Antara Islam dan Ilmu Pengetahuan
Islam dan Ilmu Pengetahuan

Antara Islam dan Ilmu Pengetahuan

MutiaraPublic.com – Saudaraku, Islam itu bukanlah sebuah agama yang bertumpu pada kepentingan kehidupan spiritual saja. Lebih dari itu, Islam juga merupakan agama peradaban. Islam merupakan sebuah jalan hidup yang sangat lengkap.

Islam bukanlah sekedar agama yang hanya bertumpu pada kepentingan moral belaka. Akan tetapi Islam adalah sebuah khazanah yang sangat kaya akan unsur-unsur, Salah-satunya adalah unsur peradaban yang sangat penting dimana unsur peradaban inilah yang turut membentuk peradaban Islam yakni adalah “ilmu pengetahuan”.

Islam merupakan agama yang amat sekali mengutamakan atau yang mengedepankan ilmu pengetahuan bagi seluruh penganutnya. bahkan Islam mengharuskan bagi setiap umatnya atau pemeluknya supaya terus belajar , belajar dalam menuntut ilmu pengetahuan hingga akhir hayat (seumur hidup).

Islam itu sendiri adalah agama yang selalu menjadikan dirinya sebagai panutan dalam menggapai suatu ilmu, sehingga dikenallah istilah “ulum ad-din” (ilmu-ilmu agama). Di dalam ajaran Islam sendiri, tidak ada secuilpun atau setitikpun pemisahan yang kaku antara agama dan ilmu pengetahuan (sekuler). Karena Islam meyakini bahwa seluruh ilmu yang ada di alam jagad raya ini pada hakikatnya tiada lain berasal dari Allah SWT, berasal dari Allah Yang Maha Esa.

Bukankah Allah SWT sendiri telah berfirman dalam kitab suci Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah SWT akan mengangkat derajat seorang yang beriman dan berilmu itu lebih tinggi derajatnya daripada orang yang beriman biasa (tidak berilmu).

Bukankah juga Allah SWT mendorong bagi kita semua yakni umat muslim agar selalu memperhatikan setiap jengkal dari alam jagad raya ini, mengkaji makna dari setiap unsur alam jagad raya ini sebagai tanda kebesaran-Nya sekaligus sebagai sumber dari ilmu-ilmu pengetahuan. Sungguh Alam jagad raya ini merupakan tanda kebesaran dari Allah SWT. Sungguh Alam jagad raya ini berjalan sesuai dengan kuasa ilmu Allah SWT.

Ada hukum-hukum Allah SWT atau “Sunnatullah” yang telah mengatur alam semesta ini. baik itu kehidupan manusia, kehidupan hewan-hewan, serta kehidupan tumbuh-tumbuhan, itu tiada lain adalah bagian dari ilmu Allah SWT.

Sesungguhnya Kita (Manusia) sebagai duta Allah SWT di muka bumi ini seharusnyalah berperanan aktif atau berkewajiban untuk menguak ilmu-ilmu Allah SWT tersebut, dalam artian seperti misal ; ilmu biologi atau ilmu perihal kehidupan di alam jagad raya ini sangatlah penting bagi Islam dalam mengkajinya.

Saudaraku, ketahuilah bahwa Al-Qur’an telah banyak memberikan isyarat-isyarat perihal kehidupan berbagai makhluk di alam jagad raya ini. Al-Qur’an berbicara mengenai binatang, seperti binatang melata (dabbah), unta, sapi, kuda, semut, nyamuk dan lain-lainnya. Semua produk alam jagad raya ini haruslah kita gunakan untuk meningkatkan kualitas hidup kita. Ilmu pengetahuan tersebut harus dimanfaatkan untuk bisa menghasilkan barang-barang yang mampu memberikan kehidupan yang baik pada diri manusia itu sendiri.

Hal pertama kali yang diperintahkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an adalah “Iqra’” Bacalah atau membaca. Perintah ini jelas sekali mengandung makna atau isyarat agar manusia, agar kita semua khususnya umat muslim untuk belajar, belajar dan terus belajar.

