Radikalisme ISIS - Katakan Tidak Untuk ISIS
Radikalisme ISIS - Katakan Tidak Untuk ISIS

Radikalisme ISIS

MutiaraPublic.com – Berawal dari serangan 11 September yang dilakukan oleh salah satu kelompok islam A-Qaida, Amerika dan sekutunya memiliki momentum untuk mengarahkan bala tentara dilengkapi dengan segala kecanggihan alat perangnya, menyerang timur tengah sampai ditangkap dan dihukum mati para pentolan Al-Qaidah, terkecuali pemimpinnya Usamah Bin Laden. Tidak berhenti disitu, Amerika dengan sekutunya melakukan invasi besar-besaran ke Irak. Ketika itu masih di bawah kepemimpinan Sadam Husain. Dengan menggemborkan isu mencari senjata pemusnah masal yang tidak terbukti adanya. Invansi yang dilakukan Amerika dengan sekutunya tersebut bukan menjadi penyelesaian perdamaian di kawasan Timur-Tengah, namun malah melahirkan masalah baru yang terus berkelanjutan dikemudian hari.

Tidak lama ini, perhatian dunia internasional mengarah pada kelompok Islam yang oleh kalangan Eropa dan Amerika disebut sebagai gerakan Islam radikal yang berjuluk; “Islamic State in Irak and Syam” Tujuan gerakan yang dikenal juga dengan sebutan ISIS ini tidak jauh berbeda dengan aliran-aliran radikal lainnya, yaitu mendirikan Negara Islam.

Gerakan ISIS bermula dari perjuangan rakyat yang ingin membebaskan negerinya dari kungkungan Amerika dan sekutunya. Hanya saja pada perkembangan berikutnya arah dan tujuan gerakan ini berbelok jauh. Di bawah kepemimpinan Abu Bakr Al-Baghdadi, ISIS bertujuan untuk menaklukkan dan menyatukan wilayah Suriah, Irak, Mesir, Lebanon, Jordania, dan Israel menjadi Negara kesatuan di bawah bendera khalifah. Yaitu sebuah kerajaan yang me-nerapkan hukum Islam secara penuh dalam menjalankan pemerintahan Negara. Bukan tidak mungkin, penaklukkan dilanjutkan keseluruh penjuru dunia.

ISIS menjadi sebuah kekuatan baru yang siap melancarkan perlawanan sengit terhadap rezim yang berkuasa yang dianggap tidak mampu mengemban misi terbentuknya Negara Islam. Ironisnya, mereka mengabsahkan kekerasan untuk menindas kaum minoritas dan menyerang rezim yang tidak sejalan dengan paradigma Negara Islam. ISIS menjadi kekuatan politik riil dengan ideologi brutal yang ditempu dengan cara-cara kekerasan.

Seperti yang telah dimuat di berbagai media, sejak bulan Februari 2014 ISIS telah memberontak Irak dan Suriah, dan telah menewaskan ribuan orang. Data yang dilansir dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan lebih dari 2.400 warga Irak yang mayoritas warga sipil tewas sepanjang juni 2014. Jumlah korban tewas ini merupakan yang terburuk dari aksi kekerasan di Irak dalam beberapa tahun terakhir. Aksi Negara Irak dan Suriah (ISIS) ini telah menyebabkan tak kurang dari 30.000 warga kota kecil di Timur Suriah harus mengungsi. Fenomena ini menyatakan bahwa kekerasan atau peperangan telah dijadikan semacam budaya di Timur-Tengah. Mereka melancarkan serangan demi kepentingan kelompok tertentu, walaupun harus mengorbankan masyarakat sipil. Ironisnya, kebiadaban ini justru dilakukan dengan mengatasnamakan Islam dengan symbol kalimat thoyibah.

Agama yang pada dasarnya memiliki nilai-nilai humanis, tidak pernah mengajak penganutnya untuk melakukan kekerasan atau melakukan kerusakan dalam kehidupan. Dari fakta yang ada, perilaku sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam itu sungguh jauh dari ajaran Islam, bahkan tidak mencerminkan nilai-nilai substantive Islam. Dalam persepektif Islam, Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa Risalah menjelaskan bahwa Islam adalah rahmat dan berkah bagi alam semesta. Islam merupakan agaman kedamaian yang mengajarkan sikap berdamai dan mencari perdamaian. Islam tidak pernah membenarkan praktek penggunaan kekerasan dalam menyebarkan agama, paham keagamaan, serta paham politik, karena dalam islam tidak mengenal unsur paksaan. Dari sini tampak jelas bahwa inti permasalahannya bukan terletak pada ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, tetapi karena cara pandang manusia yang sepenggal dan searah. Apabila ada kekerasan, apalagi itu mengatasnamakan Islam, maka yang perlu dipertanyakan adalah sejauh mana pemahaman meraka mengenai ajaran Islam, atau jangan-janngan mereka hanya mengambil aspek-aspek tertentu atas dasar kepentingan tertentu pula, dan mereduksi nilai substansial Islam yang lain.

