Syarat Penyembelihan Hewan Kurban Dalam Syariat Islam
Syarat Penyembelihan Hewan Kurban Dalam Syariat Islam (Foto ; Unta "hewan kurban")

Syarat Penyembelihan Hewan Kurban Dalam Syariat Islam

MutiaraPublic.com – Menyembelih hewan kurban itu merupakan suatu ibadah yang telah ditentukan baik itu mulai dari waktu, tempat, pelaku, obyek serta tata caranya, hal ini semuanya telah dijelaskan oleh para ahli ulama’-ulama’ fiqih yang terdahulu. Apabila seluruh syarat penyembelihan hewan kurban tersebut telah dipenuhinya, maka penyembelihan hewan kurban tersebut dianggap sah dalam Syariat Islam dan insyaallah akan diterima oleh Allah SWT.

Berbeda sekali bila dibandingkan dengan penyembelihan hewan biasa (non-kurban), dimana penyembelihan tersebut tidak terikat dengan syarat-syarat tertentu sebagaimana yang terjadi pada hewan kurban, sebab hal itu dapat dilakukan siapa saja, kapan saja waktunya, dan untuk siapa saja hewan itu dibagikan.

Saudaraku, Udhiyyah atau istilah lainnya Berkurban ini termasuk merupakan salah satu syi’ar Islam yang agung, dan ini adalah termasuk bentuk sebuah ketaatan yang paling utama. Berkurban ini juga adalah bentuk syi’ar keikhlasan kita dalam beribadah kepada Allah SWT, dan sebagai bentuk realisasi ketundukan kita terhadap perintah-Nya serta larangan-Nya. Oleh sebab itu bagi kita setiap muslim yang memiliki limpahan/ kelapangan rizki, maka hendaknya kita tersebut berkurban.

Sebagaimana Baginda Rasulullah SAW bersabda :

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu : {“Barangsiapa diantara kalian yang memiliki kelapangan (rizki), sedangkan kalian tidak berkurban, maka janganlah dekat-dekat musholla kami”} (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan al-Hakim, hadits ini adalah “mauquf”).

Saudaraku yang di rahmati Allah SWT. Diantara urusan-urusan kurban yang perlu dan harus kita ketahui sebagai seorang yang hendak ingin berkurban (seorang mudhahhi) adalah perihal syarat-syaratnya dalam penyembelihan hewan kurban. Apa saja sih yang harus dipenuhi oleh kita sebagai peng-kurban (mudhahhi) dari ibadah kurbannya tersebut:

Yang Pertama ; hewan kurban tersebut haruslah dari hewan ternak ! seperti contoh : unta, sapi, kambing atau domba. Hal ini tentunya berdasarkan dari Firman Allah SWT, yang artinya :

{“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariat-kan (mengenai) penyembelihan (kurban), agar supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzeki-kan oleh Allah kepada mereka”} (Q.S.: Al-Hajj : [34])

Bahimatul An’am (Hewan Ternak) : kambing, sapi dan unta, Ini yang pada umumnya dikenal oleh orang Arab sebagaimana yang dituturkan oleh Qatadah, Al-Hasan, dan selainnya. Atau bisa juga hewan kurban tersebut sejenis hewan sapi seperti misal “kerbau” sebab pada hakikatnya adalah sama dengan sapi, artinya kerbau juga diperbolehkan untuk di kurbankan. Maka dengan demikian sangatlah tidak sah apabila kita berkurban dengan 200 ekor ayam, atau 200 ekor bebek, sebab hal ini tidak termasuk kategori “Bahimatul An’am”.

 

Yang Kedua, Usia Hewan ternak sudah minimal mencapai umur sebagaimana yang ditentukan syariat, berikut ini :

  • Unta (minimal umur 5 tahun dan telah masuk tahun ke 6).
  • Sapi (minimal umur 2 tahun dan telah masuk tahun ke 3).
  • Kambing jenis domba atau biri-biri (umur 1 tahun, atau bagi kita yang sulit mendapatkan domba yang berumur 1 tahun Minimal umur 6 bulan. Sedangkan bagi kambing biasa/ kambing jawa (bukan jenis domba), maka minimal ber-umur 1 tahun dan kambing tersebut telah masuk tahun ke 2. Sebagaimana yang terdapat didalam kitab “Kifayatul Akhyar“.

Maka sungguh tidak sah apabila melaksanakan kurban tersebut dengan hewan yang masih belum memenuhi kriteria umur sebagaimana disebutkan dalam syariat Islam diatas, entah hewan kurban itu adalah unta, sapi ataupun kambing. Sebab dalam ajaran syariat tersebut sudah menentukan masing-masing dari standar minimal umur jenis hewan kurban yang dimaksud. Dan Apabila telah sampai pada umur sebagaimana dalam syariat atau bahkan lebih maka tidaklah mengapa, asalkan umur tidak terlalu tua sehingga dagingnya kurang begitu empuk untuk dimakan.

 

Yang Ketiga, Hewan kurban tersebut harus sehat secara fisik dan tidak mengalami empat kecacatan yang menyebabkan berkurangnya daging.

Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat hadits, sebagai berikut :

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،: ” أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي الضَّحَايَا الْعَوْرَاءُ، الْبَيِّنُ عَوَرُهَا، وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا، وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ عَرَجُهَا، وَالْكَسِيرُ الَّتِي لَا تُنْقِي “

Dari Barra’ bin Azib r.a. berkata: Rasulullah SAW. bersabda : {” Empat cacat yang tidak boleh ada pada hewan kurban ; hewan bermata juling yang sangat jelas juling-nya, hewan sakit yang sangat jelas sakit-nya, hewan pincang yang sangat jelas pincang-nya dan hewan kurus yang tidak memiliki daging otak”} (HR. Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad , dan Al-Baihaqi).

 

Semoga bermanfaat. Aamiin !

 

 

 

Oleh : Ustadz. Rahmad Hidayat
Redaktur : Babur Rahmah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

2 comments

  1. Niat qurban sebaik mungkin, ketahui syarat nya. Meskipun harga sapi dan kambing semakin naik, tak mengurangi untuk berkurban yang baik sesuai syarat hewan qurban, semoga banyak yang dapat merasakan bahagia mendapatkan qurban.

    • Team MutiaraPublic

      Terimakasih atas komentarnya saudaraku.

      Semoga Idhul Adha kali ini lebih memantapkan niat kita dalam berkurban, dan semoga Allah Meridho’i.. Aamiiin!

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

IP Blocking Protection is enabled by IP Address Blocker from LionScripts.com.