Aa Gym : Meraih Bahagia Dengan Menata Ikhlas
Aa Gym : Meraih Bahagia Dengan Menata Ikhlas

Aa Gym : Meraih Bahagia Dengan Menata Ikhlas

MutiaraPublic.com – Setiap insan itu pasti berkeinginan untuk hidup bahagia, menikmati kehidupan tanpa ia merasa terbebani oleh berbagai problematika. Dan hal ini pula hanya akan dirasakan bagi insan yang sungguh-sungguh berupaya untuk ikhlas, dalam menjaga setiap amalnya, baik amal ibadah, amal shalih, maupun amalan lainnya di dalam kehidupan bermasyarakat, tiada lain hanya bagi Allah SWT. semata. Tidak terbersit sedikitpun dalam benak hati ini untuk dipuji, dihormati, dan dihargai makhluk.

Wahai saudaraku…, luruskan niat selalu, hanya demi meraih cintaNya (Allah SWT.), kemudian kita sebagai insan haruslah menyempurnakan ikhtiar agar hasil yang di cita-citakan/ diharapkan betul-betul sangat optimal, yang terbaik untuk dapat dipersembahkan.

Sehingga diri ini tidak peduli lagi dengan berbagai penghargaan dari orang lain, bagi kita yang terpenting yang dilakukan serta diamalkannya mendapat ridha dari Allah SWT., kita pun harus tetap bersemangat serta beramal shalih. Rezeki bagi kita ialah ketika diri ini mampu berbuat meluruskan niat serta beramal dengan amalan yang terbaik dan juga yang terpenting haruslah didasari dengan ikhlas.

Untuk mencapai tingkatan ikhlas tertinggi (meraih ridha Allah SWT.), Menurut Imam Ali ra. ada beberapa level ikhlas itu, seperti diantaranya ;

Pertama, Ikhlasnya seseorang agar meraih kebahagiaan duniawi. Yaitu, Ketika berdoa pun dia tetap berharap untuk keinginan duniawi semata. Walaupun hal ini masih tingkatan terendah, akan tetapi hal ini lebih baik karena dia hanya meminta kepada Allah SWT. saja.

Kedua, Ikhlasnya seorang pedagang, Yaitu dia berusaha ikhlas akan tetapi dengan cara menghitung-hitung pahala terlebih dahulu. Artinya, jika suatu amal banyak mendatangkan pahala, maka dia pasti bersemangat mengerjakannya. Dengan berharap amal tersebut dapat menghapuskan dosanya serta menguntungkan dunianya.

Ketiga, Ikhlasnya seorang hamba sahaya, dia sangat takut sekali dengan ancaman dari Allah SWT., sehingga dirinya berusaha secara ikhlas di dalam berbuat apapun, hanya demi Allah SWT., dan supaya Allah SWT. tidak murka terhadapnya.

Keempat, Ikhlasnya seorang yang sangat berharap surga, balasan baik dari Allah SWT., sehingga amalan-amalan yang telah dikerjakannya betul-betul diperuntukkan untuk bekal dikehidupan kelak diakhirat, agar dirinya meraih surga, balasan tertinggi dari Allah SWT..

Kelima, Ikhlas tingkat tertinggi, yaitu Dia pasrah dnegan ketentuan Allah SWT.. Baginya dia selalu berbuat terbaik hanya demi menggapai keridhaan serta berharap cinta dari Allah SWT.. Dia hanya berkehendak utnuk dapat berjumpa dengan Allah SWT. kelak, selain dari itu terserah Allah SWT., Dia tidak begitu peduli dengan balasan Allah SWT.. Dalam artian, Cukup baginya cinta serta perasaan dengan Allah nanti.

Subhanaallah…..!,

Saudaraku…, Marilah diri ini senantiasa selalu menata keikhlasan hati, dengan memulai untuk mencoba berlatih serta terus berlatih dalam setiap kesempatan amal. Dengan hal demikian itu, semoga suatu saat diri ini dapat meraih tingkatan ikhlas yang (kelima) tertinggi. Aamiin… Ya Rabbal ‘Alamin.

 

 

Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar (Ustd. Aa Gym)
Disusun : Sa’Dullah
Redaktur : Aminatul jannah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

MutiaraPublic.com – Setiap insan itu pasti berkeinginan untuk hidup bahagia, menikmati kehidupan tanpa ia merasa terbebani oleh berbagai problematika. Dan hal ini pula hanya akan dirasakan bagi insan yang sungguh-sungguh berupaya untuk ikhlas, dalam menjaga setiap amalnya, baik amal ibadah, amal shalih, maupun amalan lainnya di dalam kehidupan bermasyarakat, tiada lain hanya bagi Allah SWT. …

Review Overview

0

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.