Kajian Mistis 1 Suro Dalam Persepektif Islam
Kajian Mistis 1 Suro Dalam Persepektif Islam

Kajian Mistis 1 Suro Dalam Persepektif Islam

MutiaraPublic.com – Suatau peristiwa penting, hijrahnya baginda Rasulullah SAW. serta umat Islam dari kota Makkah menuju ke kota Madinah, lantaran dakwah yang dilakukan oleh baginda Rasululah SAW. di kota Makkah pada waktu itu banyak sekali yang mengalami berbagai rintangan, tantangan bahkan ancaman yang ditimbulakan dari para kelompok/ kaum musyrikin serta para kafir Quraisy.

Dakwah baginda Rasulullah SAW. yang dilaksanakan dalam kurun waktu 12 tahun di kota Makkah pada waktu itu beliau sama sekali tidak mendapatkan sambutan dari para kelompok kafir Quraisy, bahkan yang trjadi malah sebaliknya baginda Rasulullah SAW. sering sekali mendapat berbagai ancaman, terror, hinaan dan cacian dari para kaum musyrikin dan kafir Quraisy tersebut. dibawah kepimpinan paman Rasulullah sSAW. sendiri yakni Abu Lahab.

Supaya untuk menghindar dari makin maraknya korban yang berjatuhan di kalangan para kaum muslimin, maka Allah SWT. memberikan perintahnya kepada baginda Rasulullah SAW. untuk segera melakukan hijrah atau pindah dari kota Makkah menuju ke kota Madinah.

Pelaksnaan dalam berhijrah pun tidak segampang (semudah) apa yang dibayangkan, terdapat banyak tantangan, rintangan serta berbagai hambatan dari kelakuan para kaum kafir Quraisy tersebut. Akan tetapi, dengan kewaspadaan serta kehati-hatian yang tinggi oleh baginda Rasulullah Muhammad SAW. yang memerintahkan kepada para kaum muslimin supaya dalam perjalanan menuju ke kota Madinah tersebut dilakukan/ dilaksanakan secara tertutup (rahasia).

Setelah melihat secara seksama bahwasanya sudah banyak para umat muslimin yang sudak berhijrah menuju ke kota Madinah, dan para kaum musyrik serta kelompok kafir Quraisy di Makkah telah melhat dan berfikir bahwasanya baginda Rasulullah SAW. telah di campakkan dan ditinggalkan oleh sebagian besar sahabatnya. Kemudian mereka (para kaum kafir itu) pun berencana untuk segera menghabisi (membunuh) baginda Rasulullah SAW., dengan cara mengirimkan para pemuda pilihan untuk mengeksekusi/ melaksankan pembuhuhan tersebut.

Pada waktu malam itu sebelum baginda Rasulullah SAW keluar dari rumahnya, beliau telah meminta kepada sahabatnya yakni Ali Bin Abi Tholib untuk segera menempati tempat tidurnya Rasulullah SAW dan menutup tubuhnya (Ali Bin Abi Tholib) dengan selimutnya Rasulullah SAW. Dan sengguh dengan kekuasaan dari Allah SWT, para pemuda pilihan kafir Quraisy tersebut semuanya tertidur pulas sehingga baginda Rasululloh SAW. pun dapat keluar dari rumahnya dengan selamat.

Selanjutnya, kemudian baginda Rasulullah SAW. menuju langsung ke rumah Sayyidina Abu Bakar Asshiddieq RA. yakni sahabatnya. Dari sana perjalanannya antara dua per tiga malam, selanjutnya baginda Rasulullah SAW bersama sahabatnya itu keluar menuju Gua Tsur. Di tempat itulah mereka berdua kemudian bersembunyi selama waktu 3 hari, dan setelah itu barulah mereka melanjutkan perjalanannya menuju ke kota Madinah. Di kota Madinah, Rasulullah SAW. beserta para sahabatnya telah mendapat sambutan hangat oleh para kaum Anshar (yakni penduduk asli Madinah).

Berpusat dari kota Madinah inilah, ajaran agama Islam pun sangat mengalami perkembangan yang amat sangat pesat. Hanya dalam kurun waktu yang mungkin relatif sangat singkat yaitu kurang lebih antara 8 tahun ajaran agama Islam pun sudah mulai bergema bahkan ke seluruh penjuru dunia ini.

Momentum kejadian/ peristiwa hijrah tersebut dijadikan sebagai titik awal dalam perkembangan agama Islam serta pendirian (pembentukan) masyarakat madani yang dibangun oleh baginda Rasulullah SAW. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan jikalau Khalifah Umar bin Khattab membentuk dan mengukuhkan peristiwa hijrah itu sebagai awal dari perhitungan tahun (kalender) baru agam Islam, yang kemudian ini kita dikenal dengan Tahun Baru Hijriah,

Dari sisi lain bahwa bulan Suro, terutama di malam pada tanggal 1 Suro di beberapa kawasan/ wilayah Indonesia memiliki aura tersendiri, malam 1 Suro ini yang acap kali dianggap sebagai malam dengan bernuansa mistis.

