Mengkaji Makna Kemerdekaan dari Pandangan Islam
Mengkaji Makna Kemerdekaan dari Pandangan Islam

Mengkaji Makna Kemerdekaan dari Pandangan Islam

MutiaraPublic.com – Pada saat ini kemerdekaan Republik Indonesia, sudah genap berusia 69 tahun. Jika Di ibaratkan seorang manusia, usia 69 tahun merupakan usia yang sudah sepuh (tua) serta sudah sewajarnya melewati beberapa fase dalam hidupnya seperti misalanya masa bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa.

Akan tetapi jika hal tersebut kita terapkan terhadapa bangsa indonesia ini, nampaknya kondisi riilnya sama sekali tidak bisa membenarkan idealita tersebut. Bahkan sepertinya bangsa ini masih berada pada fase belajar untuk dewasa. Ibaratkan manusia, pada dirinya masih terjadi pertumbuhan yang tidak normal (mengalami kelambanan dalam berfikir dan bertindak).

Lantas mengapa hal itu bisa terjadi terhadap negri ini? Itulah yang harus sama-sama kita fikirkan melalui renungan ini.

Saudaraku.., Didalam pandangan agama Islam, suatu kemerdekaan itu tidak hanya sekedar diukur dari terbebasnya sebuah bangsa ini dari kejahatan para penjajahan kolonial. Memang hal itu tidak bisa dipungkiri sebagai salah satu alat dalam mengukur kemerdekaan sejati. Karena pada kondisi terjajah membuat suatu bangsa bergantung kepada pihak yang menjajah.

Selanjutnya tidak adanya suatu kebebasan (hurriyah) bertindak serta menentukan nasib sendiri dari bangsa yang terjajah. Segala sesuatu keputusannya itu tergantung pada si penjajah. Akan Tetapi kemerdekaan yang sejati/ hakiki baru bisa dirasakan jika semua makna “penjajahan” tersebut, betul-betul berakhir dan sirna dalam kehidupan bangsa indonesia ini.

Suatu bangsa baru dikatakan merdeka yang hakiki, bila bangsa tersebut sudah bisa hidup mandiri, artinya tidak menggantungkan nasib bangsa ini kepada negara-negara lain. Wujud dari Kemandirian di sini khususnya yang menyangkut hal-hal yang general, seperti misal kemandirian politik, hukum, ideologi, ekonomi, budaya, pendidikan, dan lain sebagainya. Kemandirian itu bukan berarti tertutupnya pintu dalam bekerjasama dengan bangsa lain dalam meraih suatu tujuan yang menguntungkan bersama.

Kemandirian politik sejatinya berarti bangsa tersebut harus betul-betul bebas dalam menentukan arah, kemauan serta kebijakannya, artinya tidak dipengaruhi oleh arah, kemauan serta kepentingan pihak-pihak negara-negara maju. Kemandirian ekonomi sejatinya berarti bangsa tersebut tidak menggantungkan hidupnya serta perputaran roda perekonomiannya dari bantuan dan pinjaman dari pihak asing/ luar negeri.

Jika bangsa ini menginginkan agar umat Islam Indonesia diterapkan dalam hidup bernegara, alangkah bijaknya penguasa negeri ini harusnya mengikuti dan tunduk terhadap tuntutan rakyatnya, bukan malah mendengar gosip serta gertakan-gertakan oleh negara-negara maju yang senantiasa selalu mengkhawatirkan pelaksanaan aturan pancasila di negeri sendiri. Kemandirian hukum dari dasar negara kita lebih detail lagi. Bangsa merdeka ialah bangsa yang mampu melahirkan perundang-undangannya sendiri. Bukan menggunakan hukum produk para negara-negara penguasa dan penjajah.

Dalam suatu konsep pandangan agama Islam, kemerdekaan hendaknya diawali dari keterbebasannya sebuah Aqidah serta pola pikir bangsa dari mengikuti hawa nafsunya. Karena menurut terminologi Aqidah, hanya terdapat dua arus, yakni yang pertama: arus Allah SWT., dan yang kedua : arus Thaghut (Syaitan).

Orang yang malas mengikuti arus Allah SWT., baik sadar ataupun tidak, sudah pasti akan terkoptasi oleh arus Thaghut (syaitan). Orang beriman ialah yang membebaskan diri serta keinginannya dari segala keterikatan di luar hukum Allah SWT.. Arus Allah SWT. itu rambu-rambunya sudah nampak dan jelas baik dalam seuatu dimensi hukum, budaya, politik, ekonomi, dan lain sebagainya.

Kesemuanya itu mengancu pada ketentuan hukum Allah SWT. dalam kitab suci Al-Qur’an serta hadits nabi. Manusia berfikir, bagaimana untuk menerapkan aturan itu serta mengembangkannya ke bagian-bagian yang belum terjangkau secara harfiyah oleh sebuah aturan tersebut dengan melalui mekanisme “ijtihad”.

Manusia jangan seklai-kali berfikir ingin merubah atau lari dari aturan tersebut. Jika tidak, Konsekuensinya harus dibayar dengan biaya yang tentu sangat mahal yakni ketersesatannya di dunia serta neraka di akhirat kelak. Itulah yang terjadi pada saat ini, dimana manusia sudah kehilangan kemanusiaannya karena mengikuti hawa nafsunya Syaitan (thaghut).

Banyak sistem yang mereka (para penguasa) ciptakan dengan awal tujuannya untuk kesenangan serta kebahagiaan manusia, namun serta-merta malah berubah menjadi suatu malapetaka yang sungguh bisa mencelakakan manusia secara umum. Jadi manusia menjadi musuh dari produk-produknya sendiri. Serta ancaman mengenai kehancuran dunia bermunculan dari mana-mana, baik itu dari militer, politik, hukum, ekonomi, budaya, lingkungan, dan sendi-sendi lainnya.

Saudaraku.., di momentum Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 69 ini, sudah tiba saatnya kita khususnya umat Islam Indonesia berdamai, sadar dan taat kepada aturan-aturan Allah SWT. beserta mengikuti segala petunjuk Rasulullah SAW. dengan meretas berbagai jeratan dan ikatan Aqidah dari benak kita, kemudian kita amalkan ke lingkungan sekitarnya. Tanpa harus diombang-ambing dan dibayang-bayangi oleh perasaan ketakutan yang dihembusklan oleh para antek syaitan dan para tentara-tentaranya perihal kondisi kemajemukan bangsa, nasionalisme, kebinekaan, dan hal lain sejenisnya.

Semoga Allah SWT. selalu merahmati dan melindungi kita semua dari keangkuhan para antek-antek syaitan. Amin..!

 

 

Oleh : Ustad. Ahmad Hasan
Reporter : Didik Sugianto
Redaktur : BAbur Rahmah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

MutiaraPublic.com – Pada saat ini kemerdekaan Republik Indonesia, sudah genap berusia 69 tahun. Jika Di ibaratkan seorang manusia, usia 69 tahun merupakan usia yang sudah sepuh (tua) serta sudah sewajarnya melewati beberapa fase dalam hidupnya seperti misalanya masa bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa. Akan tetapi jika hal tersebut kita terapkan terhadapa bangsa indonesia ini, nampaknya …

Review Overview

0

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

IP Blocking Protection is enabled by IP Address Blocker from LionScripts.com.