Tasbih Raksasa Lebih Dari 350 Tahun, Jejak Islam !
Tasbih Raksasa Lebih Dari 350 Tahun, Jejak Islam !

Tasbih Raksasa Lebih Dari 350 Tahun, Jejak Islam !

MutiaraPublic.com – Tasbih dengan ukuran panjang 38 meter serta dengan isi 3.300 butir biji manjakani, seolah-olah menjadi suatu cagar budaya di kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Tasbih tersebut telah menjadi jejak peradaban Islam yang pertama di tanah Mandar (sulawesi barat).

Meski usianya kini diperkirakan telah berumur lebih dari 350 tahun, namun hingga kini tasbih itu masih terpelihara dengan baik. Supaya benda sejarah tersebut tidak cepat mengalami kerusakan, maka tasbih yang biasa dipakai pada setiap menggelar upacara di mulai dari maulid nabi, khataman, khitanan, aqiqah hingga pesta kematian itu. Kini Tasbih raksasa tersebut hanya dikeluarkan pada bulan suci Ramadhan saja.

Muslimin (salah satu cucu dari keturunan Abdul Kadir yang juga bertangggungjawab untuk merawat dan memelihara tasbih raksasa) mengungkapkan : { Untuk memperpanjang umur tasbih ini, kita hanya mengeluarkannya pada bulan suci Ramadhan saja.}

Pada bulan suci ramadhan kali ini, tasbih raksasa peninggalan Abdul Kadir, yaitu ulama penyebar Islam di tanah Mandar, sulawesi barat itu kini pada bulan puasa, dikeluarkan lagi. Para Jamaah Masjid Nurul Hidayah, Kecamatan Binuang akan memakainya (tasbih raksasa) untuk berzikir seusai shalat lima waktu serta shalat sunnah tarawih berjamaah selama bulan suci Ramadhan ini.

Sambil duduk melingkar, para jamaah masjid ini melafalkan kalimat {la ilaha illallah} hingga 3.300 kali atau sebanyak biji tasbih tersebut. Tak hanya orang tua, kalangan remaja serta bahkan anak-anak pun turut berzikir bersama-sama. Konon menurut riwayat setempat, jika berzikir berjamaah seperti ini, Insyaallah Tuhan Yang Maha Esa akan menurunkan berkah dan keselamatan bagi warga kampung tersebut.

Dalam sejarahnya pula, Ulama’ Abdul Kadir dikenal sebagai sosok ulama yang memiliki jiwa kharismatik. Selain ia meninggalkan ribuan pengikutnya, tasbih raksasa dari biji manjakani ini juga menjadi salah satu peninggalannya.

Menurut Muslimin, tasbih tersebut dibuat oleh Abdul Kadir di waktu pertama kalinya ia menyebarkan syiar Islam pada Kerajaan Binuang sekitar kurang lebih 350 tahun yang lalu.

Sepeninggal Abdul Kadir, tasbih raksasa tersebut kini telah dimiliki serta dirawat secara turun-temurun oleh para anak cucunya. Pada zaman penjajahan Belanda, Ucap Muslimin, benda sejarah ini pernah ditanamkan di dalam tanah karena takut diambil oleh para penjajah Belanda.

Petugas dari Balai Sejarah dan Benda Purbakala , sebenarnya sudah meminta supaya Muslimin menyerahkan tasbih raksasa tersebut untuk disimpan di museum, Akan tetapi Muslimin menolaknya, sebab menurut dia setiap tahun tasbih raksasa ini selalu dipakai oleh jamaah di bulan suci Ramadhan.

Sayang sebagian dari jumlah 3.300 biji tasbih tersebut, yang semula seluruhnya terbuat dari biji manjakani, sayangnya dicuri oleh orang- orang yang tidak bertanggung jawab. Siapakah pencurinya serta untuk apa mereka mencuri…? tak seorang pun tahu.

Akan Tetapi Supaya jumlahnya tetap 3.300 biji, sebagian biji tasbih raksasa tesebut, terpaksa diganti dengan biji dari kayu yang ukurannya sama dengan biji aslinya, serta biji tasbih tersebut didatangkan khusus dari negara Mesir.

 

Disusun : Sa’Dullah
Redaktur : Aminatul Jannah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

MutiaraPublic.com – Tasbih dengan ukuran panjang 38 meter serta dengan isi 3.300 butir biji manjakani, seolah-olah menjadi suatu cagar budaya di kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Tasbih tersebut telah menjadi jejak peradaban Islam yang pertama di tanah Mandar (sulawesi barat). Meski usianya kini diperkirakan telah berumur lebih dari 350 tahun, namun hingga kini tasbih itu …

Review Overview

0

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.