Hal ini sebenarnya merupakan hal yang sangat aneh karena perintah pertama Allah SWT dalam Al-Qur’an bukan untuk beriman atau bertaqwa melainkan untuk “membaca” (Membaca merupakan kunci dari ilmu pengetahuan). Dalam berbagai hadist, Baginda Besar Muhammad SAW memerintahkan bagi seluruh umatnya kaum muslimin untuk mencari ilmu pengetahuan ke-mana saja dan di-mana saja, bahkan beliau menyuruh kita hingga ke negeri China.

Saudaraku, peradaban Islam di masa-masa kejayaannya adalah peradaban “ilmu pengetahuan“. Para tokoh ilmuwan Islam telah banyak menyumbangkan hasil karya-karyanya bagi dunia “saint” atau bagi dunia ilmu pengetahuan. Seperti halnya Ilmuwan : Jabir bin Hayyan (bapak kimia modern), Abul Wafa (pakar trigonometri), Ibnu Sina, dan masih banyak yang lainnya. Mereka telah menulis berbagai karya-karya ilmiah yang sangat penting dalam bidang ilmu pengetahuan.

Lantas Apa penyebab peradaban Islam tersebut mampu menyumbangkan berbagai hasil karya-nya yang mengagumkan tersebut (di masa lalu) ?

Hal ini disebabkan karena umat Muslim adalah umat yang sangat terbuka (pada masa kejayaannya). Kaum muslimin yang pada masa itu melakukan berbagai ekspansi militer ke berbagai penjuru wilayah di daerah Timur Tengah, Eropa, Asia, dan Afrika sama sekali tidak merendahkan bangsa-bangsa yang telah ditaklukkannya itu. Mereka (umat muslim pada masa kejayaannya) memperlakukan bangsa-bangsa taklukannya tersebut dengan penuh rasa empati dan hormat.

Oleh karena itu, para penguasa Muslim pada masa itu dianggap sebagai pembebas bagi kalangan yang tertindas di wilayah-wilayah tersebut. Kaum muslimin yang pada masa itu jumlahnya masih sangat sedikit, telah mampu menyerap peradaban ilmu pengetahuan yang telah ditaklukkannya dengan tidak bertentangan terhadap dasar-dasar nilai ajaran Islam.

Peradaban Islam telah mampu mewarisi ilmu pengetahuan dari berbagai peradaban-peradaban yang ada di dunia ini. Hal ini artinya Islam itu tidak muncul (tidak datang) dalam rangka menghapus kebudayaan-kebudayaan di dunia ini. Akan tetapi Islam justru mengakomodasikan berbagai kebudayaan-kebudayaanya yang pernah hidup di dunia ini.

Salah-satu “doktrin” dalam Islam yang mana telah mampu membuat ilmu pengetahuan tersebut berkembang pesat pada masa kejayaannya adalah doktrin mengenai kemuliaan akal. Dalam Islam, akal merupakan anugerah dari Allah SWT kepada manusia yang sama sekali tidak diberikan kepada makhluk-makhluk lainnya. Artinya dengan akal inilah manusia mampu mempelajari berbagai ilmu pengetahuan beserta pengembangannya. Dengan akal inilah manusia mampu meningkatkan kemampuannya dalam berpikir. Dimana Akal ini yang menyebabkan manusia tersebut mempunyai moral dan mempunyai nilai-nilai luhur.

Agama merupakan akal dan bagi mereka itu tidak ada agama yang tidak berakal. Dalam Al-Qur’an telah memerintahkan manusia untuk menggunakan akalnya dalam menemukan kebenaran. Al-Qur’an juga telah memuji manusia yang telah menggunakan akalnya. Dan kepada mereka telah dinisbahkan “Ulu Al-albab” (yakni manusia yang berpikiran mendalam).

Al-Qur’anul-karim menyebutkan ketika Allah SWT menciptakan Nabi Adam sebagai manusia yang pertama dan sebagai khalifah di muka bumi, malaikat pun pada waktu itu mengajukan protes. Untuk apa Allah SWT menciptakan makhluk (Nabi Adam) yang justru malah akan berbuat kerusakan dan mengakibatkan pertumpahan darah ?, Allah SWT pun menjawab bahwa Allah SWT lebih tahu daripada para malaikat tersebut. Allah SWT mengajarkan pada Nabi Adam al-asma’ (nama-nama benda di alam jagad raya). Sebenarnya nama-nama di sini adalah simbol wujud dari ilmu pengetahuan dan Nabi Adam itu mempunyai kemampuan “konseptual“. Kemudian Allah SWT memperlihatkan kemampuan Nabi Adam tersebut kepada para malaikat-Nya. Malaikat itu pun lantas mengakui keunggulan dari Nabi Adam seraya memuji Allah SWT. Kemudian Allah SWT pun memerintahkan para malaikat-malaikat itu untuk bersujud kepada Nabi Adam.