Oleh sebab itu sebagian warga masyarakat yang sudah mempercayai aura kemistisan tersebut seringkali membuat berbagai ritual-ritual seperti halnya memandikan berbagai benda pusaka misal; keris, tombak, batu, dan pusaka lainnya, dan pada malam tersebut mereka melarang keras untuk melaksanakan berbagai acara pesta apalagi pesta pernikahan, biasanya mereka melaksanakan berbagai tirakat dengan cara begadang semalam suntuk, serta mengerjakan (menjalankan) kirab Tumuruning Mahesa Suro, kirab malam 1 Suro, ritual Telaga Ngebel Ponorogo, ritual Batara Kathong Ponorogo, dan ritualritual lainnya.

Sebagian masyarakat kita pun memahami bahwasanya bulan Suro (malam 1 Suro) tersebut sebagai bulan yang penuh kesialan, Hal inilah yang telah menyebabkan mereka berkeyakinan bahwasanya pada bulan Suro tersebut dilarang untuk melakukan berbagai pesta khususnya dalam pernikahan.

Saudaraku, keyakinan yang sama sekali tidak memiliki dasar inilah yang bisa menyesatkan kita, karena pada bulan Suro (bulan Muharram) tersebut justru memiliki makna sebaliknya (terbalik dari pemikiran masyarakat kita). Bulan Muharram itu sendiri justru memiliki makna dan arti suatu kegembiraan, dimana hal tersebut juga dapat diartikan bahwa pada dasarnya bulan Muharram atau Suro itu merupakan sebuah bulan yang mendatangkan kegembiraan bagi seluruh umat Islam.

Jika dikaji dalam persepsi Islam bahwa semua hari itu adalah baik dan tidak ada waktu, tanggal, atau bulan yang dapat membawa kesialan pada manusia. Jika keluar (muncul) mitos yang menyesatkan mengenai bulan Suro, hal itu tentunya tidak lepas dari sisi latar belakang sejarah pada jaman kerajaan/ nenek moyang kita tempo dulu.

Untuk sekedar diketahui bahwasanya 1 Muharram Tahun baru Islam ini diambil dari suatu peristiwa mengenai hijrahnya para kaum muslimin dari kota Makkah menuju ke kota Madinah, bertujuan untuk menghindari jatuhnya para korban oleh berbagai serangan kaum musyrikin dan juga kafir Quraisy pada waktu itu.

Sedangkan pada Ritual membersihkan pusaka keraton pada jaman dahulu tersebut menjadi sebuah tradisi yang sangat menyenangkan bagi masrakyat yang pastinya masih haus dengan berbagai hiburan. Sehingga melalui kekuatan kharisma keraton maka dibuatlah stigma mengenai angkernya di bulan Suro tersebut.

Sehingga jika pada bulan Suro (malam 1 Suro) masyarakat mengadakan berbagai hajatan khususnya pesta pernikahan, akan dapat berdampak sepinya ritual yang diadakan oleh keraton. dan tentunya efeknya akan mengurangi legitimasi serta kewibawaan dari keraton tersebut, yang pada waktu itu merupakan sumber dari segala hukum.

Mitos mengenai keangkeran pada bulan Suro ini pun sangat kuat dihembuskan, tujuannya supaya rakyat/ masyarakat akan percaya dan tidak mengadakan berbagai kegiatan yang dapat menganggu ritual atau acara keraton. Namun sangat disayangkan mitos tersebut hingga sekarang ini masih sangat kuat dipegang oleh sebagian orang/ golongan. Sehingga masyarakat pun pada bulan Suro ini tidak berani membuat dan mengadakan sebuah aktivitas sebab sudah dianggap akan bisa membawa sial bagi mereka.

Biasanya pada tanggal 1 Suro ini merupakan saat terjadinya bulan purnama, serta pada bulan purnama ini sangat penuh dengan nuansa mistis, mungkin hal ini juga yang dijadikan dasar kenapa pada malam 1 Suro tersebut memiliki kekuatan mistis.

Keyakinan seperti itu tentunya merupakan keyakinan tanpa dasar dalam ajara agama Islam serta hanya dilandasi dengan perkataan orang tua terdahulu dan juga berdasarkan perintah para leluhur tanpa dapat menunjukkan sebuah dalil secara agama maupun akal/ logika.

Saudaraku, kita sebagai Umat Islam seharusnya memaknai bulan Suro ini sama saja dengan hari-hari lainnya, artinya tidak ada pantangan untuk melaksanakan berbagai perayaan apakah itu pernikahan atau khitanan.

Dan selayaknya kita  patut meyakini akan kuasa Allah SWT. yang telah membuat dan menjadikan semua hari, tanggal, bulan bahkan tahun itu adalah baik. Yang kita perlu kerjakan disini adalah bagaimana kita bisa berbuat serta bertindak, apakah tindakan dan perbuatan kita ini sudah sesuai dengan ajaran agama Islam. Saudaraku, selama kita mengerjakan hal kebaikan maka Insya Allah dimanapun dan kapanpun hal yang dilakukan tersebut  pasti akan memberikan manfaat yang baik pula bagi kita.

 

 

Oleh : Ustad Ahmad Hasan
Redaktur : Aminatul Jannah

 


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

MutiaraPublic.com – Suatau peristiwa penting, hijrahnya baginda Rasulullah SAW. serta umat Islam dari kota Makkah menuju ke kota Madinah, lantaran dakwah yang dilakukan oleh baginda Rasululah SAW. di kota Makkah pada waktu itu banyak sekali yang mengalami berbagai rintangan, tantangan bahkan ancaman yang ditimbulakan dari para kelompok/ kaum musyrikin serta para kafir Quraisy. Dakwah baginda …

Review Overview

0

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.