Berhati-hatilah, Saat Nasehat Baik Justru Berakibat Buruk (Foto - H Rhoma Irama)
Berhati-hatilah, Saat Nasehat Baik Justru Berakibat Buruk (Foto : H. Rhoma Irama)

Berhati-hatilah, Saat Nasehat Baik Justru Berakibat Buruk !

MutiaraPublic.com – Ada kondisi dimana nasehat baik justru berakibat buruk, apakah bagi si penyampai nasehat maupun bagi si penerima nasehat. Padahal saling menasehati dalam kebajikan dan dalam kesabaran adalah perintah Allah terhadap orang-orang beriman yang dapat menghindarkan diri dari kerugian waktu. Betapa tidak, banyak bertemu manusia hanyalah sia-sia belaka karena banyak dusta dan aib orang yang ditukar untuk diperbincangkan, kecuali jika diisi dengan nasehat menasehati dalam kebenaran.

Namun ada masa ketika segala sesuatu yang keluar dari lisan sang mubaligh adalah kebenaran yang tidak diragukan dan tidak dapat dibantah karena berdasar dalil Qot’i, tapi Mustami’ atau pendengar yang mendengar hal tersebut justru semakin menjauh bahkan melakukan hal sebaliknya dari yang dikatakan sang Mubaligh. Bukan kebaikan yang dituai dari nasehat yang disampaikan tapi justru keburukan yang mendatangkan kerugian. Kerugian bagi pendengar karena justru semakin jauh dari Allah dan kerugian bagi Mubaligh sendiri dengan tidak adanya balasan pahala di sisiNya.

Untuk itu berhati-hatilah wahai para Mubaligh, kenali kondisi saat nasehat baik justru berakibat buruk. Berikut kami paparkan sedikit uraiannya:

  • Mubaligh memperingatkan orang lain namun melupakan perbaikan diri sendiri

Kondisi pertama yang bisa menyebabkan hal ini adalah karena sang Mubaligh tidak mengamalkan apa yang dinasehatkannya pada orang lain. Sehingga orang akan berpikir untuk apa mengikuti kata-katanya, kelakuannya Mubalighnya sendiri tidak benar.

Allah SWT berfirman:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ

{” Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)-mu sendiri, padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? “} (Q.S.: Al-Baqarah : 44)

Sedangkan kelak orang-orang  yang mengikuti kata-katanya yang telah menjadi ahli Syurga akan bertanya, “Mengapa kalian berada di Neraka padahal kami telah mengikuti ajaran-ajaran kalian sehingga kami berada di dalam Syurga?” Mereka menjawab, “Kami tidak mengamalkan ajaran yang Kami sampaikan pada orang lain”.

Sungguh merugi jika hal ini menimpa diri kita sebagai Mubaligh. Maka dari itu mari kita tengok keadaan akhlak dan perilaku diri pribadi, segeralah perbaiki jika masih banyak amalan yang tidak sesuai dengan yang didakwahkan.

  • Mubaligh memperingatkan orang lain dengan cara yang tidak baik

kondisi  kedua adalah karena cara penyampaian sang mubaligh jauh dari kata sopan dan santun. Tingginya ilmu yang dimiliki seringkali menyebabkan timbulnya penyakit hati berupa secuil kesombongan dimana diri merasa lebih baik dari orang lain. Sehingga sikap merendahkan tergambar dari nada bicara dan pemilihan bahasa yang disampaikan ketika memberi nasehat. nasehat yang diucapkan tidak lagi menyejukkan laksana embun pagi hari namun seperti cemeti yang membuat goresan-goresan luka mendalam di hati pendengar.

Mungkin sang Mubaligh melupakan sepenggal baris ayat Al Qur’an, dimana Allah SWT berfirman:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

{” Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang  baik.  Sesungguhnya Tuhanmu Dialah  yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk “} (Q.S.: An-Nahl : 125)

Jadi dalam menyeru manusia untuk menapaki kembali jalan Robbnya, haruslah dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Sehingga yang diseru tidak akan lari dari si penyeru akibat terlanjur sakit hati karena kasarnya kata-kata yang diucapkan. Termasuk ke dalam cara yang tidak Ahsan ketika seorang Mubaligh menjatuhkan vonis kafir dan munafik kepada orang lain. Apalagi jika sampai terlontar kata-kata bahwa si fulan adalah calon Neraka dikarenakan kelakuannya.

Kita harus sadar bahwa tidak ada yang tahu bagaimana akhir hidup seseorang, apakah Husnul atau Su’ul Khotimah. Contoh sejarah menerangkan ada orang yang telah berbuat dosa sepenuh lautan dengan membunuh dan memerangi kaum muslimin namun pada akhir hayatnya dia bertobat dengan sebenar-benar tobat dan ditakdirkan meninggal dalam keteguhan iman.

Rasul-Rasul Allah dan para pengikutnya yang taat pun senantiasa bersopan santun dihadapan pendengarnya. Di dalam kitab Fadhail Amal (karya Syaikhul Maulana Muhammad Zakariya Al Khandhalawi) disebutkan pernah seorang Mubaligh berkata kasar di depan khalifah Ma’mun Al Rasyid, sehingga Khalifah tersebut berkata : Bersopan santun dan beradablah terhadap saya, karena Fir’aun lebih kejam daripada saya, sedangkan Musa a.s dan Harun a.s lebih baik daripadamu, tetapi ketika mereka akan berdakwah kepada Fir’aun”,

Allah SWT berfirman:

فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

{” maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut “} (Q.S.: Thaha : 44)

Kepada orang yang begitu kejam sekaliber Fir’aun pun Allah menyuruh agar Nabi Musa dan saudaranya Harun berlaku lemah lembut. Allah Maha Tahu bahwa hati seseorang bersifat lemah dan mudah terluka. Jika ini terjadi, alih-alih menurut justru orang yang mendengar akan semakin lari dan membangkang pada nasehat.

Kembalikan fungsi nasehat pada tujuannya semula, yakni sebagai jembatan Hidayah bagi orang yang masih berada dalam kegelapan. Bukan untuk menggurui apalagi ingin pamer ilmu agar mendapat pujian khalayak banyak. Berusahalah sekuat tenaga mengamalkan apa yang didakwahkan karena tabligh tanpa amal tidak akan diterima oleh Allah SWT. Pakailah adab yang baik dalam menyampaikan ajaran-ajaran agama jangan sampai nasehat baik justru berakibat buruk bagi kedua belah pihak.

Demikian semoga Allah mengampuni akan kelalaian diri saya pribadi dalam menyampaikan dan mengamalkan tabligh lewat tulisan ini dan semoga Ikhwan Akhwat semua selalu berada dalam rahmat dan lindunganNya.

 

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiinn !

 

 

 

Oleh : Ay Yulian
Redaktur : Aminatul Jannah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

IP Blocking Protection is enabled by IP Address Blocker from LionScripts.com.