Saudaraku, dari kisah di atas ini menunjukkan bahwa manusia itu lebih mulia daripada malaikat. Manusia dibekali oleh Allah SWT berbagai macam potensi yang justru hal itu tidak dimiliki oleh malaikat. Bahkan oleh sebagian dari filosof dunia, manusia ini disebut sebagai “masterpiece” Allah SWT di muka bumi.

Ilmu pengetahuan tersebut membuat manusia lebih tunduk kepada perintah atau peraturan-peraturan Allah SWT. Dalam artian dengan menguasai ilmu pengetahuan ini seharusnya manusia tidak menjadi angkuh dan sombong. Dan dengan Ilmu pengetahuan ini seharusnya manusia menjadi rendah hati (tawadhu’) dan semakin dekat dengan Allah SWT.

Kondisi dunia di masa-masa sekarang ini amatlah jauh dari impian dan cita-cita Al-Qur’an. Seperti misalnya, saat ini setiap bangsa berlomba-lomba dalam mengembangkan ilmu pengetahuannya dengan tujuan untuk menaklukkan bangsa-bangsa lainnya. Berbagai perlombaan dalam pengembangan senjata militer semata-mata dilakukan supaya satu bangsa tersebut bisa berkuasa/ menguasai bangsa lainnya. Sungguh mereka amat pelit dalam membagi ilmu pengetahuannya kepada bangsa-bangsa lain, kepada bangsa yang belum berkembang. Hal inilah yang menjadikan perbedaan jauh dari apa yang pernah terjadi di masa lampau tersebut dimana pada saat umat Muslim mencapai kejayaannya. Umat Islam di masa lampau sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an itu mampu menjadi saksi bagi manusia.

Untuk mengembalikan atau menghidupkan kembali vitalitas peradaban Islam dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan itu tidaklah mudah. Negara-negara Islam saat ini berbeda jauh dibandingkan masa lampau dimana saat ini negara Islam hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, bukan menjadi pencipta Ilmu pengetahuan.

Maka dari itu, Bagi para pemimpin Islam haruslah memperhatikan pendapat dari mantan Presiden R.I. ke 3 yakni B.J Habibie, dimana beliau mengintruksikan bahwa umat muslim seharusnya belajar untuk membangun riset dan pengembangan ilmu pengetahuan serta teknologi terbaru. Negara-negara Muslim itu sebenarnya mempunyai sumber daya alam yang sangat memadai. Namun sayang, kondisi ekonomi politik internasional tidak mendukung hal tersebut.

Saudaraku, di Era sekarang ini negara-negara Barat telah mampu menguasai “percaturan” politik dunia. Negara-negara barat tersebut tidak rela jika negara-negara Muslim lebih maju dari mereka. Negara-negara muslim dibiarkan keterbelakangan dan terus-menerus miskin, kecuali negara-negara muslim tertentu yang merupakan antek dari negara barat tersebut.

Saudaraku, Kita sebagai umat Islam seharusnyalah melakukan perlawanan terhadap mereka. Tentu saja, bukan dengan senjata, tetapi melainkan dengan semangat pengembangan ilmu pengetahuan “Saint dan Teknologi”. Semangat peradaban Islam haruslah kita bangkitkan kembali. Saatnyalah Peradaban Islam ini disuntikkan dengan ide-ide kreatifitas dan unsur-unsur dinamis. Sebagaimana pernyataan dari cendekiawan Muslim yakni “Mohammed Arkoun” yang menyatakan bahwa {” umat Islam tidak akan bisa bangkit kembali, Tanpa kembali menggunakan akal”} .

 

Wallahua’lam bis showab !

 

 

 

Oleh : Hanvitra
Editor : Didik Sugianto
Redaktur : Babur Rahmah

 


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.