Kita tidak sedang mempermasalahkan berdirinya Khilafah Islamiyah sebagai dasar Negara, yang di dalamnya menerapkan Syariat Islam. Bahkan sebagai umat Islam, kita mendambakan agama yang kita peluk ini menjadi agama universal, dipeluk dan diikuti oleh semua lapisan. Tetapi untuk mewujudkan impian romantis itu tidak lantas menggunakan cara-cara radikal. Dalam sejarah, Rasulullah SAW selalu mengajarkan umatnya untuk bersikap lemah lembut, bahkan penyebaran ajaran Islam dilakukan dengan cara-cara santun dan lemah lembut, memberikan penghormatan kepada orang lain meski mereka adalah orang yang memiliki keyakinan yang berbeda. Metode santun ini juga diterapkan oleh para penyebar Islam di Bumi Nusantara ; utamanya adalah “Wali Songo”. Hingga saat ini, model-model dakwah Wali Songo yang ramah lingkungan itu masih belum ada yang menandingi keampuhannya, hingga menuai kesuksesan yang luar biasa; Islam menjadi agama mayoritas penduduk Indonesia, bahkan menjadi Negara yang paling banyak dihuni oleh pemeluk Islam di dunia saat ini.

Dampak yang ditimbulkan dari radikalisme ISIS adalah mewabahnya kebencian dan merebaknya perilaku-perilaku anarkis dan kasar. Ajaran dan metode dakwah mereka tidak ramah realitas, kurang menghargai pendapat pihak lain, mengklaim apa yang dilakukan itu adalah yang paling benar, dan pada puncaknya mereka dengan mudah mengkafirkan orang lain serta menghalalkan darah dan harta lawan-lawannya, meskipun itu sesama muslim.

Radikalisme yang berkembang saat ini tidaklah muncul secara kebetulan. Lahir dan perkembangan bukan hanya dikerenakan oleh sebab. Menurut Ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), Ahmad Bagja, radikalisme muncul karena ketidakadilan yang terjadi di dalam masyarakat. Kondisi tersebut bisa saja disebabkan oleh Negara maupun kelompok lain yang berbeda paham, juga keyakinan. Pihak yang merasa diperlakukan secara tidak adil, lalu melakukan perlawanan. Lemahnya pengetahuan tentang hakekat Agama. Dan tindak kekerasan dan sisaan juga memicu seseorang untuk berbuat radikal.

Upaya untuk mencegah radikalisme antara lain adalah mengembangkan karakter Tawassuth, Tawazun, dan  Tasamuh. Pertama Tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Kedua Tawazun atau seimbang dalam segala hal, termasuk dalam penggunaan dalil ‘aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits). Ketiga I’tidal yang berarti tegak lurus, yaitu menegakkan keadilan. Selain ketiga prinsip itu, Keempat perlunya mengamalkan sikap Tasamuh yang berarti memiliki toleransi, yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Yusuf Qardhawi (2009:24) menyatakan bahwa Islam adalah sebuah manhaj yang moderat dalam segala sesuatu, baik dalam konsep, keyakinan, ibadah, akhlak dan prilaku, muamalah dan syariat. Sikap moderat merupakan salah satu karakteristik mendasar yang digunakan Allah SWT untuk membedakan dari umat lainnya.

Radikalisme yang merupakan paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan social dan politik dengan cara kekerasan tidaklah sesuai dengan ajaran Islam. Dalam Al-Qur’an dan Hadits sendiri memerintahkan umatnya untuk saling menghormati dan menyayangi serta bersikap lemah lembut kepada orang lain meskipun orang itu penganut agama lain apalagi sesama muslim. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian, yang mengajarkan bagaimana sikap berdamai, dan mencari banyak kawan bukan lawan !

 

 

 

Oleh : Fajar Dewi Arum Mei
Redaktur : Aminatul Jannah


DMCA.com Protection Status
* Silahkan anda sebar-luaskan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber : www.MutiaraPublic.com

Komentar Anda

Alamat Email Anda tidak akan Kami Publikasikan. Isian yang wajib diisi ditandai *

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.