Selamatkanlah Diri Dari Kesadaran Inderawi
Selamatkanlah Diri Dari Kesadaran Inderawi

Selamatkanlah Diri Dari Kesadaran Inderawi

MutiaraPublic.com – Jika Allah SWT. bermaksud menghinakan seseorang hambanya, maka Dia hanya cukup dengan menyibukkan hambanya dalam urusan lahir dan dengan menyibukkan hambanya dengan melayani makhluk sesama, serta dalam urusan batin dengan mencintai dunia.

Maka mereka akan sentiasa seperti itu, sehingga akan terhapus cahaya hatinya (karena kelalaiannya dalam mengingati Allah Sang Pemberi Segalanya). Setelah demikian, maka cahaya mata zahir akan menguasai mata hati mereka, sehingga mereka tidak boleh melihat selain segala sesuatu yang ada pada kesadaran inderawi (tingkat kesadaran terendah dalam diri seseorang yang berfungsi ketika ia melakukan interaksi tertentu dengan lingkungannya.).

Kemudian, mereka pun bersungguh-sungguh dalam mencari rizki yang telah diberikan serta dijaminkan padanya dari Allah SWT,. Akan tetapi mereka lalai untuk menunaikan kewajibannya yang telah dituntut untuk beribadah kepada Allah SWT.

Jika puncak kesungguhan sebenarnya adalah Ketekunan, maka puncak kelalaian sebenarnya ialah Meninggalkan, dan puncak keterhapusan mata hati adalah Kebutaan, kebutaan dan kekufuran.

Sungguh dunia ini seperti Sang Thalut (Raja dari bani Israil/ Israel), tidak akan ada yang selamat dari mereka selain orang yang betul tidak meminum airnya (air syaitan) atau yang mengambil hanya segenggam tangannya bukan meminum untuk memuaskan dahagannya.

 

 

Oleh : Syeikh Zaruq r.a
Disusun : Ahmad Jailani
Redaktur : Erlinda Natalia


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

MutiaraPublic.com – Jika Allah SWT. bermaksud menghinakan seseorang hambanya, maka Dia hanya cukup dengan menyibukkan hambanya dalam urusan lahir dan dengan menyibukkan hambanya dengan melayani makhluk sesama, serta dalam urusan batin dengan mencintai dunia. Maka mereka akan sentiasa seperti itu, sehingga akan terhapus cahaya hatinya (karena kelalaiannya dalam mengingati Allah Sang Pemberi Segalanya). Setelah demikian, …

Review Overview

0

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.