Kesempurnaan Iman (77 Cabang Iman)
Kesempurnaan Iman (77 Cabang Iman)

Kesempurnaan Iman (77 Cabang Iman)

قال النبى صلى الله عليه والسلم : الايمان بضع وسبعون شعبة فأفضلها قول لااله الاالله وأدناهااماطة الأدى عن الطريق والحياء شعبة منالايمان, رواه المحدثون

 

{” Rasulullah SAW., bersabda ; “Iman (itu) mempunyai lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang (tersebut) yang paling (sangat) tinggi yaitu perkataan ‘La ilaha illallah’ (tauhid), serta yang paling (amat) rendah yaitu menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang (sebagaian) iman “} (HR. Bukhari, Muslim).

MutiaraPublic.com – Seperti pula yang telah dijelaskan oleh Imam Nawawi Banten ; Bahwasanya amal perbuatan seseorang hamba Allah SWT., yang menunjukkan kuatnya iman atau sempurnanya iman mereka, (adalah) yang mengerjakan cabang iman, sebanyak 77 cabang. Jadi pada intinya pasang surut iman seseorang itu tergantung dari 77 cabang iman.

ايماننا بضع وعين شعبة # يستكملنها اهل فضل يعظم

 

{” Iman kita (sebagai hamba Allah) ada 77 cabang, barang siapa, yang dapat (mampu) mengerjakannya, dialah ahli keutamaan yang sempurna “}.

Berikut Ke 77 cabang (cabang iman) tersebut :

