdot di atas kita interpretasi lebih luas mungkin bisa bermakna: “Dalam situasi atau kondisi tertentu kita akan dihadapkan pada suatu permasalahan, yang sebenarnya kita sudah mengerti urgensi dari masalah tersebut, hanya saja kita sering terjebak oleh benang kusut yang kita buat-buat sendiri, sehingga masalah yang harusnya bisa diselesaikan secara sederhana, justru kita otak-atik dengan teori yang selangit. Akibatnya, tidak malah menyelesaikan masalah, justru menimbulkan masalah baru.

Adanya permasalahan itu karena kita telah masuk dari pintu waktu ke pintu waktu lain, dari warna hari ke lain warna hari , dari bukit yang dingin ke lembah yang panas, dari terbit fajar hingga di tengah  cakaran matahari siang, kemudian dalam buaian senja merah, sampai saatnya memeluk rembulan, sambil mengais bintang-bintang di payung sang malam. Saat itulah kita kembali ke perputaran waktu dengan membawa sejuta harapan yang berbeda.

Tidak semua perbuatan yang kita lakukan berasal dari niat yang kita rencanakan, karena adanya ruang dan waktu yang lapang seiring dengan rayuan obsesi kita sanggup memporak-porandakan niat awal. Apakah sesuatu yang saat ini kita miliki (derajat, pangkat, harta, jabatan, dll) sudah sesuai dengan cita-cita kita sejak kecil ?! Ternyata jawaban dari pertanyaan ini tidak seromantis yang kita bayangkan saat kecil dulu. Saat kecil dulu, kita bercita-cita menjadi Guru, eeeeh… kok malah sekarang berprofesi sebagai Mekanik.

Demikian pula Gus Dur, beliau tidak pernah bercita-cita jadi presiden, nyatanya jadi presiden. Leonardo Davinci yang lahir dalam keadaan autis tidak pernah berharap lebih, walau akhirnya ia menjadi ilmuan dan seniman yang tersohor. Atau Kusni Kasdut, mantan pejuang yang disia-siakan. Dia tidak pernah membayangkan menjadi perampok yang di takuti yang pada akhirnya mendapatkan hukuman mati.

Hidup ini ibarat air sungai yang mengalir, berawal dari mata, dan sampai berakhir di muara. Ia akan menemui bebatuan, daun-daun kering, ikan-ikan, kayu-kayu, bahkan sampah-sampah, dan kotoran. Disitulah kita akan beradaptasi dengan sebuah habitat, sebuah komunitas, sebuah lingkungan yang mewarnai perjalanan hidup kita. Segala buruknya tergantung pada belenggu nafsu. Segala baiknya tergantung pada kata hati dan niat yang tulus.

Hidup ini ibarat dua sisi mata uang yang berbeda. Adanya hidup karena adanya mati, adanya awal karena adanya akhir, adanya besar karena adanya kecil, adanya susah karena adanya gembira, adanya raja karena adanya rakyat, adanya dokter karena adanya pasien, adanya ustadz karena adanya santri, dsb. Tidaklah mungkin dikatakan wanita kalau tidak ada pria, tidaklah mungkin dikatakan kaya kalau tidak ada si miskin. Semua berhubungan dan saling membutuhkan hingga terbentuklah rantai-rantai kehidupan yang akhirnya berhadapan dengan berbagai masalah.

Orang hidup pastilah menemui masalah-masalah kesehatan, masalah perekonomian, masalah keharmonisan rumah tangga, masalah pendidikan anak, masalah moral, dan masalah-masalah lain yang pernah kita alami dan rasakan. Kita sering disuguhi pertanyaan yang beraroma profit oriented di berbagai media; Apa masalah anda ? Salah satu iklan konsultan diberbagai bidang dan kepentingan. Cara mereka menawarkan jasa, sebagai profesi yang pada dasarnya juga untuk mencari nafkah. hampir sama dengan kita yang setiap hari mencangkul sawah atau berdagang di pasar hanya mencari nafkah untuk keluarga. Tetapi sebenarnya solusi itu ada pada diri kita sendiri, bukan pada orang lain. Bukankah ayat Tuhan Sang Pencipta Alam telah memberikan wewenang agar kita merubah nasib kita sendiri.

Sanggupkah kita mencintai profesi kita sendiri, atau setidaknya bersyukur atas profesi, posisi, kondisi, dan hasil karya sendiri. (Jawabannya, harus) kecuali profesi kita merampok, koruptor, atau segala bentuk profesi yang menyimpang dari syariat. Karena itulah kita wajib bersyukur. Jika tidak, kita pasti akan menemuhi masalah, padahal masalah-masalah lain sesudah mendekam di otak kita, menumpuk-numpuk kuat, seperti “tembok cina”. Jika itu terjadi maka kita akan tersungkur di-ketidakberdayaan, yang pada akhirnya membenturkan kita dalam keputus-asaan. Petaka ini sebenarnya bersumber dari sebuah ambisi, gengsi, dan mimpi yang tak terbeli, hingga kita rapuh, tak berani, menghadapi musuh-musuh hati yang akhirnya depresi.

Sejatinya persoalan-persoalan tersebut tidak perlu dipersepsikan secara pelik, rumit, dan ribet. Jika perut kita lapar, solusinya ya makan (gitu aja kok repot). Kalau tidak ada makan, tentunya kita harus bersusaha mencarinya (gitu aja kok repot). Kalaupun kita menemui jalan buntu karena lemahnya tenaga, setidaknya kita telah berikhtiar, berusaha secara maksimal untuk mencari makanan tersebut (gitu aja kok repot).

Sebenarnya apa yang kita lakukan ini sudah menjawab dan mengurangi beban dan masalah kita. Dan dari sekian tulisan diatas, sebenarnya tidaklah sulit menghadapi masalah tersebut, intinya… :

  1. Lakasanakan apa yang kita bisa.
  2. Berkata apa adanya (jujur).
  3. Jalani dan hadapi…

Percayalah bahwa sesungguhnya {“ Allah SWT tidak akan menguji hamba-Nya diluar kapasitas ”}.

GITU AJA KOK REPOT…! Enggeh Gus.

 

 

 

Oleh : Edy Sentosa
Editor : Sa’Dullah
Redaktur : Aminatul Jannah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.