Kemenag Hindari Perbedaan Mengenai Kriteria Hilal
Kemenag Hindari Perbedaan Mengenai Kriteria Hilal

Kemenag Hindari Perbedaan Mengenai Kriteria Hilal

MutiaraPublic.com – Umat Islam di Indonesia sering berbeda dalam hal penentuan awal bulan Ramadan, Syawal dan bulan Dzulhijjah, karena perbedaan itulah dilakukan metode serta standar hilal (perihal penetapan bulan baru). Dalam memperkuat persatuan dan kesatuan, Kemenag (Kementrian Agama) serta berbagai ormas Islam telah bersepakat untuk segera menyamakan pandangan mengenai kriteria-kriteria hilal tersebut.

{” Dalam sidang isbat tadi pada pukul 19.30 WIB (27/072014) Bersepakat untuk merekomendasikan kepada pemerintah dalam hal ini adalah Kemenag bersama ormas-ormas Islam serta MUI (Majelis Ulama Indonesia) untuk mengadakan beberapa pertemuan intensif perihal rumusan dalam menentukan kriteria hilal dan definisinya “} ungkap Menteri Agama (Lukman Hakim Saifudin), Minggu (27/7/2014).

Dengan musyawarah serta merumuskan bersama mengenai soal kriteria hilal dan definisinya. Menteri Agama mengungkapkan bahwa untuk menentukan tanggal 1 Ramadan, 1 Syawal, serta 1 Dzulhijjah akan lebih baik dan akan lebih sempurna.

{” … Sehingga kita (Umat Islam Indonesia) bersama-sama dalam menjalankan ibadah agmanya dapat dilakukan dengan baik “} ucap Lukman Hakim Saifudin.

Kita ketahui selama ini, perbedaan perihal penetapan pelaksanaan awal Ramadan, Syawal serta Dzulhijjah disebabkan kriteria hilal dan perbedaan metode yang digunakan. Pemerintah (Kementrian Agama) bersama mayoritas ormas-ormas Islam telah menggunakan metode hisab (penghitungan matematika) dan juga menggunakan rukyatul hilal (pengamatan bulan baru atau bulan sabit). Dalam pandangan ini, hisab tetaplah dipakai sebagai informasi awal yang perlu dikonfirmasi lebih lanjut (detail) melalui rukyatul hilal. Hilal dinyatakan bisa dilihat jikalau ia berada pada ketinggian di atas 2 derajat (di atas ufuk).

Sementara paham Muhammadiyah, yang selama ini telah menggunakan cara/ metode hisab wujudul hilal hakiki. Dalam pandangan kali ini, yang kedua ini, hilal pada dasarnya bisa diprediksi kemunculannya dengan melalui metode hisab, atau disebut dengan imkanur rukyat (kemungkinan dapat dilihat), tanpa harus melakukan metode rukyatul hilal secara langsung. Dalam artian, berapapun ketinggian hilal, asalkan di atas nol derajat di atas ufuk, maka itu sudah dapat diartikan/ dikatakan bulan baru. Meskipun hal itu belum mencapai 2 derajat. Menurut paham Muhammadiyah, tidaklah diperlukan lagi rukyatul hilal itu.

Dalam sidang isbat kali ini yang telah digelar pada pukul 19.30 (27/072014), sebanyak 9 saksi dari tiga tempat telah melaporkan bahwa mereka melihat hilal di ketinggian di atas 2 derajat. Terdapat 111 lokasi pemantauan hilal di seluruh kawasan Indonesia. diantara ketiga lokasi tersebut yaitu Pelabuhan Ratu Sukabumi -Jawa Barat, Gresik – Jawa Timur, dan yang terakhir yaitu Kolaka, Sulawesi Tenggara.

 

 

Reporter : Sa’Dullah
Redaktur : Aminatul Jannah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

MutiaraPublic.com – Umat Islam di Indonesia sering berbeda dalam hal penentuan awal bulan Ramadan, Syawal dan bulan Dzulhijjah, karena perbedaan itulah dilakukan metode serta standar hilal (perihal penetapan bulan baru). Dalam memperkuat persatuan dan kesatuan, Kemenag (Kementrian Agama) serta berbagai ormas Islam telah bersepakat untuk segera menyamakan pandangan mengenai kriteria-kriteria hilal tersebut. {” Dalam sidang …

Review Overview

0

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.