  1. Iman kepada Allah SWT. (Subhanahu Wa Ta’ala)
  2. Iman kepada seluruh para malaikat Allah SWT.
  3. Iman kepada para rasul Allah (seluruhnya)
  4. Iman kepada Al-Qur’an serta segenap kitab suci (termasuk) yang telah diturunkan Allah sebelumnya
  5. Iman bahwasanya qadar  “yang baik ataupun yang buruk” yakni berasal dari Allah SWT.
  6. Iman kepada Hari Akhir (Hari Kiamat)
  7. Iman kepada Hari Kebangkitan (dari kubur)
  8. Iman kepada Hari (dimana) akan Dikumpulkannya seluruh Manusia setelah mereka dibangkitkan dari kubur
  9. Iman bahwasanya tempat kembalinya mukmin adalah Syurga, serta bahwasanya tempat kembali orang-orang kafir adalah Neraka
  10. Iman kepada wajibnya (kita) mencintai Allah SWT.
  11. Iman kepada wajibnya (kita) takut kepada Allah SWT.
  12. Iman kepada wajibnya (kita) berharap kepada Allah SWT.
  13. Iman kepada wajibnya (kita) bertawakkal kepada Allah SWT.
  14. Iman kepada wajibnya (kita) mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW.
  15. Iman kepada wajibnya (kita) mengagungkan dan memuliakan Nabi SAW.
  16. Cinta kepada din (taat, tunduk, dan berserah diri pada Allah), sehingga (kita) lebih suka terbebas dari Api Neraka dari pada kafir
  17. Menuntut ilmu, yakni ilmu (bersifat) syar’i
  18. Menyebarkan ilmu, berdasarkan firman Allah SWT ; {” Agar engkau menjelaskannya kepada manusia serta tidak menyembunyikannya “}
  19. Mengagungkan Al-Qur’an, dengan (cara) mempelajari serta mengajarkannya, mengetahui halal haramnya, menjaga hukum-hukumnya, takut pada ancaman-ancamannya (sesuai yang terkandung dalam Al-Qur’an), serta memuliakan para ahli dan huffazh-nya
  20. Thaharah (suci atau bersih)
  21. Sholat lima waktu (wajib)
  22. Zakat
  23. Puasa (diwajibkan pada saat bulan Ramadhan)
  24. I’tikaf
  25. Haji
  26. Jihad
  27. Menyusun kekuatan fii sabilillah
  28. Tegar di hadapan musuh, tidak lari dalam keadaan medan peperangan
  29. Menunaikan khumus
  30. Membebaskan budak (hamba sahaya) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.
  31. Menunaikan kaffarat wajib (kaffarat sumpah, kaffarat pembunuhan, kaffarat ber-setubuh di bulan Ramadhan, kaffarat zhihar) demikian juga fidyah (fidyah adalah memberikan makan kepada orang fakir/ miskin, karena dia tidak mengerjakan puasa disebabkan ada alasan-alasan syar’i)
  32. Menepati akad (kesepakatan perjanjian)
  33. Mensyukuri nikmat Allah SWT.
  34. Menjaga lisan
  35. Menunaikan amanah (segala sesuatu yang dibebankan Allah SWT kepada kita (hambanya) untuk dilaksanakan)
  36. Tidak melakukan pembunuhan serta berbagai kejahatan terhadap jiwa manusia
  37. Menjaga kehormatan serta kemaluan diri kita
  38. Menjaga diri (kita) dari mengambil harta orang lain secara bathil (kebatilan)
  39. Menjauhi mengkonsumsi makanan serta minuman haram, dan juga bersikap wara’ (menahan diri dari  dan merasa risih) dalam masalah tersebut
  40. Menjauhi perhiasan, pakaian, serta perabotan yang tentu diharamkan oleh Allah SWT.
  41. Menjauhi permainan serta hal-hal yang (bersifat) sia-sia yang bertentangan dengan syari’at Islam
  42. Sederhana dalam penghidupan (nafkah) serta menjauhi harta yang tidak halal (haram)
  43. Tidak benci, dengki dan iri
  44. Tidak menyakiti atau mengganggu manusia (orang lain)
  45. Ikhlas dalam beramal (hanya) karena Allah SWT. semata, dan tidak riya’
  46. Sedih dan menyesal dengan hal keburukan, Senang dan bahagia dengan hal kebaikan
  47. Segera bertaubat ketika (kita) berbuat dosa
  48. Berkurban (idul adh-ha, hadyu, aqiqah)
  49. Menaati ulil amri (pemerintah)
  50. Berpegang teguh pada jamaah
  51. Menghukumi diantara manusia dengan se adil-adilnya
  52. Amar ma’ruf nahi munkar
  53. Tolong-menolong dalam hal kebaikan serta taqwa
  54. Malu
  55. Berbakti kepada kedua orang tua
  56. Menyambung kekerabatan (bersilaturrahim)
  57. Berakhlaq mulia
  58. Berlaku ihsan kepada para budak (hamba sahaya)
  59. Budak (hamba sahaya) yang menunaikan kewajibannya terhadap majikannya
  60. Menunaikan kewajiban terhadap keluarga (anak dan isteri)
  61. Mendekatkan diri kepada ahli din (bisa disebut ulama), mencintai mereka, dan menyebarkan salam diantara mereka
  62. Menjawab salam
  63. Mengunjungi orang yang sakit
  64. Mensholati orang yang sudah meninggal (mayit) yang beragama Islam
  65. Mendoakan orang yang bersin
  66. Menjauhkan diri dari para orang kafir serta bagi para pembuat kerusakan, serta bersikap tegas terhadap mereka semua
  67. Memuliakan tetangga
  68. Memuliakan tamu
  69. Menutupi kesalahan (dosa) orang lain
  70. Sabar terhadap segala musibah ataupun kesenangan dan kelezatan
  71. Zuhud sert tidak panjang angan-angan
  72. Ghirah dan Kelemahlembutan
  73. Berpaling dari perkara yang sia-sia
  74. Berbuat yang terbaik
  75. Menyayangi terhadap yang lebih muda serta juga menghormati yang lebih tua
  76. Mendamaikan yang bersengketa
  77. Mencintai sesuatu untuk saudaranya sebagaimana ia juga mencintai mereka (saudara) untuk dirinya sendiri, dan membenci sesuatu untuk saudaranya yang sebagaimana ia juga membencinya untuk dirinya sendiri

 

 

Disadur dari : Kitab Qomi’ Al-Thughyan ‘ala Manzhumati syu’ub Al-Iman, syarah al-muhqiq Al-Syech Muhammad Nawawi bin Umar lil-imami al-‘allamah Al-Syech Zainuddin bin Ali bin Ahmad Al-Syafi’i Al-Kusyini Al-Malyabari.

 

 

Editor : Didik Sugianto
Redaktur : Babur Rahmah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

قال النبى صلى الله عليه والسلم : الايمان بضع وسبعون شعبة فأفضلها قول لااله الاالله وأدناهااماطة الأدى عن الطريق والحياء شعبة منالايمان, رواه المحدثون   {” Rasulullah SAW., bersabda ; “Iman (itu) mempunyai lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang (tersebut) yang paling (sangat) tinggi yaitu perkataan ‘La ilaha illallah’ (tauhid), serta yang …

Review Overview

0

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

IP Blocking Protection is enabled by IP Address Blocker from LionScripts.com.