Bila Doa Tidak Dikabulkan, Maka Inilah Penyebabnya
ilustrasi - Bila Doa Tidak Dikabulkan, Maka Inilah Penyebabnya (foto ; blogspot)

Bila Doa Tidak Dikabulkan, Maka Inilah Penyebabnya

MutiaraPublic.com – Suatu hari tokoh besar bernama Imam Hasan Al-Bashri tengah berjalan di pasar kota Basrah. Seseorang datang lalu bertanya kepada beliau ; {“ Wahai Abu Ishaq (panggilan buat Imam Hasan Al-Bashri) katanya di dalam Al-Q ur’an itu (berkata) ; “Berdoalah kepada-Ku (Allah SWT), maka Aku (Allah SWT) akan menjawab doamu. Mintalah kepada-Ku (Allah SWT), maka Aku (Allah SWT) akan penuhi permintaan kamu”. Begitulah janji Allah SWT yang ada dalam Al-Qur’an. Sedangkan kami ini (kata orang tadi) sudah lama berdoa kepada Allah SWT, sudah banyak sekali kami memohon kepada-Nya tapi kok doa kami sampai sekarang tidak dijawab/ doa tidak dikabulkan, ini sebenarnya bagaimana ? “}.

Kemudian Imam Hasan Al-Bashri menjawab ; {“ wahai.. Penduduk Basrah (sungguh) hatimu telah mati, dari hati yang mati itu doa tidak dikabulkan, tidak ada getaran hati (chanel) untuk nyambung kepada Allah SWT. Karena dari hati yang mati, doa tersebut tidak akan mengeluarkan getaran untuk sampai kepada “Arsy”, jadi hatimu mati maka doamu tidak bisa sampai kepada Arsy tersebut “}.

Saudaraku yang di muliakan Allah SWT, kita renungkanlah jawaban ini, memang sangat sederhana doa tidak didengar oleh Allah SWT, permohonan tidak dikabulkan oleh Nya. Tapi kalau kita mau melihat kepada renungan yang lebih jauh lagi, kemalangan apa yang lebih besar selain jikalau Allah SWT sudah berpaling dari kita dalam hidup ini. Naudzubillah !

Jika permohonan kita tidak di dengar, maka doa tidak dikabulkan, dan Allah SWT sudah masa bodoh (tidak lagi peduli) kepada kita. Lalu kemana lagi langit tempat kita bernaung, kemana lagi bumi tempat kita berpijak. Sungguh kalau Allah SWT sudah berpaling dalam hidup ini kepada kita, maka itulah kemalangan yang paling besar dalam hidup ini.

Sementara kita berleha-leha yang menurut kita kemalangan itu adalah kehilangan jabatan, yang menurut kita kemalangan itu kehilangan harta benda, menurut kita kemalangan itu adalah orang yang kita sayangi. Sementara Allah SWT berpaling dari hidup kita, kita tidak pernah melakukan evaluasi.

Nah, apa yang menyebabkan hati itu menjadi mati sehingga tidak ada getaran yang nyambung ke Arsy, yang mengakibatkan Allah SWT berpaling dari kita, sehingga doa tidak lagi didengar, permohonan tidak lagi dikabulkan. Ada beberapa hal yang menyebabkan hati jadi mati, sehingga doa tidak terangkat. Imam Al-Bashri menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan hati menjadi mati ;

Yang Pertama ; Kita kenal Allah SWT, tapi hak-Nya untuk disembah dan kewajiban kita untuk menyembahNya, sama-sekali tidak pernah kita laksanakan. Bagaimana hati tidak jadi mati. Artinya kita kenal bahwa Allah SWT sebagai pencipta alam semesta ini, tapi kita melaksanakan sholat saja tergantung kebutuhan, dalam artian hakNya untuk disembah dan kewajiban kita untuk menyembahNya itu kita lalai, bahkan sama sekali tidak pernah kita laksanakan.

Yang Kedua ; Kita baca Al-Qur’an, kita dengungkan nada Al-Qur’an, kita sanjung Al-Qur’an, tapi isinya atau ajaran Al-Qur’an tersebut tidak pernah kita laksanakan, tidak pernah kita amalkan, bahkan isinya dan ajaran dalam Al-Qur’an sering kita injak-injak. Bukankah kita hidup di suatu zaman dimana sebuah tuntunan sudah menjadi tontonan, dan tontonan sering dianggap sebagai tontonan.

Bukankah kita hidup di satu masa dimana orang yang jujur dikhianati, dan pengkhianat malah diberikan amanah. Bukankah zaman sekarang ini sudah terjadi pergeseran yang sedemikian rupa. Kita baca Al-Qur’an kita musabaqahkan (memperlombakan) pula bacaannya, tapi isinya dan ajarannya tidak pernah kita laksanakan, bahkan nyaris sering kita injak-injak. Maka hati pun jadi mati.

Yang Ketiga ; Kita makan nikmat Allah SWT, tapi kita tidak pernah bersyukur kepadaNya. Misal ; seperti ikan di laut yang Allah SWT ciptakan tersebut yang setiap dari kita tangkap atau kita ambil, namun Allah SWT kita abaikan. Tidak pernah sesaatpun dalam hidup ini nikmat Allah SWT itu berhenti, sejak kita bangun dari tidur hingga kita tidur kembali, bahkan dari tidur kita itu sendiri merupakan kenikmatan yang sangat berarti.

Dari sekian nikmat-nikmat yang kita tidak akan pernah sanggup menghitungnya, Allah SWT hanya meminta untuk selalu mensyukuri nikmat tersebut. {“ Kalau kita mensyukuri maka Allah SWT akan menambahkan, tapi kalau kita tidak mensyukuri maka adzab Allah SWT akan menimpa “}.

Yang Keempat ; Kita yakin, kita percaya, dan kita tahu betul bahwa hidup ini akan berakhir dengan kematian, tapi kita tidak pernah mempersiapkan diri untuk itu. Baik dalam menghadapi kematian maupun menghadapi sesuatu yang lebih penting yakni sesudah kematian. Karena mati pada dasarnya adalah sebuah peralihan dari tahap kehidupan, ke sesuatu tahap kehidupan berikutnya, bukan akhir dari segalanya.

Seperti kita yang akan pergi ke luar kota atau perjalanan yang jauh, maka tentu kita akan menyiapkan bekal. Semakin jauh perjalanan yang kita tempuh, maka semakin banyak pula bekal yang harus kita bawa. Kalau kita berangkat jauh tapi kita tidak membawa bekal maka ini namanya Nekat, sampai ditujuan itu belum tentu, sengsara dijalan itu sudah pasti.

Semoga Allah SWT selalu memeberikan rahmat kepada kita semua. Amin !

 

 

 

Sumber : Alm. KH. Zainuddin MZ.
Editor : M. Ivan J.
Redaktur : Aminatul Jannah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.